RSS

Gaji Guru Indonesia – Oh capek deh …

09 Mei

Engkau patriot pahlawan bangsaaaa …. tanpa tanda jasaaa……”

Siapa yang nggak familier dengan penggalan lagu diatas? Rasanya semua pasti tahu. Hymne Guru. Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku ….

Yah, yah, … bla bla bla, yada yada yada. Hymne itu seolah dikarang manis dengan penuh pujian sebagai kedok atas sebuah kenyataan pahit: Guru digaji rendah, so … ya dibayar pake thank you dan kata-kata manis thok!

Dari jaman republik merdeka, rasanya gaji guru kok nelangsa ya? Terutama lagi dengan bertambahnya siswa dan tidak ada lagi yang minat jadi guru (karena gajinya kecil). Ada lagi fenomena ‘guru bantu’, yang kesejahteraannya lebih miris lagi.

Teringat pula akan lagu Oom Iwan tentang fenomena ‘Guru Oemar Bakri’ tahun 1981, yang jelas disebut ‘Pegawai Negeri’, ‘Banyak Ciptakan Menteri’, dan ‘Gaji Guru Oemar Bakri seperti Dikebiri.’ Lagu ini seolah berteriak di era Orde Baru mengenai jeritan guru Indonesia yang tidak juga ditanggapi dengan serius.

Setelah mendekati tiga dasawarsa lagu Oemar Bakri, Indonesia telah dipimpin oleh lima Presiden. Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY. Menarik untuk dicermati bahwa ketika dipimpin Soekarno kondisi sosial ekonomi Indonesia belum tertekan seperti sekarang. Pada jaman yang ‘serba susah’ itu ketimpangan kemakmuran guru dengan profesi lain belum signifikan, tetapi hal itu memang bukan suatu alasan atau tolok ukur yang valid.

Soeharto, yang kepengin dipanggil rakyatnya sebagai Bapak Pembangunan, dalam 32 tahun pemerintahannya tidak juga mengangkat harkat dan martabat guru ke jajaran profesi elit dan mulia seperti lagu Hymne Guru. Menarik untuk membuat hipotesa trivial mengenai mengapa dalam 32 tahun tidak ada perkembangan kesejahteraan guru meski kondisi ekonomi Indonesia membaik. Dalam berbagai artikel termasuk situs kepresidenan Indonesia (http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/biography/index.asp?presiden=suharto) pendidikan formal sipil terakhir arto tidak disebutkan. Hampir semua artikel biografi Soeharto hanya menyebutkan masuk SD tahun 1929 dan tahu-tahu menjadi cerita seorang prajurit di tahun 1940-an. Selebihnya karir militernya yang diekspos, dan riwayat pendidikannya tidak dibahas lagi. Apakah karena Soeharto hanya setingkat SD maka ia ‘kurang berterima kasih’ kepada para guru?

Lihatlah para presiden kita. Bandingkanlah dengan presiden di negara maju. Kalau mau ngomong fair, presiden yang kharismatik, ngomongnya cerdas, tidak membosankan, berwawasan, orator ulung, saya angkat topi ke Soekarno. Tanpa teks ngomongnya berjam-jam dan runut. Presiden yang lain membaca teks yang dibaca persis seperti ketikannya, menimbulkan kesan menjemukan dan adegan tidur di ruang sidang yang semakin banyak. Saya sering mengikuti berita di televisi mancanegara bila ada pidato kenegaraan dari pemimpin negara lain yang bereputasi, baik formal maupun semi-formal, cara berpidato mereka tetap membawa teks sebagai guidelines, tetapi tidak dibaca persis sama. Ada tatapan kontak mata ke audiens. Cara pidato mereka bagus. Nah, saya pengin punya presiden yang kayak gitu, …

Terus apa hubungannya keterampilan pidato presiden dengan gaji guru? Ada. Terampil pidato menunjukkan intelegensi dari sudut pandang tertentu. Intelegensi presiden salah satunya berasal dari tingkat pendidikannya. Presiden yang mengenyam tingkat pendidikan formal sipil yang cukup tinggi selayaknya tahu persis bagaimana nasib guru-gurunya dulu, terutama yang setingkat SD, SMP, SMA. Lha terus? Lha iya, kok ya nggak ada terima kasihnya ya, sama mereka. Kok nggak ada sungkan (bhs Jawa: malu, segan) -nya ya? Sampe wacana gaji guru masih bergulir di 63 tahun kemerdekaan.

Kita ingat, dari lima presiden yang kita pernah punya, ada dua yang bergelar Doktor, salah satunya bahkan seorang Professor. Kita tahu, bahwa nasib suatu bangsa terletak di pendidikan para generasi mudanya (Aristotles), Kita tahu tanggungjawab pendidikan terletak di pundak para guru kita. Kita tahu, para guru sudah ‘ciptakan banyak menteri’ seperti kata Oom Iwan. Kita tahu, para guru kita adalah pahlawan kehidupan kita masing-masing. Tanpa guru, mungkin Anda tidak pernah membaca blog ini karena Anda seorang buta huruf, tidak tahu bahasa Inggris sehingga tidak dapat bekerja dengan komputer Windows yang berbahasa Inggris, tidak berwawasan, dan mungkin juga tidak bekerja. Tanpa mereka mungkin Anda akan hidup dari berdagang, tapi bukan profesional seperti dokter, pengacara, dan bukan pula pegawai, manajer, atau direktur perusahaan besar. Satu lagi yang jelas, bukan presiden, dan bukan pejabat DPR. Fakta terakhir adalah … sampe sekarang profesi guru belum juga menjadi profesi elit terhormat, berduit banyak, dan diidamkan banyak orang. Yang diidamkan orang untuk menjadi pegawai negeri (sampe tes PN selalu berjubel) adalah bukan PN yang model begini ini.

Akankah kita punya pemerintah yang ‘tahu berterima kasih pada guru’? Akankah salah satu dari presiden kita kelak mengangkat derajat guru negeri setara dengan dokter negeri, misalnya? Ataukah pekerjaan guru masih menjadi ‘proyek kamsia ..’ alias ‘proyek terima kasih ..’ dengan semiliar pujian tapi gaji ribuan?

***

Epilog: Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu berterima kasih pada pahlawannya – termasuk yang tanpa tanda jasa.

***

*dedicated to all my teachers and other indonesian teachers who have done tremendous work for all of us. Since I’m neither a president or a legislative people, I’d just say thank you all and hope God bless you.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 9, 2008 in Uncategorized

 

One response to “Gaji Guru Indonesia – Oh capek deh …

  1. kaitokid724

    Mei 10, 2008 at 4:42 am

    Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://pendidikan.infogue.com/gaji_guru_indonesia_oh_capek_deh_

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: