RSS

Eksekusi Mati: Sumiarsih – Sugeng vs. Amrozi – Samudra

18 Jul

Hari-hari ini adalah trend di kalangan Kejaksaan Tinggi Indonesia yang akan mengeksekusi sejumlah terpidana mati. Dukun AS di Sumatera sudah dieksekusi, dan kemarin malam giliran Sumiarsih dan Sugeng (terpidana mati ‘kedaluwarsa’ atas kasus pembunuhan Letkol Purwanto, 1988 ) dan Usep alias Dukun Pengganda Uang (pembunuhan berantai th. 2007) yang menanti ‘giliran’.

Sampai hari ini ditulis diberitakan bahwa eksekusi Sumiarsih dan Sugeng yang telah diisolasi di Rutan Medaeng Sidoarjo Jawa Timur ditunda. Padahal malam sebelumnya beredar isu santer bahwa Sumiarsih dan Sugeng akan dieksekusi Jumat dini hari. Peti mati sudah disiapkan dan makam sudah digali.

Sangat menarik untuk mengetahui mengapa Indonesia masih menerapkan hukuman mati dan mengapa banyak negara maju terutama Eropa sudah menghapuskan hukuman mati. Di Indonesia tingkat kejahatan sangat tinggi. Malah, beberapa kejahatan modern mengarah ke modus operandi yang makin lama makin brutal dan sadis. Kalau jaman dahulu perampokan klasik selalu didahului dengan bentakan “Harta atau Nyawa”, dengan harapan korban menyerah tanpa perlawanan, kini perampokan modern berazaskan bacok dulu, rampas kemudian, korbannya emang gue pikirin…’ Kalau jaman dahulu pembunuhan dilakukan dengan ‘sederhana’, sekarang bahkan pakai dimutilasi.

Ini adalah landasan utama mengapa hukuman mati tetap diberlakukan agar memberi efek jera kepada masyarakat untuk mencegah peningkatan kebrutalan kejahatan agar tidak semakin menjadi-jadi. Negara yang masih menerapkan hukuman mati pada umumnya adalah negara yang chaotic alias negara yang prosentase masyarakat kriminalnya sangat tinggi, memiliki range penduduk kaya dan miskin terlalu besar, populasi besar, banyak imigran, dalam kondisi revolusi atau baru merdeka. Tetapi tulisan ini tidak membahas mengenai layak atau tidaknya hukuman mati diterapkan di Indonesia.

Mencermati topik utama, Sumiarsih dan Sugeng adalah terpidana mati yang telah ditahan selama 20 tahun dan belum juga dieksekusi. Ini sebenarnya adalah salah satu jenis pelanggaran HAM, dimana ‘nasib’ keduanya terkatung-katung tidak menentu selama 20 tahun – yang merupakan lama hukuman penjara maksimal di Indonesia. Tentu tersiksa, menanti untuk ‘dijemput untuk ditembak’ seperti ini. Suami Sumiarsih, Adi Prayitno, malah sudah meninggal duluan sebagai tahanan karena sakit jantung. Lha ini apa-apaan? Kenapa tidak dieksekusi seperti menantu mereka Adi Saputro di tahun 1992 karena kasus yang sama?

Dalam kasus Sugeng dan Sumiarsih, selama 20 tahun keduanya menunjukkan perilaku tobat. Penyesalan dan perubahan cara hidup adalah suatu sikap mulia, yang juga merupakan harapan dari masyarakat Eropa terhadap para kriminal. Itu sebabnya masyarakat Eropa tidak lagi menerapkan hukuman mati. Seharusnya dalam kasus ini presiden SBY (yang dimintai grasi tahun 2004) menunjuk suatu tim kecil untuk menilai apakah pertobatan ini konsisten selama 20 tahun menjadi terpidana untuk diberikan grasi. Istilah kasarnya, bila memang sudah bertobat, grasi dapat memberikan peluang untuk terus memperbaiki diri dan masyarakat lainnya terutama masyarakat kriminal. Lagi pula, toh mereka sudah menjalani hukuman selama 20 tahun akibat kelalaian pemerintah Indonesia sendiri.

Dalam kasus ini saya membandingkan mereka dengan Amrozi dan Imam Samudra yang belum juga kunjung ditembak. Keempat orang ini memang pantas dihukum mati karena perbuatannya. Tetapi selama 6 tahun dalam tahanan Amrozi dan Imam Samudra sama sekali tidak menunjukkan sikap dan perilaku tobat. Idealismenya masih tinggi untuk ‘memerangi Barat’ dan menganggap semua pendukung ‘Barat’ adalah ‘pantas mati’. Sikap buas bak binatang ini ternyata belum surut juga sedikitpun setelah 6 tahun di bui. Bila diberikan grasi, Amrozi dan Samudra dapat memberikan ‘semangat’ kepada anggota Jamaah Islamiyah dan pendukung Al-Qaeda untuk berbuat lebih brutal lagi, belum lagi kepada jaringan teroris lain dan kriminal pada umumnya. Belum lagi Amrozi dan Samudra bisa ‘menginspirasi’ pemuda-pemuda lainnya untuk berbuat serupa, bisa membentuk kembali sel-sel terorisme mereka. Pada akhirnya, bila berkesempatan bebas (atau melarikan diri?), mereka adalah ancaman bagi masyarakat yang tidak berdosa dalam ‘perang’ versi mereka. Amrozi dan Samudra memang perlu ditembak, sesegera mungkin, terutama mengingat bahwa sampai hari ini pun mereka tetap buas dan tidak bertobat kendatipun sudah membunuh lebih dari 200 nyawa dan melukai ratusan lainnya.

Sebaliknya, Sugeng dan Sumiarsih telah menunjukkan pertobatan. Bila diberikan grasi, mereka mungkin dapat menjadi preseden bagi para kriminal yang diancam hukuman mati untuk melancarkan upaya hukum agar dapat diampuni. Ini buruk bagi sistem hukum Indonesia bila para pembunuh brutal melakukan aksi dan berharap nantinya bakal diampuni, tetapi seharusnya pemerintah melihat ini sebagai kasus per kasus. Bila dalam kasus sekarang ini Sugeng dan Sumiarsih diberikan grasi dan diganjar seumur hidup penjara tentu sudah setimpal dengan perbuatannya, yang ditambah dengan kesalahan pemerintah sendiri yang terlalu lamban mengeksekusi mereka. Sisi baiknya, mereka bisa terlibat aktif dalam kegiatan membantu rehabilitasi narapidana lainnya. Mereka bisa menjadi contoh humanisme yang baik, dimana seseorang sedemikian khilaf dan bertobat, dan diharapkan juga memberikan efek jera kepada masyarakat.

Di masa yang akan datang, seharusnya pemerintah Indonesia tidak main-main dalam pelaksanaan hukuman mati seperti hari ini. Pemerintah Indonesia seharusnya terikat dalam batas waktu maksimal setelah upaya hukum terakhir diajukan, sehingga tidak berlarut-larut seperti sekarang ini. Bukankah pertobatan Sugeng dan Sumiarsih selama ini juga layak dipertimbangkan secara nurani? Jangan hanya dilihat dari segi hukum, karena sepanjang-panjang kata dalam kitab, hukum itu buta. Dilakukan oleh banyak pihak dan ditunggangi oleh banyak kepentingan. Nurani, dapat menilai dalam sekejap, yang sayangnya tidak pernah diakui dalam hukum manusia.

Secara nurani, layakkah Sugeng dan Sumiarsih dieksekusi setelah dikurung 20 tahun dan bertobat? Layakkah Amrozi dan Imam Samudra diampuni? Bagaimana nurani Anda?

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 18, 2008 in Sosial

 

Tag: , , , , , , , , , ,

12 responses to “Eksekusi Mati: Sumiarsih – Sugeng vs. Amrozi – Samudra

  1. queenbee

    Juli 19, 2008 at 6:01 am

    Saya dengar khabar keputusan eksekusi pada Alm. Sumiarsih dan Sugeng berkaitan erat dengan rencana eksekusi Amrozi cs. dalam waktu dekat ini.

    Salam !

