Suara Nurani Bicara Sebenarnya

Agustus 29, 2008

Hal Yang Positif dari Ryan, si Jagal Jombang

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — suaranurani @ 9:54 am
Tags: , , ,

My Mom said, “Segala sesuatu yang terjadi di dunia pasti ada hikmahnya. Bahkan kejadian yang buruk dan mengerikan sekalipun. Sesuatu yang membuat manusia menjerit kepada Allah. Semua sudah dirancang dan ada hikmahnya. Gunung meletus menewaskan ratusan nyawa dan membuat ribuan orang tidak punya rumah, tetapi tanah menjadi subur dan sangat bernilai bagi industri pertanian di masa mendatang.”

************

Terus terang, saya lupa dengan nasehat Ibu. Maklum, bukan hanya itu saja kalimat yang diucapkan Ibu. Saya juga ‘masih lupa’ ketika saya menulis hipotesa saya tentang Ryan, si Jagal Jombang (http://suaranurani.wordpress.com/2008/07/24/hipotesa-latar-belakang-psikopat-ryan/). Bagi saya, Ryan adalah tragedi kemanusiaan, dimana seseorang yang mengidap psikopat ‘nggak ada untungnya’ miara dia. Masih pula saya pikir-pikir, mungkin gunanya si Ryan ini ya untuk bahan penelitian, biar masyarakat Indonesia lebih melek tentang bahaya psikopat yang prosentasenya 1:100 di masyarakat (menurut Dr. Hare).

Kejadian Salah Tangkap Polisi dalam kasus pembunuhan Asrori alias Aldo cukup menyentak hati saya. Teringat nasehat Ibu dulu dikala kecil. Jadi, bisa dikatakan bahwa Ryan-lah yang membuka kunci misteri cara kerja polisi. Ryanlah yang membunuh Asrori, bukan Imam Hambali, David, dan Maman.

Bila kasus Ryan tidak terungkap, bukan mustahil kinerja polisi Indonesia yang sering salah tangkap bakal terus berlanjut. Publik akan hanyut oleh berita di suratkabar dan di acara Tangkap, Buser, dan sejenisnya, dan berpikir bahwa ‘kalau sudah ditangkap polisi, artinya dia lah pelakunya.’ Masyarakat kini agaknya harus berpikir secara kritis, dengan membiasakan diri mengungkapkan hal secara skeptis: ‘bila seseorang digelandang polisi, BENARKAH dia pelakunya?’.

Di budaya Barat, sifat skeptis adalah simbol kritis. Sifat skeptis adalah ciri demokrasi yang sehat. Skeptis tidak dipandang sebagai sikap yang ‘kurangajar’, seperti halnya di Timur. Mempertanyakan kebijakan Ayah, atau dalam hal bernegara, Pemerintah, bersifat multifungsi, yaitu fungsi edukasi, fungsi cross-check, fungsi demokrasi, dan fungsi kontrol.

Jadi, selain perbuatan psikopatnya, Ryan juga telah menghenyakkan masyarakat Indonesia, bahwa polisi yang memiliki hak lebih istimewa dibandingkan rakyat sipil harus lebih dikontrol. Pemilihan polisi harus benar-benar selektif dan sanksi yang tegas bagi yang menyalahgunakan kepercayaan negara ini. Metode kerja polisi pun harus pula senantiasa tercatat, terukur dan terkontrol. Jangan asal petentang petenteng saja dengan sejumlah atribut, kostum, senjata, dan gelar ‘Penegak hukum’.

Anekdot Polisi Indonesia Salah Tangkap

Diarsipkan di bawah: Sosial — suaranurani @ 9:04 am
Tags: , , ,

Polisi Indonesia memang punya segudang record buruk. Anekdot dan guyonan di masyarakat cukup memerahkan telinga juga. Salah satunya mungkin Anda sudah tahu, bunyinya begini:


“Tiga polisi dunia berkumpul di tepi hutan. Mereka masing-masing dari Scotland Yard, NYPD New York, dan Mabes Polri. Mereka berlomba menangkap kelinci yang akan dilepaskan ke hutan. Segala metode boleh dicoba, berikut teknologi yang mereka punya.

Polisi Scotland Yard Inggris mendapat giliran pertama. Kelinci dilepas. .. wussss… si polisi dan anakbuahnya menyusul dan menyebar di dalam hutan. Tiga jam kemudian si kelinci tertangkap.

Polisi NYPD mendapat kesempatan kedua. Wuss … lagi-lagi kelinci dilepas. Tiga orang polisi mengikutinya ke hutan sambil menenteng peralatan canggih milik FBI. Katanya, bisa mendeteksi kelinci dengan akurat dalam radius 1 km. Ah masa … eh tetapi 2 jam kemudian si kelinci sudah berhasil dibawanya keluar hutan.

Polisi Indonesia mendapat giliran terakhir. Hanya seorang polisi saja yang bersiap. Wusss … kelinci melesat masuk hutan, polisi mengikuti tanpa peralatan apapun. Hanya lima menit, si polisi menyeret keluar seekor beruang yang menangis berteriak “Ampuun paaak, ampuuun… saya jangan dipukuli… saya ngaku deh… saya kelinciiiiii ….”

***********

Duh negaraku. Salah tangkap yang terjadi dalam kasus pembunuhan Asrori alias Aldo bukan yang pertama kali. Yang baru saja lewat adalah seorang suami istri di Sulawesi Selatan yang dipenjara 2 tahun karena didakwa membunuh anak mereka. Ironisnya, setelah bebas sang anak justru nongol di acara ‘penyambutan’ oleh masyarakat. Ternyata si anak mengaku lari dari rumah setelah cekcok dengan orangtuanya dan menikah dengan seorang pria dari desa lain. Anehnya dia tidak mendengar bahwa orangtuanya ditangkap dan diadili dengan tuduhan telah membunuhnya. Sang ayah disiksa polisi dan jari-jari tangannya kini cacat seumur hidup akibat digencet dengan kursi oleh oknum itu.

Maman, Imam Hambali, dan David ditetapkan sebagai tersangka. Imam dan David malah sudah mendekam di penjara dengan status terpidana. Ternyata, pembunuh Ansori malah si Jagal Jombang Ryan. Lha ini apa-apaan?

Sudah saatnya budaya malas kerja ala orang Indonesia diberantas. Malas, karena pembunuhan ini terkesan ‘nggak ada duitnya’. Nggak seperti pembunuhan bos PT ASABA dimana ‘banyak duitnya’. Malas, karena yang dibunuh dan pembunuhnya ‘toh wong cilik’. Daripada dana operasional habis buat keliling cari bukti dan tersangka, mending yang ada aja di-ublek-ublek biar ngaku. Dari pengakuan bintara polisi yang dulu pernah saya kenal, rata-rata mengeluh harus ‘nomboki’ biaya bensin. Dari mana? Anda tentu tahu.

Polisi adalah Penegak Hukum. Tapi kalau malas menegakkan hukum malah cara-cara yang melenceng diluruskan. Bila individu polisi mencoreng citra, tentu giliran institusi polisi yang bertindak tegas. Pecat, dan penjarakan personel yang menjadi oknum dengan hukuman yang berat. 20 tahun penjara misalnya, atau mungkin hukuman mati?

Pasalnya, bila terpidana salah tangkap ternyata dihukum berat, maka hak hidupnya ini telah dirampas oleh tindakan si oknum. Bayangkan dipenjara 17 tahun untuk kesalahan yang tidak pernah dibuatnya. Mereka sama saja dengan mati. Bagaimana bila malah salah dijatuhi hukuman mati?

Alasan kedua, seseorang yang dilantik menjadi polisi memiliki ‘hak’ dan ‘kuasa’ lebih daripada rakyat sipil. Kekuasaan memang menggiurkan bagi banyak orang, bisa petentang petenteng, tetapi kekuasaan harus dipegang dengan moral dan bertanggung jawab. Bukan seperti anak kecil yang memainkan pistol ayahnya.

Bila saya jadi Sutanto, tentu saya akan malu, dan menginstruksikan agar oknum tersebut dipecat dan diadili. Bila saya jadi majelis hakim, tentu saya akan mencari hukuman terberat dalam KUHP untuk dijatuhkan padanya. Bila saya jadi majelis konstitusi, tentu saya akan merumuskan hukuman yang jauh lebih berat bagi aparat militer dan polisi untuk penganiayaan ketimbang bila dilakukan oleh warga sipil. Mengapa? Tentu, karena setiap aparat dan polisi dilindungi oleh undang-undang, menyerang polisi adalah melanggar hukum. Juga, karena mereka memiliki akses pada senjata. Sehingga polisi Indonesia bertindak dengan benar dan penuh pertimbangan, bukannya dar der dor kayak main Playstation.

Jadi? Kita lihat saja hukumannya.

*** The greater power should come with greater responsibility – from Spiderman, movie. ***

Agustus 27, 2008

Sepeda Bambu, Kendaraan Ramah Lingkungan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — suaranurani @ 5:02 am
Tags: , , , , ,

Sepeda yang biasa kita kenal adalah yang terbuat dari besi, aluminium alloy, carbon, dan yang marak belakangan dengan isu green technology adalah sepeda kayu. Namun siapa pernah berpikir membuat sepeda dari bambu?

Sepeda bambu adalah sepeda yang ramah lingkungan. Selain materialnya relatif murah, mudah didapat, dan mudah didaur ulang, proses pembuatannya pun tidak menimbulkan carbon trace yang tinggi seperti pembuatan sepeda biasa. Seiring dengan pembatasan carbon untuk mencegah pemanasan global, agaknya sepeda bambu adalah solusi yang benar-benar hijau untuk bumi.

Selain itu sepeda bambu juga diklaim lebih nyaman dibandingkan sepeda biasa. Bambu memang dikenal sebagai materi yang ulet, lentur, tetapi kuat. Kelenturan bambu yang digunakan sebagai rangka sepeda ternyata mampu meredam getaran sepeda saat melaju di lintasan off-road.

Bamboo Bike Project (http://www.bamboobike.org/Home.html) adalah organisasi sosial yang merupakan gabungan antara ilmuwan dan insinyur di The Earth Institute, Universitas Columbia, bekerjasama dengan industriawan sepeda Craig Calfee. 25 tahun yang lalu, Calfee mengunjungi Afrika, dan terkejut melihat penduduk aslinya menggunakan sepeda untuk berkeliling desa. Calfee menyimpulkan bahwa sepeda adalah transportasi andalan di Afrika yang efektivitasnya jauh melebihi kendaraan bermotor bahkan kendaraan umum.

Kini Bamboo Bike Project membantu masyarakat miskin di pedesaan di Ghana, Afrika, untuk merakit sendiri sepeda bambu mereka. Diharapkan aktifitas perekonomian dan masyarakat akan meningkat dengan kehadiran sepeda ini. Juga, Bamboo Bike Project berharap kegiatan ini menginspirasi masyarakat Ghana untuk memproduksi sepeda bambu secara profesional melalui home industry kepada masyarakat internasional.

Bagi Anda yang tertarik mencoba merakit sendiri tentu merupakan tantangan sendiri. Untuk pengetahuan awal, Anda harus tahu jenis dan anatomi sepeda. Ketepatan dimensi tentu akan sangat berpengaruh pada kenyamanan dan keamanan berkendara. Kalau mau gampang, Anda juga dapat menjiplak dimensi sepeda yang sudah ada.

Anda juga harus jeli memilih bambu. Ada ratusan spesies bambu namun Anda bisa mulai dari bambu kuning Cina (Cannabis sp.). Selanjutnya, Anda juga harus tahu teknik pengeringan bambu. Pemanasan membuat bambu menjadi lebih ulet dan mencegah terjadinya retak pada bambu. Teknik ini tidak sulit dipelajari tapi membutuhkan ketekunan. Teknik penyambungan juga harus benar agar rangka tidak patah. Mungkin Anda akan kesulitan untuk membuat rangka sepeda yang 100% terbuat dari bambu, terutama di bagian joint nya.

Brano Meres di homepagenya menceritakan pengalamannya membuat sepeda pribadinya di tahun 2004, dan masih berfungsi sampai sekarang. Joint sepedanya (seat tube, brake boss, front tube, gear boss, rear joint) menggunakan bahan metal (duralumin).

Di Indonesia

Kondisi geografis, botanis, dan demografis Indonesia mendukung potensi pasar untuk sepeda bambu. Indonesia mengalami angka polusi yang cukup tinggi, terutama di Jakarta. Polusi, kemacetan, dan kesadaran masyarakat akan kesehatan ini pula yang memicu gerakan BikeToWork: bersepeda untuk menuju kantor.

Bambu juga banyak didapat di Indonesia. Satu-satunya halangan adalah, menurut Calfee Design yang notabene adalah satu-satunya produsen sepeda bambu saat ini, sepeda bambunya dilego seharga USD 2600. Suatu harga yang sama sekali tidak murah dan tidak ramah untuk masyarakat Indonesia. Mahalnya ini dikarenakan rumitnya pengerjaan dan kualitas yang sebanding dengan garansi 10 tahunnya. Menurut saya, angka ini juga dikarenakan tingginya upah tenaga kerja di Amerika.

Mengingat bahwa proyek ini berhasil di Ghana (tanpa penduduk Ghana harus merogoh kocek USD 2600 per unit) mengapa tidak di Indonesia? Rakyat Indonesia dikenal sebagai populasi yang kreatif. Mungkinkah hal ini menginspirasi pelaku home industri untuk merintis bisnis serupa? Mungkinkah Wim Cycle, Polygon, atau United melakukan terobosan produknya? Atau mungkin ada yang ingin menyediakan kit DIY (Do It Yourself) berupa jointnya, sehingga kita tinggal mencari bambu yang cocok, mengolahnya, dan merakitnya menjadi sepeda jadi? Tentu hasilnya akan memberikan kepuasan tersendiri.

Mungkinkah misi Bamboo Bike mewujudkan sepeda yang Murah dan Ramah lingkungan bakal malah terwujud di Indonesia?

Agustus 20, 2008

Fakta: Ganja Tidak Haram, Rokok Haram

Lho, bukannya terbalik? Sama sekali tidak. Kenyataan pahit ini terpaksa saya tulis sebagai judul berdasarkan fakta, kalau saja kita telaah secara akal sehat.

Tulisan ini saya buat sebagai wujud keprihatinan terhadap bahaya rokok terhadap kesehatan masyarakat non-smoker (to hell with the smokers’ health, I don’t give a damn care) tanpa bermaksud ‘mendukung’ pemakai narkoba. Narkoba is narkoba, okay? Drugs can kill you.

Di Indonesia, membawa ganja bisa saja dihukum mati. Kalau tidak salah, terpidana mati narkoba asal Nigeria masih 19 orang. Di Malaysia, hukumnya lebih ketat lagi. Kenapa sih kok bawa ganja sampai perlu dihukum mati?


Ganja Tidak Haram?

Sekali lagi, tanpa bermaksud membela kelompok pro Narkoba, sebenarnya hukuman berat pengedar ganja adalah karena “merusak moral generasi muda“. Weleh, weleh. Benar sih. Tapi coba kita cermati secara jernih. Sebetulnya “moral yang rusak” itu apa ya cuma karena narkoba? Bagaimana dengan orangtua yang sibuk terus, kurang perhatian, dan memanjakan anak? Bagaimana dengan kekerasan terhadap anak (yang juga berpotensi melahirkan generasi ‘keras’)? Bagaimana dengan mafia pendidikan formal, yang menyebabkan banyak anak tidak mampu sekolah?

Sebetulnya, ketika seorang pengedar ganja menawarkan dagangannya kepada Mas X, si calon konsumen, yang ditawarkan hanyalah sebuah pilihan hidup. Apakah moral Mas X rusak karenanya? Kalau Mas X menerima tawarannya, berarti moral Mas X memang sudah rusak dari awalnya. Sudah tahu barang haram kok masih coba-coba. Kalau Mas X makin jadi bajingan setelah nge-drug, itu hanyalah memperkuat sifat aslinya, yang sudah muncul sejak keputusannya menerima barang setan itu. Kalau toh sifatnya memang baik, Mas X akan tobat setelah puyeng dari percobaan pertamanya, dan jadi pengalaman hidupnya.

Seorang pemakai ganja yang teler di kursinya, tidak meracuni orang lain secara luas. Anda bisa teler juga kena asapnya kalau duduk di sisinya, tapi pemakai ganja kan jarang mabok asap di warung-warung, taman, atau bis kota. Jadi, kalau Anda teler kena asapnya, itu salah Anda sendiri, mengapa dekat dengan dia. Jangan-jangan Anda pemakai juga.

Rokok Haram?

Nah, kalau rokok, ini memang belum pernah difatwakan haram. Alasannya, nggak merusak moral manusia kok? Ah masa ???

10 tahun yang lalu, saya bekerja di sebuah pabrik di Surabaya. Ada beberapa buruh pabrik, yang penghasilannya pas-pasan. Selepas kerja, dia masih nyambi di tempat lain, dan istrinya buka warung kecil-kecilan di rumah, terima laundry, dsb. Terima upah harian. Katanya nggak cukup untuk makan dan sekolahin anak-anak … tapi lho, Dji sam soe nya kok ngepul terus? Sehari katanya 1 pak lebih. Kalau nggak gitu, pusing katanya.

Juga lihat tukang becak. Ngeluh hasil pas-pasan. Anak banyak. Tapi lagi-lagi … kok ngepul. Belinya sih 1000-an, batangan. Tapi sehari, bisa lebih dari 1 pak.

Lantaran nggak diharamkan, rokok bisa dinikmati di mana saja. Di taman kota, di warung, restoran, sampai bis kota. Ini beda dengan narkoba. (Kalau berani coba aja nge-bong di bis kota .. hehe). Asapnya, weleh .. weleh. Di dalam rokok terdapat 4000 zat yang semuanya berbahaya. Nggak ada untungnya. Mulai dari tar, nikotin, karbon-karbon, sampai sianida (hasil pembakaran kertas) sampai kalau ditulis semuanya blog ini bakal cuma jadi daftar isi, saya juga nggak mungkin ingat apa yang sudah atau belum saya tulis.

Menarik mencermati sianida ini. Pernah membakar sejumlah besar kertas putih dan terhirup asapnya? Puyeng kan? Sianida dalam jumlah kecil cukup membunuh orang dewasa secara efektif. Jumlah yang terkandung di asap rokok pastinya lebih kecil lagi, tapi saya heran ada orang yang rela menghisap zat berbahaya ini bahkan setelah diberi tahu.

Pernahkah Anda melihat seorang bapak (yang pastinya tidak bertanggung jawab) merokok sambil menggendong anaknya, sementara istrinya hamil mendampinginya? Kalau belum, Anda mungkin jarang berada di Indonesia. Di sini, kejadian serupa ini bejibun banyaknya.

Pernahkah seorang perokok memikirkan bahwa orang yang duduk di sampingnya mungkin pengidap asthma? Mungkin bisa mati sesak napas kena asapnya? Atau ibu hamil? Atau anak-anak? Atau mungkin sekedar orang yang berusaha menjaga kesehatannya? Perokok merupakan sosok yang paling egois di komunitas, dan merampas hak hidup manusia lain untuk ‘menikmati udara (yang lebih) bersih’. Sudah kena asap kendaraan, bau apek, asap rokok pula!

Seorang perokok, membunuh pelan-pelan manusia-manusia di sekitarnya. 4000 racun yang disedotnya akan dihembuskan lagi berikut kotoran di paru-parunya (yucks!) dan dihirup oleh orang di sekitarnya. Tidak masalah bila si perokok mati, semua edukasi dan peringatan bahaya rokok toh dia sudah pernah tahu. Dia memang siap untuk mati, impoten, dan keguguran (wanita). Tapi non-smokers yang jadi perokok pasif?

Perokok bisa berdalih, “kalau nggak suka, pergi aja.” Bagaimana kalau
di atas bis? Haruskah oper? Bayar 2 kali? Bagaimana kalau tengah makan
di warung? Hilang nafsu makan, dan pergi? Egois, mengapa tidak dia saja
yang pergi?

Seorang perokok seperti buruh pabrik dan tukang becak yang saya gambarkan juga merampas hak hidup anak-anak mereka untuk mendapat hidup yang lebih layak. Hitung sendiri berapa ongkos habis untuk merokok. Mending buat makan atau biaya sekolah anak-anak, kan?

Satu lagi, … tahukah Anda bahwa para drugger nyaris semuanya adalah juga perokok? Yang ingin juga saya cari keterkaitannya adalah bagaimanakah prosentase pelaku kriminal yang merokok? Atau hubungan antara Kekerasan, Arogansi, Over PD dengan Merokok.

Kini: Ganja Haram, Rokok Tidak Haram

Kalau saya sengaja kampanye bahwa ganja itu tidak haram, tentu sejumlah pihak bakal mencak-mencak dan menuding saya drugee. Ganja haram, rokok tidak haram, ini perbandingannya

  • Menawarkan ganja itu hanya menawarkan pilihan, menawarkan rokok pada orang lain juga pilihan.
  • Ngisep ganja tidak mungkin dilakukan di tempat umum, ngisep rokok bisa di tempat umum.
  • Ngisep ganja tidak mencemari kesehatan umum, ngisep rokok di tempat umum jelas mencemari.
  • Ngisep ganja ngehabisin uang, yang lebih baik untuk hal positif lain, ngisep rokok juga.
  • Pengisap ganja tidak meracuni orang lain kecuali diri sendiri. Perokok meracuni diri sendiri DAN orang lain.
  • Sengaja mengonsumsi ganja adalah pilihan buruk, mengonsumsi rokok juga pilihan buruk.

Bahasa hukumnya, “secara sengaja dengan tindakannya dengan kesadaran
penuh meracuni orang lain di sekitarnya.” dan “dengan kecerobohannya
dan tindakannya yang tidak waspada mengakibatkan kematian orang lain;
meracuni dan merusak kesehatan orang lain disekitarnya.”

Perbedaan terbesar adalah pemerintah tidak memungut cukai atas penjualan ganja, sedangkan rokok adalah pembayar pajak terbesar! Sekalian saja kalau begitu, Indonesia melegalkan dan menarik pajak dari penjualan narkoba dan prostitusi. Biar negaranya kaya. Jadi, kalau MUI berfatwa bahwa ganja itu haram, apalagi rokok!

—————————–
suaranurani.wordpress.com

** 10.000 Perokok aktif menyumbang @ Rp 1000 / orang untuk membuat seorang perokok pasif jatuh sakit dan biaya berobatnya jelas lebih dari Rp 10.000.000 rupiah (ditanggung sendiri pula).

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.