RSS

Berita dan Komentarnya: Yang Santun dan Yang SARA

Alhamdulilaaah … akhirnya online juga. Setelah saya lepas dari masa ‘tahanan’ saya. Eittt, jangan keburu lari dari halaman ini dulu. Tahanan bukan berarti saya seorang residivis atau terpidana. Tahanan dalam arti ‘saya menahan diri saya agar tidak tampil lagi di blog ini untuk sementara waktu.’

Mengapa?

Ketika terakhir kali saya log in ke blog ini, internet murah sedang marak. Laptop murah bermunculan. Di saat yang sama sebuah brand laptop menggeber jualan Netbook pertamanya. Era Netbook murah 2 jutaan pun mulai.

Sayangnya, kemudahan teknologi ini – seperti semua hal yang lainnya juga – selalu diikuti oleh perkembangan negatif. Salah satu yang saya cermati adalah mulai santernya komentar-komentar super-negatif atas pemberitaan online dan posting-posting atas beberapa opini.

Di saat saya berhenti log in di blog ini, saya mencermati sejumlah komentar yang berbau SARA atas apapun pemberitaan dan posting, hampir di mana pun. Koran online lokal. Bahkan Yahoo dan Youtube. Apapun bisa dijadikan SARA. Jangankan pemberitaan yang memang ‘berbau’ atau ‘menyerempet’ topik agama, lah bahkan topik kebakaran hutan, penemuan planet baru, hilangnya planet Pluto, dan bahkan upload tentang performa seorang pianis di Youtube pun berubah jadi ajang debat SARA.

Wong edan, mungkin begitulah komentar Anda saat ini. Ya, saat itu pun saya juga berpikir demikian.

Menyadari bahwa saya telah menulis beberapa ‘topik panas’, yang terkadang juga ‘melemparkan’ isu moral ke dalam status quo, saya pun cemas apakah tulisan saya juga dapat memancing keributan online. Saya sengaja membuat beberapa blog, beberapa topik hangat yang berbeda, lalu membelenggu diri saya untuk tidak menulis di blog ini untuk beberapa lama.

Saya meletakkan trace sederhana pada blog wordpress ini untuk melaporkan pada saya secara berkala, berapa jumlah pengunjung harian. Blog ini sama sekali tidak ramai, tetapi juga tidak bisa dibilang sepi.

Hasilnya? Syukurlah, kendati tetap ada komentar positif dan negatif, semuanya sebagian besar berada dalam koridor kesantunan. Pernah saya mendapati satu komentar yang cukup potensial memancing keributan, tapi untunglah tidak dibalas oleh netter yang lain. Hasil yang sama juga didapati di beberapa blog lain yang saya tulis dan di blog beberapa rekan yang juga melakukan uji yang sama.

– – –

Lantas apa sebenarnya yang trigger komentar super negatif? Tentu saja, berbicara mengenai probabilitas, makin banyak pengunjung makin terbuka peluang untuk aksi vandalisme. Tapi beberapa rekan jurnalis sengaja mengubah – ubah gaya tulisannya untuk melakukan tes sederhana terhadap fenomena vandalisme di dunia maya.

Hasil sementara yang kami cermati dari tes alakadarnya ini adalah: berita yang tidak proporsional, tidak netral alias berat sebelah, tidak akurat, tendensius, dan kematangan rencana penyampaian ide sangat menentukan respon dari pembaca. Dalam hal ini, kontrol terhadap konten tulisan lebih baik daripada kontrol terhadap konten media, karena saya masih ingat beberapa posting Youtube (termasuk si musisi pianis tadi) tanpa embel-embel apa pun sudah lebih dari cukup memancing kerusuhan.

Saya teringat pada isi buku The Secret yang bisa saya rumuskan dalam satu kalimat: Anda mendapatkan apa yang Anda pikirkan. ‘Pikirkan’? Bukankah harusnya ‘Percayai’? Ya, maaf, saya modifikasi sedikit, bersebelahan dengan tahapan ‘percaya’ adalah tahapan ‘pikirkan’.🙂 Saya akan berikan sebuah analogi.

Akhir-akhir ini cukup banyak karya novel yang dikemas menjadi komik. Seperti The Mortal Instrument karya Cassandra Clare (yang sebentar lagi akan diangkat ke layar lebar). Atau kisah Edward Cullen dan Bella dari novel Twilight yang sudah difilmkan, tapi tanpa komik.

Walaupun inti ceritanya sama, tetapi sikap audiens ketika membaca novel, komik, dan menonton bioskop sangat berbeda. Cara pembawaan dan kedalaman kemasan bahasa turut menentukan persepsi dan segmen audiens.

Salah satu produk yang sering dinilai ‘salah kaprah’ persepsi oleh para kritikus pendidikan anak adalah komik Sin Chan, yang sering dikambinghitamkan sebagai ‘perusak moral’ anak kecil. Buku komik kok ngajarin yang enggak-enggak, Sin Chan dan gajah ajaibnya itu. Hal yang sama juga dikeluhkan para orangtua di Inggris ketika J.K. Rowling mulai memasukkan adegan-adegan gelap, sadis, dan pembunuhan dalam seri-seri terakhir bukunya. Menjawab kritik itu, Rowling berkilah bahwa Harry Potter memang bukanlah cerita anak-anak, sekalipun karakternya adalah anak-anak dan remaja. Secara sama, franchisor Sin Chan di Indonesia juga menyatakan bahwa Sin Chan bukanlah untuk konsumsi anak-anak sekalipun formatnya komik.

Apa hubungannya cerita komik, novel, film, cara penyampaian, kematangan ide, dan komentar super negatif? Persepsi.

Mungkin Anda sudah paham maksud saya. 240 juta penduduk Indonesia tentu memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Suatu produk akan menempati segmentasi pasar dan audiensnya sendiri. Majas hiperbola memang menarik dari segi bisnis media karena mengundang ketertarikan publik, tapi cara penyampaian konten itu sendiri, superimposisi dan jukstaposisi kata-kata dalam suatu artikel tanpa mengubah majas dan gaya bahasa dapat menggeser margin segmen pembaca.

Hasilnya? Pembaca yang kurang dewasa dengan mudahnya gagal menyikapi ide suatu tulisan yang juga dibuat sekenanya. Bahkan pada tulisan yang disunting profesional pun masih bisa terjadi mispersepsi emosi, apalagi pada tulisan yang asal-asalan.

Dengan kemudahan teknologi online, saya dan rekan-rekan ikut miris bahwa seseorang dengan mudahnya dapat membuat blog, dapat membuat posting yang tidak bertanggungjawab atau bahkan membuat hoax, dan dengan mudahnya mengaku wartawan online dari apanews.com atau ehem-news.com. Sangat disayangkan bahwa sampai hari ini kita masih dengan mudah menemukan artikel-artikel yang tidak ditulis mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik dan tidak mengindahkan muatan keanekaragaman budaya pembaca. Sebuah berita bisa menyulut emosi pembacanya bukan dari isinya saja melainkan juga cara penyampaiannya.

Tentu saja, dengan tidak menafikan bahwa kontrol emosi juga berkaitan dengan edukasi. Tetapi melalui tulisan ini, untuk saat ini, saya lebih memilih berfokus pada unsur dari artikel itu sendiri ketimbang juga ikut menyorot kualitas edukasi kontrol emosi masyarakat.

Tulisan ini sama sekali tidak mengatakan bahwa tulisan yang baik dan mengikuti kaidah umum akan terbebas dari aksi vandalisme. Sama sekali tidak. Seperti ada di dunia nyata sekalipun, begundal ada di mana-mana, bahkan mungkin yang paling dekat tinggal di belakang rumah saya.🙂 Analoginya seperti memakai perhiasan ketika menghadiri kondangan atau acara resmi di Ibukota. Kalau datang dari rumah ke tempat acara naik mobil pribadi, secara umum lebih aman daripada kalau jalan kaki atau naik bis kota.

Dan saya berterima kasih pada semua pembaca blog saya atas semua komentarnya yang santun.🙂

It’s good to be back.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2012 in Sosial

 

Tag: , , , , ,

Jangan Dilupakan: Kader Terorisme di Indonesia!

Beberapa tahun setelah peristiwa Bom Bali II di tahun 2004, saya pernah menulis email terbuka kepada beberapa akademisi, forum, media massa, dan beberapa situs resmi yang terkait dalam upaya pemberantasan terorisme. Isi email itu adalah mempertanyakan, bagaimana ‘nasib’ keluarga dan orang-orang dekat (baca: teman dan tetangga satu kampung) dari teroris yang telah berhasil dibekuk polisi.

Saya tidak menulis dalam rangka bersimpati pada mereka. Saya menulis tentang bahaya laten terorisme dan radikalisme yang kemungkinan besar ‘ditinggalkan’ oleh sang ayah yang tertangkap. Seorang pria yang sekaligus seorang ayah tentu akan memimpin keluarganya dengan cara pandangnya. Bila ia memiliki ideologi yang ekstrim, besar kemungkinan bahwa istri dan anak-anaknya hidup dalam kubangan teori yang sama.

Hal ini kemudian terbukti melalui Amrozi cs. Seperti yang kita ketahui, sebelum dieksekusi, Amrozi, Muklas dan Imam Samudra tak henti-hentinya berpesan kepada istri-istri dan anak-anaknya tentang melanjutkan upaya ‘jihad’ ala mereka. Ketika dimakamkan kita dapat melihat sejumlah besar massa pendukungnya. Sebagian besar dari massa pendukung ini adalah tetangga dan orang di kampungnya.


Calon Teroris Baru yang lebih Potensial daripada Teroris aslinya

Saya melihat bahaya laten dari anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan ekstrim. Ketika besar dan berideologi sama, seorang anak dari Imam Samudra misalnya bisa memiliki motif yang sama melakukan teror (anti Amerika, berperang sebagai ‘mujahid’ dalam pandangannya sendiri), ditambah lagi dia memiliki seorang Patron yang dekat (ayahnya), dan rasa dendam (kepada siapapun yang memerangi ayahnya). Motif ini sangat kuat sekali, bahkan lebih kuat daripada sang ayah. Kondisi ini bahkan lebih vulnerable, lebih rentan dikorupsi dan dimanipulasi oleh sindikat teroris yang lebih besar lagi.

Kekhawatiran yang sama juga berlaku bagi istri yang ditinggalkan. Peran ibu yang tidak menjelaskan perilaku salah ayahnya kepada anak-anaknya dan bahkan mungkin mendorong anak-anaknya untuk berbuat serupa sungguh sangat berbahaya.

Demikian pula dengan komunitas di kampungnya. Sudah pasti orang-orang ini akan sholat bersama, berkumpul bersama, dan bertukar pikiran. Radikalisme mayoritas ini justru akan menggalang perkuatan pikiran (mind emphasizing) yang sulit sekali diberantas.

Upaya baru melawan Terorisme: Psikologi.

Sama seperti psikologi disalahgunakan oleh Noordin M. Top untuk ‘membengkokkan’ pemahaman orang-orang awam hingga mereka siap menjadi ‘pengantin’ bom bunuh diri, saya juga pernah menyarankan agar psikolog ikut terlibat dalam upaya memerangi terorisme.

Untunglah kini upaya-upaya yang sama tengah gencar dilakukan. Setahu saya psikolog Margudi W.P. dan bahkan kini Dr. Sarlito Wirawan juga ikut melibatkan diri dalam membina antek teroris yang divonis penjara. Beberapa pondok pesantren juga ikut melibatkan diri, bekerjasama dengan para psikolog mereka meluruskan kembali pemahaman yang sudah kadung keliru dianut.

Melalui blog ini saya menyerukan sekali lagi kepada semua pihak yang telah menceburkan diri dalam memerangi terorisme melalui soft-action ini untuk juga memperhatikan dan membina keluarga yang ditinggalkan.

Negara dapat memfasilitasi keluarga yang ditinggalkan untuk direlokasi dari sisi dana. Tindakan persuasif maupun koersif dapat dilakukan untuk memindahkan mereka dari kampung asal demi memutus mereka dengan komunitasnya. Pendampingan oleh lembaga atau yayasan dengan pendekatan psikologis dan agama perlu mutlak dilakukan agar keluarga ini menjadi netral. Pemberian identitas baru juga membantu agar komunitas yang baru tidak mengenali mereka dan mencap mereka sebagai keluarga teroris.

Pihak ponpes dan tokoh agama perlu memperhatikan daerah-daerah kantong radikalisme dan memberikan dakwah secara kontinyu mengenai ajaran-ajaran yang benar. Dengan kerjasama dari semua pihak, para kiai pesantren, psikolog, kepolisian, intelijen, dan masyarakat, niscaya pelan-pelan akar-akar dari terorisme dapat diredam pertumbuhannya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2009 in Uncategorized

 

Perkiraan bagaimana Skenario Antasari Dijebak.

Setelah mengikuti perkembangan di media massa selama beberapa hari, saya mulai memikirkan kerangka skenario: “Bagaimana caranya seorang aktor intelektual menjebak Antasari”. Metode kriminal ‘intelijen’ biasanya melibatkan multi-agen, dimana agen yang satu dengan yang lain tidak saling mengenal, atau mengenal tetapi diarahkan dalam kerangka skenario tertentu.

Mungkinkah Nasrudin adalah ‘key agent’ yang memang dirancang expendable untuk memutus rantai konspirasi? Bila iya, maka biasanya key agent terlibat dalam skenario utama (menjebak Antasari) dengan atau tanpa disadari karena key agent memiliki motif individu terhadap target, dimana dalam misinya selaras dengan kehendak konspirator.

Bila memang iya, maka kira-kira inilah yang terjadi menurut salah satu versi saya.
1. Mr. X atau kelompok X – yang selanjutnya saya sebut sebagai X saja adalah otak utama skenario besar pembunuhan Nasrudin dan plot untuk menggulingkan Antasari. X ini bisa jadi adalah pelaku korupsi yang cukup besar di Indonesia. Bukan tidak mungkin bahwa X adalah kelompok koruptor berjamaah yang cukup punya jabatan atau nama besar yang harus dipertaruhkan agar tidak terekspos luas.

2. Posisi X – seharusnya berada cukup dekat dengan Nasrudin. X bisa saja gabungan dari beberapa pejabat BUMN yang dipimpin Nasrudin, atau mantan direktur BUMN tersebut, atau beberapa pejabat penting yang terlibat dalam sindikasi korupsi BUMN itu.

3. X – merasa takut korupsinya terbongkar oleh Antasari dengan Nasrudin yang dijadikan saksi.

Sampai disini saya memiliki dua macam versi.
a. X memanipulasi kedekatan Antasari – Nasrudin terutama dengan fokus Rani. Situasi yang dimainkan oleh X cukup memancing kesalahpahaman antara Antasari dan Nasrudin hingga Nasrudin gerah dan mengancam akan membeberkan skandal Antasari. Setelah itu, X memanfaatkan kesempatan ini untuk menciptakan rantai pembunuhan Nasrudin melalui agen-agen tertentu.

b. Nasrudin sebetulnya juga terlibat dalam skandal korupsi ini, hanya saja dia saat itu baru menjadi saksi. Ketika pembongkaran kasus mulai mendekatinya, X dan Nasrudin menjebak Antasari dengan menggunakan Rani untuk mendekati Antasari. Antasari merasa takut akan gangguan ini, maka dia minta perlindungan ke Kapolri. Nasrudin melakukan ini untuk menyelamatkan dirinya – tetapi malang, tanpa disadarinya kelompok X merancang pembunuhan atas dirinya untuk menggulingkan Antasari dan menutup jejaknya. Bisa jadi, Nasrudin adalah titik awal penyebab terciumnya korupsi di BUMN tersebut, itulah mengapa dia disingkirkan.

4. Ada orang yang berada di antara rantai Antasari (yang diduga sebagai otak) dan kelompok teknis eksekutor. Antara SHW dan WW bisa saja bertindak sebagai agen ‘deceptor‘ – atau pengalihan perhatian. Agen ini mengaku bahwa salah satu rantainya bersumber dari Antasari, dan biasanya adalah yang posisinya paling tidak membahayakan. Menurut kecenderungan saya, seharusnya polisi lebih aktif menilik hubungan antara Antasari dan SHW, karena dalam rantai ini SHW yang perannya paling jauh dari ‘instruksi membunuh’. SHW ‘hanya’ bertindak sebagai penyandang dana. Instruktor yang sebenarnya kepada WW bisa saja bukan dari SHW.

5. Agen deceptor biasanya dijanjikan ‘perlindungan’ oleh anggota kelompok X yang masih aktif berwenang, dalam artian dia dijanjikan untuk tidak dihukum seberat-beratnya. Ini mirip dengan kasus Munir, dimana Polycarpus bisa disebut sebagai kunci, tetapi ‘tidak terbukti’ dan kalaupun terbukti hukuman yang dijatuhkan relatif ‘ringan’.

Dari seluruh tulisan ini, secara pribadi saya lebih memilih skenario 3b sebagai salah satu varian yang paling masuk akal dalam kerangka berpikir bagaimana Antasari terjebak.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 14, 2009 in Uncategorized

 

Update: Keganjilan dalam kasus Antasari

Keganjilan pengusutan kasus Antasari semakin kuat saja. Setelah pagi ini diperiksa polisi, Antasari resmi dinyatakan tersangka oleh kepolisian. Tetapi ada hal-hal yang aneh seharian ini.

1. Kejaksaan mengumumkan status Antasari sebagai tersangka lebih dahulu daripada kepolisian. Ini aneh, karena kejaksaan tidak mempunyai kewenangan terhadap pengumuman status seorang tersangka. Kejaksaan telah melanggar wewenang kepolisian, dan tampak kejaksaan ‘antusias’ sekali dalam menyatakan Antasari sebagai tersangka.

2. Selang beberapa jam setelah dinyatakan resmi sebagai tersangka, TransTV malam hari menayangkan kisah Antasari dan kasus Nasrudin. Disitu lengkap digambarkan diagram struktur kerja mulai otak pelaku dan eksekutor. Padahal, kepolisian masih menyidik kasus ini. Belum pasti pula posisi Antasari pada rantai diagram kerja yang digambarkan TransTV. Pendapat saya, ini memang mungkin suatu konspirasi besar yang melibatkan suap aparat-aparat penegak hukum, pembunuh bayaran, dan lebih buruk lagi … media massa ??? Betapa tidak, sejak awal berita di televisi sudah mengarahkan opini publik bahwa Antasari adalah otak pelaku pembunuhan. Asas praduga tak bersalah sama sekali tidak dijunjung. Hari ini saya sengaja melihat beberapa koran di Indonesia secara simultan dan yang mengejutkan justru di koran daerah berita ini dikupas secara netral. Beberapa koran lain (dan bahkan televisi) begitu getol membuat pemberitaan yang mengarahkan pendapat publik bahwa benar memang Antasari yang menjadi dalang intelektual kasus ini.

3. Blog Rani diungkap dengan getol di TV. Teman-teman Rani diwawancarai. Kesan dari interview menunjukkan Rani bukan orang yang gaul. Tertutup dan berkesan ‘aneh’. Tapi, blognya ada dan dari tayangan sekilas berkesan sangat ekstrovert menjelaskan tentang dirinya. Lebih aneh lagi, karena biasanya orang menulis tentang dirinya di friendster, facebook, dan sejenisnya. Buah pikir dan karya tulis dipublish di blogspot, wordpress, dsb. Adalah modus operandi yang minor untuk menuliskan ‘tentang saya’ di blogspot. Apakah blog ini otentik milik Rani? Sangat dipertanyakan. Toh, media massa tidak peduli. Seolah melupakan rakyat yang kritis, media terus saja membuat versi mereka sendiri.

4. Isi dari blog Rani hanya ditulis pada satu masa, yaitu November 2008. Mungkin bisa menjadi acuan bahwa di sekitar waktu ini plot konspirasi dimulai, dan blog ini dibuat ‘sekedarnya’ sebagai alibi. Pembuat blog tidak memperhatikan detil-detil forensik, dimana blog ini kelihatan dibuat asal jadi dan tidak praktis, dan dipertanyakan keotentikannya.

Mengerikan sekali. Secara psikologis, saya tidak melihat motif Antasari dalam kasus ini. Ditengah kesibukan KPK memberantas para curut (red:tikus, seperti bahasa Bang Tigor) negara ini, Ketua KPK mestinya tengah pusing memikirkan langkah-langkah menjerat koruptor. Hal ini beralasan, mengingat KPK adalah salah satu organisasi di negara ini yang benar-benar bekerja demi rakyat. Kalau dibandingkan dengan kinerja DPR, kalah jauh sekali!

Jadi kalau alasannya cuma masalah asmara, kok saya nggak yakin Antasari sampai berbuat demikian. Karena dendam yang berbuntut pembunuhan biasanya melalui proses deep thought, deep consideration, pemilihan modus dan pematangan rencana. Baru memilih orang yang dipercaya untuk melakukan eksekusi. Itu menguras waktu dan tenaga, bahkan untuk seorang psikopat sekalipun. Bila bukan seorang psikopat, waktu dan tenaga yang tersita bahkan lebih banyak lagi karena dirintangi oleh konflik batin.

Masa sih, Antasari masih punya waktu ngurusin persoalan-persoalan sepele seperti asmara?

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2009 in Uncategorized

 

Antasari dalam Kasus Nazruddin dan Upaya Penggembosan KPK

Kasus kriminal yang bertendensi politik selalu terjadi dalam konteks ‘penggulingan posisi’ di berbagai negara. Di Indonesia sendiri kasus ini sudah terjadi beberapa kali. Kasus Munir misalnya. Selalu menarik mencermati kasus-kasus seperti ini di Indonesia, karena kasus ‘made in Indonesia’ selalu punya ciri khas: mau menciptakan skandal tetapi kurang sabar dalam persiapan.

Ketika kasus Nazruddin terjadi dan kini tengah menyeret nama Antasari Azhar, pada saat yang sama kini tengah muncul RUU Antikorupsi yang baru yang tengah digodok oleh DPR.

Tidak seperti RUU Antikorupsi sebelumnya, RUU baru ini justru melemahkan posisi KPK sebagai komisi yang paling ditakuti anggota DPR saat ini. RUU ini juga dituding memperbesar peluang seorang koruptor untuk bebas dari jerat hukum.

RUU Antikorupsi yang baru antara lain berisi tentang:

  1. Penyidikan dan proses penuntutan tidak lagi hanya wewenang KPK, melainkan polisi dan jaksa juga. Padahal, kedua lembaga inilah yang sejak jaman Orde Baru sudah diberi kewenangan untuk menangkap dan menjerat koruptor, tetapi toh hasilnya nol besar. Pemberian wewenang kembali kepada kepolisian dan kejaksaan dalam penyidikan kasus korupsi justru akan membuka peluang kedua lembaga ini untuk ‘kong kalikong’ dengan sang koruptor.
  2. RUU Antikorupsi yang baru sama sekali tidak menyebutkan secara spesifik hukuman untuk tindakan tertentu. Artinya, bisa saja seorang yang terbukti sah dan meyakinkan melakukan korupsi miliaran rupiah hanya dihukum penjara 3 bulan minus masa tahanan.

Tak ayal, RUU ini dituding dirancang oleh sekelompok elit pejabat negara yang tengah ketakutan untuk menghindarkan diri dari jeratan KPK. Lantas apa hubungannya dengan kasus Antasari – Nazruddin?

Ya, mudah ditebak. Mungkin pembunuhan Nazruddin bukanlah tentang kriminal biasa seperti yang tengah didengungkan media saat ini. Media massa kini tengah menggiring opini publik seolah-olah kasus Nazruddin adalah kasus pembunuhan biasa (asmara).

Antasari pernah berkata bahwa hubungannya dengan Nazruddin cukup dekat, dan bahkan Nazruddin adalah informan KPK yang berharga dan perlu dilindungi. Mungkinkah Antasari tengah dijebak?

Ditengah fakta bahwa Nazruddin adalah bukan sosok monogami (istrinya dua, dan dalam kasus yang menyebabkannya terbunuh ada lagi satu nama wanita lain yang juga berhubungan dengan Antasari) maka pembunuhan ini dapat dibiaskan menjadi persoalan cemburu dan personal. Padahal, eksekutor dan perencana pembunuhan ini bisa saja memanfaatkan momen ini untuk menembak Nazruddin agar Antasari seolah-olah menjadi dalang pembunuhan ini. Dengan demikian Antasari tidak akan fokus lagi dalam memimpin komisi yang paling ditakuti oleh koruptor ini, dan KPK akan kehilangan salah satu informannya yang berharga.

Seperti yang saya katakan dalam paragraf pertama artikel ini, skenario menjebak Antasari mungkin saja tidak tercium dengan sedemikian mudahnya, tetapi harusnya kita melihat fakta bahwa ada proses penyusunan RUU Antikorupsi yang tengah berjalan paralel dengan kasus ini. Kok bisa kebetulan begitu?

Memang, … otak penyusun skandal ini terkesan kurang sabar …

Mungkinkah KPK memang tengah digembosi?

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 3, 2009 in Politik, Uncategorized

 

Partai Golput akhirnya (lagi-lagi) menguasai Pemilu 2009

Setelah bungkam selama musim kampanye legislatif, kini saya ingin mengomentari hasil pemilu legislatif 2009 ini.

Hasil quick count yang diperoleh dari 3 lembaga survey independen yang bekerjasama dengan KPU menunjukkan bahwa Partai Demokrat unggul dalam Pemilu legilatif kali ini, diikuti oleh PDIP dan Golkar di tempat kedua dan ketiga. Khusus untuk tempat kedua dan ketiga ini masih bisa bertukar tempat karena perbedaan suara yang tipis (kurang dari 1%), sedangkan toleransi akurasi quick count biasanya adalah sebesar 1%.

Tetapi kita juga harus sadar bahwa di dalam Pemilu kali ini ada pula pemenang lain, yang bahkan mengungguli suara Partai Demokrat dengan telak (nyaris dua kali lipat), yaitu Partai Golput.

Jumlah golput dalam pemilu kali ini masih dalam perhitungan, tetapi dari hasil prediksi menyatakan bahwa angkanya mencapai lebih dari 30%, dan bahkan nyaris menyentuh 40%.

Tingginya golput selain disebabkan oleh rakyat yang sengaja tidak memilih suaranya juga disebabkan oleh ketidakprofesionalan kinerja KPU dan KPUD. Tercatat sejumlah masalah seperti:
– DPT yang tidak valid. Ada penggelembungan DPT, dan ada pula pemilih tetap yang sudah expired (sudah meninggal).
– Kurangnya sosialisasi formulir A5, sehingga banyak sekali tenaga kerja mobile (yang berpindah tempat), mahasiswa dari luar daerah, dan penduduk lain tidak bisa mencontreng karena tidak mendapatkan surat suara.
– Minimnya fasilitas KPU di rumah sakit – rumah sakit, sehingga banyak pasien tidak bisa ikut mencontreng. Hal serupa juga terjadi di lapas-lapas.
– Banyak surat suara yang salah distribusi, sehingga menimbulkan kisruh dan pencoblosan ulang.
– Banyak surat suara yang salah, dan nama caleg tidak tercantum.
– Pemilu dilakukan menjelang hari raya, sehingga ikut memberi stimulus para pelaku golput dengan alasan lebih baik dimanfaatkan untuk berlibur.

Kinerja KPU dan KPUD yang amburadul ini mungkin disebabkan karena carut-marutnya proses seleksi caleg. Dapat dimaklumi bahwa dengan 38 partai dan 6 partai tambahan lokal dari Aceh, tugas KPU menyiapkan format – format standar dan mekanismenya bukanlah hal yang mudah. Apalagi dengan adanya caleg-caleg yang berbeda-beda di tiap daerah, menyebabkan unifikasi format menjadi mustahil.

KPU dan KPUD yang sudah overload masih juga direcoki oleh faktor non teknis lainnya. Banyak caleg yang berusaha memanipulasi data dan tidak tertib administrasi. Hal ini tentu saja kian memberatkan beban kerja KPU.

Kendatipun demikian, memang tidak ada alasan bagi KPU sebagai organisasi tunggal penyelenggara perhelatan besar nasional untuk mencari pembenaran atas ketidakprofesionalan ini. Seyogyanya KPU harus lebih bekerja keras menyongsong pilpres yang akan datang. Klarifikasi KPU juga secara etika diperlukan karena telah ikut serta dalam menyumbang ketidakvalidan hasil pemilihan kali ini. Bagaimana tidak valid bila surat suara kosong melebihi pemenang pemilu sendiri?

Tidak percaya caleg

Golput sendiri ditengarai karena rakyat (yang sengaja memilih golput) sudah muak dengan janji-janji semu dari para caleg. Memang, pemilu kali ini bagai ajang pemilihan calon koruptor baru.

Hampir semua orang terjebak bahwa perjuangan caleg menjadi anggota legislatif terpilih adalah sebuah cita-cita. Mereka berjuang habis-habisan demi ambisi terpilih oleh rakyat. Bila terpilih, so what? Apakah hal ini dianggap sebagai suatu keberhasilan dan kesuksesan? Apanya yang sukses? Sukses karena jalan makin lebar menuju kekayaan?

Seharusnya para caleg terpilih semakin rendah hati menyadari bahwa beban untuk mengabdi sudah diletakkan di pundaknya. Kesuksesannya belum terbukti. Yang ada hanyalah jalan yang merentang makin panjang di depannya. Kesuksesan sejati seorang anggota legislatif adalah apabila ia mampu membawa aspirasi rakyat dan membuat perubahan lebih baik demi rakyat.

Para caleg yang belum terpilih, tidak perlu kecewa. Bila memang motivasi menjadi caleg murni karena pengabdian kepada bangsa dan negara, masih banyak jalan lain dalam melayani masyarakat. Tapi bila memang motivasinya hanya mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, ya memang pantas prediksi bahwa 5% caleg gagal akan menjadi gila.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 10, 2009 in Uncategorized

 

Dorce Ternyata Simpatisan Teroris?

Ketika mencari beberapa artikel terkait dengan pelaksanaan eksekusi trio teroris pelaku bom bali 1, saya berhenti pada sebuah artikel di detikNews. http://www.detiknews.com/read/2008/11/09/112244/1033864/10/dorce-hadiri-pemakaman-imam-samudra

Saya agak heran, karena kebanyakan pendukung trio bomber ini adalah kaum garis keras (yang menurut saya sama berpotensinya untuk menggulingkan NKRI dan merongrong pemerintah), tapi toh, orang berdoa tidak ada salahnya.

Yang membuat saya tertegun adalah pernyataan terakhir di artikel tersebut, yang dikutip dari pernyataan Dorce yang menyatakan bahwa saat dimintai penjelasan mengenai tujuan kedatangannya, Dorce hanya
menjawab,”Innalillahi Wa Innalillahi Roji’un. Sudah pasti masuk surga.”

Pernyataan Dorce: “Sudah pasti”, mengindikasikan bahwa Dorce juga sepaham dengan pola pikir jihad ala Amrozi cs, dimana membom 202 turis di Bali dan mencederai permanen 305 korban lainnya adalah tindakan halal, sah, dan dibenarkan oleh Allah. Padahal, sebagian besar kalangan muslim Indonesia ikut mengecam tindakan itu sebagai pencemaran nama baik Islam. MUI bahkan menyatakan bahwa tindakan Amrozi cs bukanlah jihad dalam pengertian Islam sebenarnya.

Dorce, … bila berita itu benar, apakah kau memang sepandangan dengan para teroris?

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada November 9, 2008 in Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,