RSS

Catatan Thomas Cup dan Uber Cup: Fair Play, Fair Supporters

15 Mei

Sekali lagi perhelatan akbar piala bulutangkis yang paling bergengsi digelar di Indonesia. Thomas dan Uber Cup. Setelah beberapa periode menghilang dari tanah air, tentu kita menaruh harap yang besar pada tim Thomas dan Uber kita tahun ini untuk merebutnya kembali. Tim kita memang memiliki kans besar untuk melakukan itu, karena faktor lokasi pertandingan di Indonesia yang berarti mereka bisa menghemat tenaga perjalanan, lebih berkonsentrasi karena dekat dengan keluarga dan kerabat, faktor psikologis ‘of being home‘, tidak perlu adaptasi dengan iklim, dan tentu saja tahu persis kondisi arena. Satu lagi, suporter yang sangat antusias mendukung perjuangan mereka.

Saya masih ingat ketika dulu saya menonton para sesepuh bulutangkis kita bertanding. Liem Swie King, Ivana Lie, Susi Susanti, sampe Ricky/Rexy. Saya nyaris tidak pernah absen untuk menonton. Dulu semasa masih sekolah, saya harus selesaikan PR dan belajar cepat-cepat sepanjang siang hanya untuk nonton pertandingan malam hari di TV. Seru.

Bulutangkis kita memang layak dibanggakan. Di tengah keterpurukan bangsa ini di berbagai sisi masih ada hal-hal yang memang kita layak dihargai. Bulutangkis salah satunya. Di tengah sesaknya bangsa ini akan pengakuan diri oleh dunia tentu setiap kemenangan oleh atlet kita yang bak turun-temurun setiap generasi memberikan kepuasan bagi kita. “Yes! Look at us! We are the champion!”

Karena itu saya mengerti ulah suporter yang boleh dibilang sangat gaduh, terutama karena jumlah mereka banyak di pertandingan dalam negeri. Kemenangan sangat penting bagi kita, dan kita berharap akan hal itu. Euphoria yang diluapkan dengan terompet, beaters and clappers, suitan, bahkan yang terkenal di kalangan suporter Indonesia: teriakan khas “Eaaa … huuuu …. Eaaa …. huuuu….” setiap kali bola dipukul bergantian oleh sang jagoan kita dan lawannya, terutama dalam permainan reli.

Saya melihat beberapa protes pernah dilayangkan pada umpire mengenai ini. Bang Soo Hyun dulu ketika melawan Susi pernah mengeluhkan konsentrasi yang buyar. Coach negeri jiran Malaysia pernah protes resmi ketika pertandingan di era Rashif Sidek, yang disambut dengan teriakan huuuu…. dari penonton.

Sesungguhnya saya sangat menyayangkan hal ini. Teriakan ini mampu membuat panas suasana, menyurutkan semangat bertanding lawan atau malah memicu emosi yang pada gilirannya membuyarkan konsentrasi. Tentu hal ini baik untuk atlet kita, tetapi bukankah kemenangan mereka menjadi mudah dan non-teknis? Memang dalam setiap pertandingan ada faktor non-teknis dan salah satunya adalah mental, tetapi sekali lagi dalam pertandingan saya ingin melihat mental bertanding semua atlet yang tidak dipengaruhi oleh war taunt seperti ini. Bagi saya, ini pertandingan bulutangkis, bukan uji nyali, sekalipun keduanya memang terkait, namun bukanlah sebaliknya.

Ya, tidak ada yang disalahkan memang. Kita tentu ingat, saudara jiran kita juga melakukan hal yang sama sehingga para suporter menyuguhkan psy-war yang juga membuat seru suasana. Saya sendiri yang nonton TV di rumah sampai ikut-ikutan merasa seru kok.

Tengoklah para suporter All England yang baru ‘gaduh’ ketika bola
mati. Sama seperti kejuaraan tenis Wimbledon yang sangat tertib. Senyap
saat bola hidup, ribut saat bola mati. Memang ini pertandingan, dan yel-yel adalah hal yang lumrah, tetapi saya rasa tetap ada batas dan etikanya. Terutama saat lapangan yang ‘sempit’ dibandingkan dengan lapangan bola, tentu kepadatan dan tekanan suara (sound density and sound pressure) menjadi amat tinggi. Suporter sepak bola memang lebih gila, tetapi dengan faktor jarak suporter dan pemain, luas arena dan kondisi lapangan terbuka, permainan yang terdiri dari 22 pemain, tentu efeknya beda.

Saya malu bila melihat suporter kita dengan teriakannya “Eaaa…huuuu …..” Bak macan kandang, mentang-mentang di kampung sendiri. Bukan berarti saya mengharap teriakan yang sama ketika nonton di luar negeri. Saya berharap suatu hari nanti penonton kita tertib. Memberikan support sewajarnya, tanpa harus dengan ulah yang merugikan pihak lain. Tentu ini dambaan setiap pihak ketika atlet kita memang pantas dan layak mendapat gelar juara karena kemampuannya lebih baik, bukan kemampuan lawan yang menyurut karena grogi atau emosi. Kesannya lebih beradab, gitu loh.

Dengan masih merasa bangga dan terharu setiap kali tim Indonesia menang di berbagai event, saya merasakan perjuangan tim Indonesia sangat berharga ketika berada di event All England, Olimpiade, dan sebangsanya. Mengapa? Syukur kepada jarak yang jauh dan biaya yang mahal untuk menghadiri event, suporter kita sedikit. Jumlah yang sedikit berarti ‘bisa diatur’ dan perilakunya lebih terkontrol. Hasilnya, suporter kita berlaku ‘lebih terhormat’ dan pertandingan terasa berlangsung dengan lebih fair. Bila atlet kita menang, saya merasa luar biasa bangga. Saya ingat mata saya berkaca-kaca saat Susi menang di Olimpiade dulu. Dengan suporter yang ‘seadanya’, Susi memang telah membuktikan kualitasnya sebagai si nomor satu saat itu.

Berikan tepuk tangan dan sambutan meriah ketika bola mati. Berikan applaus ketika lawan menambah angka. Berikan applaus yang lebih meriah ketika lawan mati. Tetapi hargailah permainan dengan menahan diri dan membiarkan konsentrasi pemain maksimal. Dengan demikian Indonesia lebih disegani dunia di bidang bulutangkis baik atletnya maupun suporternya. Kesan kampungan pun bisa ditepis.

Saya percaya pada talenta atlet Indonesia, yang mampu berkembang dan mengalahkan lawan tanpa harus dibantu dengan ulah saya yang mengejek dan melecehkan lawannya. Bagaimana dengan Anda?

Fair Play includes Fair Supporters.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 15, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: