RSS

Slank vs. DPR + Al Amin

10 Apr

Ribut-ribut di awal bulan April 2008 adalah ketika Badan Kehormatan DPR yang dipimpin oleh Gayus Lumbuun mencak-mencak setelah grup band Slank meluncurkan album barunya Slank Antikorupsi dan nyanyi gratis di gedung KPK. Yang dipermasalahkan BK DPR adalah lirik lagu Slank yang berjudul Gosip Jalanan itu yang dinilai tidak etis, tidak santun (Topik Minggu Ini SCTV, 9 April 2008 23.30 WIB) karena menyebut mafia DPR, dan membuat UUD, .. Ujung Ujungnya Duit. (lihat liriknya disini)

Dalam debat di acara SCTV itu, Gayus dengan nyata kelihatan kebakaran jenggot dengan ulah pengamat politik yang turut menjadi bintang tamu dalam acara tersebut, yang mempertahankan fakta bahwa Slank bermaksud mengritik dan lirik lagu tersebut adalah suatu cermin tentang apa yang terjadi di DPR – setidaknya dari opini masyarakat yang muncul berdasarkan berita yang setiap hari menghiasi surat kabar. Gayus tampak tersinggung dan segala argumen yang dikeluarkannya terdengar murahan dan terkesan debat kusir – suatu hal yang amat wajar bagi dirinya karena posisinya bagaikan berdiri di atas jembatan tissue. Andai saja Gayus tahu bahwa pada acara itu juga diadakan polling via SMS yang ditayangkan online melalui News Tickers, yang hasilnya 99.13% mendukung Slank, 0.58% mendukung DPR dan sisanya Tidak Tahu.

Ketika terpojok, Gayus mempertahankan satu-satunya ‘kehormatan’ yang masih melekat padanya selaku BK DPR dengan mengatakan “Boleh kritik kami (DPR, red) tapi tolong lakukan yang santun.” Ketika ditanya apa definisi santun yang bisa diterima DPR, Gayus tidak menjawab, malah mengeluarkan statement yang menghina host dengan “Anda kembali saja ke SMA untuk belajar apa itu santun.” Suatu jawaban kualitas murahan yang keluar dari mulut seorang Ketua BK DPR. Nyata sekali bahwa komentar pengamat politik itu benar, “DPR tidak kebal kritik, dalam pengertian tidak bisa dikritik.”

Bicara soal kritik, saya sudah berkali-kali mengatakan dalam berbagai forum sejak saya jadi melek pengetahuan sosial di Indonesia, bahwa secara default bangsa Indonesia pada umumnya mewarisi budaya yang diklaimnya sendiri sebagai sopan santun, tata krama, menghormati yang lebih tua dan lama. Ini menyebabkan tumbuh budaya tidak bisa dikritik. Bahwa kritik seyogyanya tidak disampaikan, apabila memang harus disampaikan seyogyanya dengan cara sesantun mungkin, dengan majas eufemisme yang sangat rumit, bahkan kalau perlu disampaikan muter-muter dan berbelit-belit hanya untuk mengurangi ketersinggungan yang bersangkutan. Seringkali hal ini menyebabkan kritik tidak dipahami dengan baik oleh yang bersangkutan dan melanjutkan perbuatannya yang tidak terpuji tadi seolah-olah kritik tidak pernah disampaikan.

Kalau akhirnya sang kritikus jengkel karena peristiwa yang sama terus berulang, kritik halus berubah menjadi kritik pedas, tajam, sindiran, bahkan sarkastik. Lalu tersinggunglah dia – si orang yang punya power, punya kuasa, punya uang, lebih tua, lebih terhormat (katanya); dan tentu buntutnya adalah ancaman tuntutan ‘menyebabkan perasaan tidak enak’. Slank yang lebih muda disini, dipandang ‘kurang ajar’ kepada DPR yang mayoritas ‘lebih tua’, karena lirik lagunya dinilai vulgar dan kasar.

Baru sehari gonjang-ganjing tentang clash DPR dan Slank, muncul berita yang mengkonfirmasi kebenaran kata-kata Slank. Al Amin, wakil dari PPP (Partai Persatuan Pembangunan) tertangkap KPK menerima uang yang diduga suap berkaitan dengan pengalihfungsian hutan Lindung di Bintan. Nah ??? Setelah berita tentang tertangkapnya Al Amin, BK DPR tampak sangat terpukul dan mundur teratur. Dalam cuplikan di berita-berita televisi tampak Gayus dengan malu tetapi tetap congkak – menghardik pers dengan “Kalian diam semua … saya yang bikin pertemuan ini, saya yang bicara …!” ketika didesak seputar Slank dan Al Amin.

Kecongkakan yang berpegang pada kekuasaan, merasa paling kuat di dunia, apalagi didukung oleh tindakan yang tidak terpuji telah banyak didengar masyarakat dari lembaga wakil rakyat Indonesia ini. DPR pun masih merasa perlu bersikap terhormat, walaupun kehormatannya sudah tidak direspek oleh masyarakat Indonesia lagi.

Ironis, karena hampir pada saat yang bersamaan Presiden SBY menegur keras para bupati yang tidur dalam ruang sidang pada saat Presiden menyampaikan pidatonya. “Malu, sama rakyat. Bagaimana jadi pemimpin kalau tidak bisa melayani rakyat”. Ya, pemimpin bukan dipilih untuk dihormati. Pemimpin bukan dipilih untuk dikagumi atau dilayani, melainkan untuk melayani. Pelayanan pemimpin yang baik untuk kesejahteraan rakyat akan menimbulkan rasa segan dan penghormatan dengan sendirinya.

Sayang sekali – khususnya dalam konteks DPR ini – sangat banyak yang beranggapan bahwa uang dan materi adalah segala-galanya. Naik haji berkali-kali dianggap merupakan tolak pangkal penghormatan atas dirinya … yang mungkin juga termasuk yang disebut oleh Slank sebagai ‘Pake peci tapi kelakuan barbar’…. selain ‘… ngerusakin bar orang ditampar tampar’.
Ya kelakuan barbar bukan hanya korupsi, tetapi termasuk juga naik haji dari uang hasil korupsi plus diekspos TV pula ….

Duh duh ….

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada April 10, 2008 in Sosial

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

9 responses to “Slank vs. DPR + Al Amin

  1. bosangjay

    April 10, 2008 at 9:51 am

    Reportasi yang bagus, terimakasih atas analisisnya.

     
  2. blue

    April 10, 2008 at 4:59 pm

    mantaaaab…!! hidup slank

     
  3. faiz

    Juni 13, 2008 at 8:06 am

    slank TOP BGT deh, gk da matinya.

     
  4. wayu

    Juli 19, 2008 at 4:23 pm

    hidup slank, , kritik trus tu para anggota dewan yang kerjanya korup trus . .
    gimana ga’ mau korup . . .
    kampanye buang uang banyak trus cari gantinya dengan korupsi…
    dasar anggota dewan yg dalam otak nya duit melulu , ,
    dihimbau kepada saudara2 GOLPUT aja deh bareng sm aku . .
    yg mau dipilih malah di layani bukan melayani…
    Negara ini harus punya kritikus pedas seperti bang Iwan da slank . .
    mampus lo Al Amin ..
    di hukum mati aja Al AMin pak hakim . .

     
  5. enos

    Juli 28, 2008 at 1:53 am

    slank .,.,..,.,.,.,.,, sambung terus lidah para orang2 tertindas .,.,.,. mereka sebenarnya ingin jeritan mereka, rasa lapar mereka, rasa ketidak nyamanan mereka dan suara hati mereka tersampaikan ke para kunyuk korup itu tapi apa daya kami hanya rakyat.,.,.,,yang hanya mengangguk kepada yang mempunyai kekuasaan,..,,.

     
  6. ims

    Maret 2, 2009 at 4:08 am

    Sebetulnya selain slank ada juga musisi lain yang mengkritisi politikus dan koruptor, ambil contoh Mogi Darusman di era 80-an dengan lagu yang berjudul RAYAP-RAYAP, liriknya kaya gini nih :….
    RAYAP-RAYAP YANG GANAS MERAYAP
    BERJAS DASI DALAM KANTOR MAKAN MINUM DARAH RAKYAT……..dst

     
  7. imanez

    September 17, 2009 at 3:15 pm

    merdeka….singkirkan semua tikus2 busuk dari negara ini,,,,,
    kenapa gak slank ja yg jd Presiden….lo mreka yg jd presiden gue dukung bgt…..

     
    • fahnkissme

      Januari 27, 2010 at 9:50 pm

      slank jgn jd presiden deh. ntar kagak bisa nonton slank maen musik lagi. hehehehehehe
      pisss…
      sukses trus dh bwt slank

       
  8. Andy

    Oktober 5, 2010 at 4:02 am

    bim-bim yg jdi presiden,kaka jdi wkil nya,gmna se 7 gk pra slankers

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: