RSS

Kekerasan dan Televisi Indonesia

17 Jun

Akhir-akhir ini saya sering lihat stasiun televisi Indonesia seperti masuk fase ‘krisis’. Banyak yang tidak mampu memutar tayangan yang bonafide – karena harus bayar royalti ke produser luar negeri. Solusinya, tentu pengadaan siaran yang ‘ekonomis’, sedikit modal, tetapi disukai masyarakat.

Mulailah siaran pemilihan artis seperti ‘Mama Mia’ ala Indosiar, ‘StarDut’, ala Tpi. Murah, karena toh mereka bukan artis. Ratingnya tinggi, karena memang masyarakat kita lagi suka tayangan ‘reality show’, dengan karakter yang menggambarkan persona sehari-hari lengkap dengan segala suka dan duka mereka.

Problem mulai muncul kala konsep ‘reality show’ seperti ‘Playboy Kabel’ ala SCTV. Tayangan ini cukup menarik masyarakat kita yang doyan gosip dan memang cenderung resek alias ‘want to know ajah’ ama kehidupan orang lain. Kisah perselingkuhan yang orisinal diangkat, lengkap tanpa pura-pura, yang sayangnya justru mengeksploitasi kekerasan dan mengumbar kebencian.

Problem lain adalah sinetron. Tidak dapat dipungkiri jenis opera sabun ini juga disukai masyarakat Indonesia. Masyarakat kita memang suka tokoh baik yang dikuyo-kuyo, disengsarakan oleh tokoh jahat. Biasanya si baik ini miskin, anak desa, anak pembantu, pokoknya tokoh lemah, dan si jahat adalah orang yang berkuasa, baik uang maupun jabatan. Mungkin ini memang cermin dari kehidupan sosiologi masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih pas-pasan kebawah. Sebagai wujud ‘doktrinasi’ dan ‘penolakan’ atas kejahatan ekonomi yang melanda sebagian besar masyarakatnya. Yang lemah perlu dilindungi dan dibela (=baik), yang kaya tidak perlu dibela (=jahat).

Benang merah dari kedua jenis tayangan tadi terletak di nuansa kekerasannya. Tidak bisa dipungkiri, tayangan ini sangat tidak sehat bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Dengan jam tayang dibawah jam 21.00 anak-anak bisa ikut menonton dengan leluasa. Coba Anda lihat bagaimana karakter jahat di sinetron dengan sangat mudah ditebak dari penampilan dan dengan kata-kata tidak senonoh yang biasa diucapkan. Kata-kata kurang ajar dan sangat tidak sesuai dengan tata krama masyarakat. Belum lagi tindakan kekerasan dan anarkismenya.

Dalam suatu sinetron, ada adegan dimana seorang pembantu minta ijin pulang ke nyonya rumah karena anaknya sakit. Nyonya rumah mendelik, lalu berkata, “Kamu itu dibayar untuk mengasuh anakku. Emangnya anakmu lebih berharga dari anakku?” Ucapan yang sungguh tidak pantas, dan kalau diterapkan oleh bocah-bocah Indonesia yang belum bisa memilah-milah baik dan benar betul-betul celaka negeri ini jadinya.

Memang dialog itu diucapkan oleh tokoh jahat. Tetapi dengan lamanya durasi sinetron (lihat saja sinetron lawas ‘Tersanjung’, yang sampai lima edisi dengan durasi tayang bertahun-tahun), tokoh jahat akan lama sekali mendapat pembalasan. Tokoh jahat akan lama sekali kalah. Pesan bahwa kejahatan tidak akan menang akan kabur, dan bertahun-tahun itu pula tokoh baik akan dipulosoro, dijajah, disiksa, dikhianati, dimaki, ditampar, diperkosa, bahkan nyaris dibunuh.

Lamanya durasi tayang itu sendiri tentu demi menjaga ‘rasa penasaran’ masyarakat, mempertinggi rating, dan ujung-ujungnya mendulang uang dari pemasang iklan. Low cost, karena memang kualitas pemeran sinetron kita pas-pasan, ditambah lagi artis muda dan dadakan memang bisa dibayar ‘murah’.

Lalu, dengan tayangan sinetron berdurasi dua tahun yang penuh dengan kekerasan, kekejian, dialog yang kurang ajar dan tidak patut ditayangkan, dan sedikit episode dimana kebaikan akan menang, tentu ini akan memberi pendidikan kekerasan yang sangat baik dan contoh kejahatan yang efektif bukan saja bagi anak-anak, tapi bagi orang dewasa juga. Tak jarang kita lihat di tayangan berita suatu tindakan kriminal yang bisa bikin kita geleng-geleng kepala. Darimana lagi inspirasinya untuk merancang kejahatan yang kian sempurna dari hari ke hari? Mungkin juga dari sinetron.

Bak pisau bermata dua, kisah baik-jahat bisa menjadi pendidikan moral yang baik di masyarakat tetapi dengan batas-batas tertentu. Misalnya dengan durasi tayang yang pendek, atau dengan proporsi ‘kemenangan’ bagi tokoh baik yang seimbang. Jangan hanya kalah melulu. Tetapi yang juga mutlak adalah kekerasan harus dihentikan, atau diceritakan dengan sudut pandang berbeda. Tidak perlu harus dieksploitasi bagaimana anak memelototi ibunya, memaki dengan kata-kata vulgar dan kasar, lalu menampar menempeleng, atau menendang ibunya. Ini sungguh tidak patut. Bahkan kekerasan ala Hollywood saja jarang ada yang ditekankan (Inggris: ’empasized’), atau dilebih-lebihkan (‘exagerated’). Bila pun ada, tayangan itu akan masuk kategori R alias 21 tahun keatas. Biasanya pula, penontonnya akan sedikit, tidak sebanyak tayangan PG alias Parental Guidance (Indonesia: BO = bimbingan orangtua).

Sedikit lebih jauh lagi, sering sinetron Indonesia yang menyajikan tayangan kebencian yang diumbar sedemikian rupa, dilebih-lebihkan (sampai muka pemerannya harus berkernyit-kernyit, mata melotot, dan bibir monyong miring-miring sedemikian rupa untuk menggambarkan betapa bencinya terhadap lawan mainnya), atau kekerasan pemukulan dan ucapan yang tidak patut, hanya menampilkan logo BO di ujung kiri televisi. Sudah tepatkah rating itu? Menurut saya, tayangan kekerasan vulgar seharusnya diperlakukan sama dengan tayangan seks vulgar, yaitu disensor saja. Atau seperti di Amerika, dimana hanya bisa ditonton di bioskop dengan filter ketat dari petugas keamanan agar dibawah 21 tahun tidak dapat masuk, dan dijual di bagian khusus di toko DVD dimana seseorang harus menunjukkan bukti bahwa dia berusia 21+ terutama bagi anak muda.

Bila Badan Sensor Perfilman Indonesia sering menyemprit produser film dan sinetron, saya harus menelaah masalah dengan proporsional. Bila produser sampai mengeksploitasi kekerasan dan ketidakpatutan untuk sekedar mendapat efek dramatis yang menghasilkan uang, tentu hal ini ada sebabnya. Bak ada gula ada semut, produser tentu tidak berlomba-lomba menghasilkan sinetron yang lebih kejam, lebih sadis, lebih nggak ilok, lebih tidak patut, lebih kurang ajar, dan lebih-lebih yang negatif lainnya, bila tidak ada penonton yang begitu antusias melihat tayangan-tayangan semacam itu.

Jadi pertanyaannya, siapakah penyebab tayangan ‘sakit’ semacam itu? Produser yang sakit, atau memang masyarakat kita ini memang tengah sakit. Masyarakat kita memang masyarakat yang keras dan kejam, yang menentang kekerasan atas nama kemanusiaan dan hukum, tetapi ironisnya suka sekali menonton orang lain diperlakukan kejam di televisi. Toh itu cuma di TV; mungkin begitu pikirnya. Tetapi saya lihat tayangan di televisi yang bertema kekerasan memang berating tinggi. Entah sinetron entah berita. Sinetron digemari karena tayangan sakitnya, toh berita penganiayaan dan berita kekerasan FPI di Monas (1/6) juga berating tinggi.

Jadi, siapa yang sakit, tayangan TV atau masyarakat kita?

Memang sakit.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 17, 2008 in Sosial, Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: