Suara Nurani Bicara Sebenarnya

Mei 24, 2008

Bill Gates Kembali dari Indonesia, Steve Ballmer Ditimpuk Telur di Hungaria

Masih kita ingat beberapa waktu lalu Bill Gates datang ke Indonesia menawarkan bantuan pendidikan komputer khususnya untuk guru dan siswa Indonesia. Mantan CEO Microsoft yang terkenal dengan Windows nya itu tampaknya masih getol ingin memberikan ‘leverage’ bagi penetrasi software legal Microsoft khususnya Windows dan Office yang harganya selangit bila dikurskan dan disesuaikan dengan iklim ekonomi Indonesia.

Apakah memang Windows mahal? Bagi rakyat Indonesia umumnya, harga sebuah copy legal Windows Vista yang mencapai 1.1 juta rupiah (edisi paling standar tanpa Aero) masih tergolong mahal. Harga produk ‘kuno’ Windows XP saja masih mencapai 700-an ribu rupiah. Belum lagi copy legal Office yang mencapai 5 juta rupiah per instalasi di komputer. Gila, masa harga OS dan aplikasi kantor utama harganya sama atau lebih mahal dari komputernya (rakitan)?

Bagi warga dunia pun, produk Microsoft dinilai mahal. Bila mereka memilih membeli produk resmi ketimbang bajakan itu adalah permasalahan hukum di negara mereka yang menindak tegas para pembajak. Mahalnya produk ini terutama karena pertimbangan dominasinya (mestinya semakin banyak pemakai semakin murah copynya), pertimbangan monopoli (selalu tidak memberikan support compatibility bagi pesaingnya, suatu cara membunuh dan mengakuisisi yang ampuh), dan ternyata banyak sekali bugs dan masalah security.

Baru-baru ini Steve Ballmer (orang kepercayaan Gates dulu, sekarang menjabat CEO Microsoft menggantikan Gates) hadir di sebuah universitas di Hungaria untuk memberikan kuliah terbuka kepada mahasiswa ekonomi. Seorang siswa mengekspresikan kejengkelannya dengan melempar Ballmer dengan telur. Lihat videonya di:

http://www.udaramaya.com/new/berita/3115/0/Steve_Ballmer_Ditimpuki_Telur_di_Hungaria

*****

Apapun alasannya Microsoft telah berubah menjadi monster penghisap darah. Kemajuan teknologi informasi telah banyak dihambat oleh raksasa ini dengan mempatenkan sejumlah hal yang justru bukan merupakan penemuannya sendiri. Microsoft telah menjadi momok yang ‘mempersempit’ wawasan orang bahwa komputer bukanlah identik dengan Windows.

Selama hampir dua dasawarsa ini Linux telah hadir sebagai OS gratis yang sudah mampu menandingi dominasi Windows. Sistem Open Source yang diterapkan menyebabkan sebuah bug yang dilaporkan terdapat dalam sistem segera direspon oleh ribuan programmer seluruh dunia dan diperbaiki dalam waktu yang sangat singkat. Sistem ini telah menyebabkan Linux menjadi salah satu sistem teraman di dunia. Windows? Tentu tidak bila Anda lihat berapa panjang daftar virus dan spyware yang siap menyerang Windows. Virus di Linux? Nyaris nol meski tanpa antivirus. Tak heran, banyak perusahaan yang bermigrasi ke Windows dengan alasan penghematan biaya dan keamanan. Bayangkan berapa ratus juta rupiah bisa dihemat bila sebuah perusahaan memiliki sedikitnya 100 unit komputer di semua departemennya?

Pantas Bill Gates mundur dari Microsoft. Prediksinya bahwa Microsoft akan kalah oleh Linux di masa depan cukup untuk membuatnya banting stir ke bisnis ladang jagung untuk biofuel. Lebih baik mundur terhormat sekarang daripada kalah memalukan nanti.

Kedatangan Bill Gates seharusnya tidak disambut baik begitu saja. Pencerdasan bangsa merupakan hal yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Belajar komputer dengan Windows dan Office yang mahal tentu menghasilkan generasi Windows-er dan Office-er pula. Dalam mengamalkan ilmunya, tentu mereka akan punya PC dan laptop sendiri, yang pasti juga menganut aliran Microsoft. Lalu pertanyaannya, legalkah softwarenya? Bila tidak, ini masalah tersendiri. Bila legal, patut dipertanyakan bahwa ditengah upaya efisiensi ekonomi bangsa, layakkah kita menyumbangkan uang sedemikian besar kepada Microsoft? Berapa devisa yang terbuang? Belum lagi bila penganut Windows-er dan Office-er ini harus beradaptasi dengan dunia kerja dan trend dunia yang bergeser ke arah Linux. Tidakkah uang pembeli Windows dan Office dihemat dan diimplementasikan ke spesifikasi komputer yang lebih canggih atau dipakai biaya pendidikan? Kita bisa pakai Linux dan Open Office yang gratis, lalu belajar cara menggunakannya yang banyak dibahas dalam kursus dan buku?

Andai pemerintah mau menggandeng sponsor untuk belajar Linux, biaya investasi sudah pasti bisa ditekan. Alih-alih saja Gates mengajari siswa kita komputer, toh ujung-ujungnya jualan Microsoft juga. Lebih baik pemerintah menyokong gerakan Linux. Banyak negara berkembang menggunakan Linux dalam komputer pemerintahannya. Vietnam misalnya. Di Indonesia ada banyak komunitas. Ubuntu Indonesia misalnya. Mereka bisa dilibatkan dalam mencerdaskan bangsa supaya melek komputer. Murah dan masa depan cerah.

Bila karena suatu dan lain hal mereka tetap memilih Microsoft, itu suatu pilihan, namun konsekuensinya jelas. Anggaran harus mantap. Memilih berarti sanggup membeli. Berbeda dengan mengajarkan sesuatu yang mahal yang belum tentu sanggup dibeli. Bila akhirnya ilmu terhenti karena tidak ada biaya, tentu menyurutkan langkah untuk maju.

Maka sudah selayaknya bila peduli dengan pendidikan komputer di Indonesia untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, Pemerintah seharusnya memberikan ‘leverage’ kepada komunitas Linux untuk lebih berkembang di Indonesia. Caranya? Mungkin langkah Vietnam bisa ditiru.

Distro Linux yang berbahasa dan buatan programmer Indonesia juga sudah ada kok!

*****
Perhatian:
Ini bukan iklan Linux. Artikel ini bertujuan untuk mencari alternatif penghematan biaya pendidikan komputer dan salah satu solusi masalah pembajakan, supaya wacana pendidikan komputer nasional menjadi lebih realistis.

BBM Naik: Dilema Janji Politik dan Serangan Politik

23 Mei 2008. Harga BBM Akhirnya Diumumkan Naik! Yaaa…. akhirnya mahal juga nih dan demonstrasi dan kerusuhan sporadis terus mewarnai ibukota dan kota-kota besar lainnya. Jakarta pun ditetapkan berada dalam Siaga 1 oleh aparat.

Sejumlah reaksi sudah bermunculan sejak isu kenaikan harga BBM masih menjadi wacana. Beberapa jam sebelum BBM naik Presiden SBY sempat menghimbau agar para elit politik tidak memperkeruh suasana dan memberikan tawaran solusi. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa elit politik benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba menjatuhkan SBY. Yang paling nyata mungkin adalah pernyataan Wiranto yang membenturkan keputusan kenaikan harga BBM ini dengan Janji Politik SBY bahwa tidak akan menaikkan harga BBM.

Pernyataan Wiranto ini bak memelintir SBY. Betapa tidak? Bila kita tinjau secara logika, ketika Janji Politik diucapkan tahun lalu, tidak seorangpun yang memprediksi bahwa lonjakan harga minyak dunia bisa lebih dari yang dianggarkan APBN sebesar $95/barrel. Nilai rata-rata minyak dunia kini mencapai $120/barrel dan bahkan pernah menembus level $135/barrel. APBN tertekan berat karena biaya subsidi membengkak hingga sedikitnya Rp 120 triliun! Pemerintah memang harus melakukan sesuatu.

Saat kejadian buruk menimpa, mudah sekali kita secara ‘pokrol bambu’ alias asal bunyi mengait-ngaitkan dengan ‘janji’ yang dahulu diucapkan. Dahulu, meski APBN masih mensubsidi minyak kepada rakyat tetapi bebannya masih dalam toleransi. Ketika krisis terjadi diluar prediksi, tidak ada lagi yang dapat mengikat sebuah janji karena segala terjadi diluar kontrol manusia.

Taktik politik yang dilakukan Wiranto memang berkesan pokrol bambu dan tidak berwawasan. Suatu hal yang disayangkan, karena dengan langkah ini justru Wiranto tidak akan mendapat simpati dari kaum intelektual. Langkah Wiranto menjegal ini berdasarkan skenario ‘membela wong cilik’.

Masih ada beberapa lawan politik yang melakukan langkah yang sama. Kendatipun demikian bukan berarti SBY ‘bebas’ dari kesalahan. Kesalahan terutama dari SBY adalah tidak mendengarkan dengan seksama dan saya nilai kurang mengkaji dampak-dampak yang telah diperingatkan oleh para pengamat politik. Kita tentu tahu bahwa banyak perbincangan dengan berbagai topik di televisi jauh sebelum BBM naik. Beberapa isu yang mencuat muncul ada yang sekedar bernuansa politik – seperti Wiranto ini, tetapi sebetulnya banyak isu-isu yang menyiratkan saran yang positif. Pernah ada saran untuk mengurangi subsidi di bidang non strategis yang lain. Pernah ada saran untuk mengurangi subsidi bank. Mantan Menkeu juga pernah mengungkapkan bahwa penghematan dari pengurangan subsidi bank jauh lebih besar daripada penghematan yang dicapai dengan menaikkan harga BBM.

Toh, akhirnya, entah mengapa pemerintah lebih suka melakukan opsi ini. Skenario lain seolah tidak pernah ada. Debat publik dan interpelasi juga belum pernah dilakukan. Rakyat bertanya-tanya, apakah memang tidak ada cara lain sementara banyak wacana skenario lain yang dipaparkan pihak-pihak yang berkompeten menghiasi surat kabar. Kebijakan Presiden yang dinilai tidak terbuka dan terlalu terburu-buru ini mengundang banyak pertanyaan besar dan kekecewaan publik. Masyarakat yang sederhana kecewa karena beban ekonominya makin berat, masyarakat cendekiawan dan kelompok yang melek demokrasi kecewa karena proses pengambilan keputusan yang dinilai sepihak dan berat sebelah. Mengapa saran-saran kemarin seolah ‘dicuekin’ saja? Muncul kecurigaan bahwa langkah yang diambil sarat dengan kepentingan suatu pihak saja. Suatu pihak yang menguntungkan pemerintah tetapi justru menjadi langkah yang paling tidak populer bagi SBY. Toh, who wants to rule forever?

Lebih parah lagi SBY melengkapi kesalahannya dengan kebijakan BLT yang data para penerimanya yang sudah invalid (tahun 2005). Konsep BLT sendiri dituding hanya sebagai lips service pemerintah, karena meski diberikan langsung dan tunai tetapi rasio antara beban dan santunan jelas ibarat semut dan gajah. Beban yang muncul akibat kenaikan harga BBM akan berimbas pada sembako dan semua kebutuhan sehari-hari yang lain, sementara nilai bantuan yang diterima tidak sepadan.

Memahkotai segalanya, BLT dinilai sebagai ‘memberikan ikan, bukan kail’. BLT bukanlah solusi kemiskinan. BLT bukanlah solusi atas himpitan ekonomi bagi rakyat kecil. BLT adalah suatu kedok yang dapat diharapkan mengurangi protes masyarakat atas keputusan kenaikan BBM. BLT adalah suatu upaya pembodohan masyarakat – yang mestinya sudah basi karena masyarakat sekarang sudah jauh lebih pintar daripada era Orde Lama maupun Orde Baru.

Saya sendiri menilai sekarang SBY sedang menuai apa yang sudah dia tabur. SBY dalam kesulitan besar sekarang, karena bukan hanya lawan politik tetapi rakyat juga sudah beralih simpati darinya. Kita harapkan SBY dapat melakukan langkah yang jauh lebih realistis untuk mengembalikan kestabilan politik dan ekonomi daripada sekedar utopia BLT.


baca berita di lintas berita

Mei 21, 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional: Quo Vadis Indonesia?

20 Mei 2008, kita merayakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Seabad yang lalu gerakan yang dipelopori oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo bertujuan membangkitkan kesadaran bangsa untuk hidup lebih baik daripada sekedar menjadi koloni VOC. Merdeka. Bersatu untuk membangun masyarakat yang makmur yang mandiri.

Dibutuhkan 37 tahun sejak 1908 hingga Indonesia benar-benar merdeka di tahun 1945. Situasi dan kondisi pada saat itu tidak memungkinkan untuk menjalin komunikasi dengan mudah dengan segala macam jong (organisasi pemuda) yang berdiri di seantero tanah air. Transportasi yang sulit menyebabkan kesepakatan sederhana sekalipun memakan waktu bertahun-tahun. Belum lagi pengaruh pengawasan dari VOC yang besar, pengaruh Perang Dunia I dan II, dan invasi Jepang.

Di era abad 21 ini telekomunikasi dan transportasi yang canggih, mudah, dan makin murah membuat faktor jarak seolah mendekat. Kendala klasik negara besar kepulauan pun sudah bisa ditekan. Kemerdekaan juga sudah diraih 63 tahun yang lalu. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia masih menghadapi momok utama sejak 1908; masalah pendidikan dan kemakmuran.

Di era kebangsaan yang mulai luntur akibat ambiguitas masyarakatnya terhadap hegemoni pemerintahan dan sistemnya (yang lebih signifikan dalam ‘berebut kekuasaan’, ’saling menjatuhkan’, ‘merugikan rakyat’ dalam alih-alih membangun negerinya), kata ‘Bangkit’ seolah menjadi istilah semu. Bangkit dari apa? Bangkit dari mana? Ya bangkit dari kemiskinan. Bangkit dari kebodohan. Tapi apa gerakan konkretnya?

Kalau dulu Dr. Wahidin membangkitkan bangsa dari kebodohan yang dibina Belanda, sudah selayaknya bangsa ini bangkit dari pembodohan yang dilakukan para elit politik yang ujung-ujungnya berakhir pada ‘memperkaya diri sendiri’. Sejak Pemilu Pertama 1955, bangsa kita seolah belum memilih jalan yang benar. Kampanye partai selalu ibarat kecap, semua nomor satu, tetapi hasilnya jauh panggang dari arang. Fenomena baru setelah reformasi adalah banyaknya partai gurem mendaftarkan diri ke KPU untuk menggalang dana demi kepentingan pribadi. Belum lagi ulah anggota parlemen yang berhasil duduk di kursi yang bikin UUD – Ujung-Ujungnya Duit.

Dalam suatu forum diskusi pernah saya melontarkan joke: “Bila Indonesia berjumlah 220 juta jiwa (waktu itu), dan jumlah anggota MPR/DPR adalah 1000 orang (waktu itu pula), rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 4 orang, dan masa jabatan setiap periode adalah 5 tahun, maka diperlukan sedikitnya 275.000 tahun bagi bangsa ini untuk makmur, dengan asumsi pertumbuhan penduduk 0%, kecenderungan bahwa nyaris semua anggota parlemen korupsi, setiap keluarga pernah menempatkan satu anggotanya di parlemen, dan dia berhasil menyejahterakan keluarganya (4 orang)”.

Kalau 100 Tahun Kebangkitan Nasional lalu diselenggarakan secara super meriah sebagai wujud euphoria sesaat dalam mengenang ‘100 tahun’ secara emosional belaka dengan alasan membangkitkan lagi semangat kebangsaan yang mulai luntur, lalu saya bertanya dalam hati, “Kira-kira apa komentar Dr. Wahidin seandainya saja beliau masih hidup?” Dr. Wahidin, yang memiliki jiwa nasionalisme dan idealisme tentang mengangkat martabat bangsa dari keterpurukan hidup, tentu tidak membuat momen 20 Mei 1908 untuk sekedar ‘diperingati secara meriah’. Peringatan yang ironisnya dilakukan justru ketika tujuannya masih jauh dari tercapai. Jor-joran – banyak uang dihamburkan – ketika masih banyak dari negeri ini yang masih memikirkan biaya untuk makan esok hari, istri yang hamil tua, anak sekolah, dan orang sakit. Memahkotai segala penderitaan negeri dengan isu terkini: Pemerintah memutuskan mengurangi subsidi BBM yang kontroversial karena seharusnya masih ada hal lain yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan lonjakan harga minyak dunia.

Sembari masih bertanya-tanya kira-kira apa komentar Dr. Wahidin tadi bila masih hidup, saya jauh lebih menghargai apabila waktu, tenaga, dan APBN yang ‘dihamburkan’ untuk peringatan hingar-bingar tadi diganti menjadi suatu momen ,misalnya Presiden menerbitkan Inpres atau Keppres bahwa semua biaya studi siswa selama 9 tahun akan ditanggung negara (daripada sekedar ‘mewajibkan’ siswa 9 tahun tanpa biaya). Membuat program yang konkret tentang konsep pertanian modern untuk menggalang ketahanan pangan. Privatisasi BUMN yang merugi dan membebani baik negara maupun rakyat (seperti PLN misalnya), tetapi bukan dengan penguasaan korporat asing seperti yang sering dilakukan. Membuat amandemen UU KUHAP yang melegalkan hukuman mati terhadap koruptor seperti di Cina sebagai langkah konkret antikorupsi. Itu baru ‘Bangkit’ namanya.

Lalu dari mana uang untuk semua kebijakan pro-rakyat itu? Saya kira ada banyak jalan dan pos anggaran APBN untuk melakukan itu. Setidaknya kita tahu bahwa berhutang untuk membeli kail jauh lebih baik daripada untuk membeli ikan. Hutang semacam ini dulu pernah dilakukan Soeharto untuk membangun pertanian rakyat di era 1980 yang sayangnya kemudian dikorupsi. Setidaknya SBY bisa berbuat hal serupa, mencetuskan suatu pembangunan di bidang pendidikan, misalnya, sembari menjaga jangan sampai anggaran ini dikorupsi lagi tentunya.

Dengan makin tertekannya rakyat akibat isu kenaikan BBM saat ini, kadang saya bertanya dalam hati kecil ketika jutaan orang terharu dengan acara yang dihelat kemarin, sudah tepatkah kita bergembira di tengah keprihatinan ini. Sudah tepatkah kita menyelenggarakan acara supermeriah seperti itu? Apakah peringatan 100 Tahun harus identik dengan menghamburkan banyak uang? Apakah program konkret dari pemerintah untuk mendukung semangat 100 Tahun HarKitNas? Karena bila tidak, euphoria dan semangat yang didapat nantinya hanya akan pudar ditelan kepusingan akan biaya hidup sehari-hari dan perut yang keroncongan.

Apakah ini bentuk ‘pembodohan baru’, dimana kita diajak untuk membentuk suatu kebangsaan semu yang lebih mementingkan hal emosional daripada realita nasib rakyat. Indonesia Jaya, Indonesia Bangkit, Indonesia Raya, Bangsa yang Besar, tapi para petinggi negaranya korupsi dan banyak rakyatnya masih miskin, lapar, dan putus atau tidak sekolah. Kontras dalam pemberitaan MetroTV kemarin, karena seiring dengan berita persiapan perhelatan akbar itu diberitakan pula bayi gizi buruk di Makassar.

Oh Indonesia, Quo Vadis ? (arti: mau kemana engkau (bhs. latin)?)

*******
Marah berarti sayang, kritik pedas berarti peduli. Bangun dan bangkitlah bangsaku, jangan hanya bangkit di mimpi.


baca berita di lintas berita

Mei 15, 2008

Catatan Thomas Cup dan Uber Cup: Fair Play, Fair Supporters

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — suaranurani @ 7:02 am

Sekali lagi perhelatan akbar piala bulutangkis yang paling bergengsi digelar di Indonesia. Thomas dan Uber Cup. Setelah beberapa periode menghilang dari tanah air, tentu kita menaruh harap yang besar pada tim Thomas dan Uber kita tahun ini untuk merebutnya kembali. Tim kita memang memiliki kans besar untuk melakukan itu, karena faktor lokasi pertandingan di Indonesia yang berarti mereka bisa menghemat tenaga perjalanan, lebih berkonsentrasi karena dekat dengan keluarga dan kerabat, faktor psikologis ‘of being home‘, tidak perlu adaptasi dengan iklim, dan tentu saja tahu persis kondisi arena. Satu lagi, suporter yang sangat antusias mendukung perjuangan mereka.

Saya masih ingat ketika dulu saya menonton para sesepuh bulutangkis kita bertanding. Liem Swie King, Ivana Lie, Susi Susanti, sampe Ricky/Rexy. Saya nyaris tidak pernah absen untuk menonton. Dulu semasa masih sekolah, saya harus selesaikan PR dan belajar cepat-cepat sepanjang siang hanya untuk nonton pertandingan malam hari di TV. Seru.

Bulutangkis kita memang layak dibanggakan. Di tengah keterpurukan bangsa ini di berbagai sisi masih ada hal-hal yang memang kita layak dihargai. Bulutangkis salah satunya. Di tengah sesaknya bangsa ini akan pengakuan diri oleh dunia tentu setiap kemenangan oleh atlet kita yang bak turun-temurun setiap generasi memberikan kepuasan bagi kita. “Yes! Look at us! We are the champion!”

Karena itu saya mengerti ulah suporter yang boleh dibilang sangat gaduh, terutama karena jumlah mereka banyak di pertandingan dalam negeri. Kemenangan sangat penting bagi kita, dan kita berharap akan hal itu. Euphoria yang diluapkan dengan terompet, beaters and clappers, suitan, bahkan yang terkenal di kalangan suporter Indonesia: teriakan khas “Eaaa … huuuu …. Eaaa …. huuuu….” setiap kali bola dipukul bergantian oleh sang jagoan kita dan lawannya, terutama dalam permainan reli.

Saya melihat beberapa protes pernah dilayangkan pada umpire mengenai ini. Bang Soo Hyun dulu ketika melawan Susi pernah mengeluhkan konsentrasi yang buyar. Coach negeri jiran Malaysia pernah protes resmi ketika pertandingan di era Rashif Sidek, yang disambut dengan teriakan huuuu…. dari penonton.

Sesungguhnya saya sangat menyayangkan hal ini. Teriakan ini mampu membuat panas suasana, menyurutkan semangat bertanding lawan atau malah memicu emosi yang pada gilirannya membuyarkan konsentrasi. Tentu hal ini baik untuk atlet kita, tetapi bukankah kemenangan mereka menjadi mudah dan non-teknis? Memang dalam setiap pertandingan ada faktor non-teknis dan salah satunya adalah mental, tetapi sekali lagi dalam pertandingan saya ingin melihat mental bertanding semua atlet yang tidak dipengaruhi oleh war taunt seperti ini. Bagi saya, ini pertandingan bulutangkis, bukan uji nyali, sekalipun keduanya memang terkait, namun bukanlah sebaliknya.

Ya, tidak ada yang disalahkan memang. Kita tentu ingat, saudara jiran kita juga melakukan hal yang sama sehingga para suporter menyuguhkan psy-war yang juga membuat seru suasana. Saya sendiri yang nonton TV di rumah sampai ikut-ikutan merasa seru kok.

Tengoklah para suporter All England yang baru ‘gaduh’ ketika bola
mati. Sama seperti kejuaraan tenis Wimbledon yang sangat tertib. Senyap
saat bola hidup, ribut saat bola mati. Memang ini pertandingan, dan yel-yel adalah hal yang lumrah, tetapi saya rasa tetap ada batas dan etikanya. Terutama saat lapangan yang ’sempit’ dibandingkan dengan lapangan bola, tentu kepadatan dan tekanan suara (sound density and sound pressure) menjadi amat tinggi. Suporter sepak bola memang lebih gila, tetapi dengan faktor jarak suporter dan pemain, luas arena dan kondisi lapangan terbuka, permainan yang terdiri dari 22 pemain, tentu efeknya beda.

Saya malu bila melihat suporter kita dengan teriakannya “Eaaa…huuuu …..” Bak macan kandang, mentang-mentang di kampung sendiri. Bukan berarti saya mengharap teriakan yang sama ketika nonton di luar negeri. Saya berharap suatu hari nanti penonton kita tertib. Memberikan support sewajarnya, tanpa harus dengan ulah yang merugikan pihak lain. Tentu ini dambaan setiap pihak ketika atlet kita memang pantas dan layak mendapat gelar juara karena kemampuannya lebih baik, bukan kemampuan lawan yang menyurut karena grogi atau emosi. Kesannya lebih beradab, gitu loh.

Dengan masih merasa bangga dan terharu setiap kali tim Indonesia menang di berbagai event, saya merasakan perjuangan tim Indonesia sangat berharga ketika berada di event All England, Olimpiade, dan sebangsanya. Mengapa? Syukur kepada jarak yang jauh dan biaya yang mahal untuk menghadiri event, suporter kita sedikit. Jumlah yang sedikit berarti ‘bisa diatur’ dan perilakunya lebih terkontrol. Hasilnya, suporter kita berlaku ‘lebih terhormat’ dan pertandingan terasa berlangsung dengan lebih fair. Bila atlet kita menang, saya merasa luar biasa bangga. Saya ingat mata saya berkaca-kaca saat Susi menang di Olimpiade dulu. Dengan suporter yang ’seadanya’, Susi memang telah membuktikan kualitasnya sebagai si nomor satu saat itu.

Berikan tepuk tangan dan sambutan meriah ketika bola mati. Berikan applaus ketika lawan menambah angka. Berikan applaus yang lebih meriah ketika lawan mati. Tetapi hargailah permainan dengan menahan diri dan membiarkan konsentrasi pemain maksimal. Dengan demikian Indonesia lebih disegani dunia di bidang bulutangkis baik atletnya maupun suporternya. Kesan kampungan pun bisa ditepis.

Saya percaya pada talenta atlet Indonesia, yang mampu berkembang dan mengalahkan lawan tanpa harus dibantu dengan ulah saya yang mengejek dan melecehkan lawannya. Bagaimana dengan Anda?

Fair Play includes Fair Supporters.

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.