     
  2. Pendekar

    Juli 20, 2008 at 3:02 pm

    Tulisan artikel ini adalah KONYOL, seolah menandakan “penulis suara nurani” itu orangnya bloon, karena tidak mau melihat sisi korban selanjutnya. misalnya sugeng atau sumiarsih sebagai pelaku keji pembunuhan itu dibiarkan hidup, alias hukum tidak ditegakkan, maka SUPREMASI HUKUM INDONESIA itu hanyalah bualan, artinya “penulis suara nurani” ini memang #ngga ada masalah# jika dibunuh oleh orang semacam Sugeng atau sumiarsih, karena begitu ringannya Kasus pembunuhan dimata “penulis suara nurani”. KENAPA ANDA LEBIH MEMENTINGKAN HAK PELAKU PEMBUNUHAN DIBANDINGKAN DENGAN HAK MASYARAKAT YANG MASIH HIDUP ???APAKAH ANDA ADA KEINGINAN UNTUK MEMBUNUH SESEORANG HINGGA MUSTI MENJADI PEMBELA HAK ORANG YANG TIDAK MENGHARGAI HAK HIDUP ORANG LAIN ????HAPUS SEMUA ARTIKEL INI….DAN SADARLAH UNTUK MENJADI PEMBELA HAK HIDUP KELUARGAMU, HAK HIDUP TETANGGAMU, HAK HIDUP TEMAN YANG KAMU SAYANGI !!!!!

     
  3. Pendekar

    Juli 20, 2008 at 3:20 pm

    Bandingkan

    Orang Bara.t, membunuh satu dusun dengan mesiu dan bom
    (ANDA DIAM SAJA !!!!!, palestin, afganstn, ira.k, )

    Orang Teroros, membunuh satu gedung
    (ANDA BEGITU GERAMNYA !!!!!!)

    lANTAS DIMANAKAH LETAK KEADILAN PEMIKIRAN ANDA…….
    Teroris bagi Ba.Rat adlah orang yang menenatng perilaku mereka

    JIka mereka membunuh, memang pantaslah untuk dibunuh, Itulah keadilan
    LANTAS DIMANAKAH ARTIKEL ANDA TENTANG PEMBUNUHAN ORANG-ORANG BARAT DI BLOG ANDA ???????

    bELOM TENTU we’ TE cE TUH YG NGUSAK ORANG AL q8EDA
    BISA JADI YG NGUSAK PEMERINTAH bU-$h SENDIRI,
    MAKLUM…
    UNTUK BISA JADI ALASAN UNTUK MENGHANCURKAN NEGERI ORANG
    UNTUK BISA MEMBUNUH DENGAN ALASAN HALAL DINEGERI ORANG
    UNTUK BISA MENGHANCURKAN HIDUP ORANG DAN MEMBERI KETAKUTAN DENGAN SENJATA DI NEGERI ORANG…
    iTU KNAPA ??? KARENA SENJATA ITU JUGA ADA KADALUARSANYA
    PERCUMA JIKA DIBUANG..
    ganti dengan barang berharga seperti MINYAK
    UNTUK SENJATA…
    DIMANA PABRIKNYA….???
    dIMANA PENGEMBANG Kemajuan senjataNYA…..???

    KENAPA TIDAK DITULIS DI BLOG INI….????
    KENAPA ????

    btw, ALASAN ITU SEMUA BELOM TERBUKTI BENAR, ALIAS ISU bA@rAT DOANG

    lANTAS DIMANAKAH LETAK KEADILAN PEMIKIRAN ANDA…….
    LANTAS DIMANAKAH ARTIKEL ANDA TENTANG PEMBUNUHAN ORANG-ORANG BARAT DI BLOG ANDA ???????

     
  4. NgEdaBuzz

    Juli 21, 2008 at 8:15 am

    gw liat di news.ticker tv one n koran, yg nyekar n simpatisan sumi-sugeng byk jg. mnurut gw dlm hal ini memang hukum sudah ditegakkan, mrk jg udah takdirnya dieksekusi, cuma pemerintah emg kelamaan tapi dlm kasus ini tyt msyrkt kita yg welas-asih jg byk, gw sndiri jg antara setuju dan tidak krn mrk dah tobat, bingung dahhh….

    saudara Pendekar kyknya antusias sekali ama kekerasan, bunuh balas bunuh, dan kyknya pengin jg nge-bunuhin Barat … ngeriiii ah… ngacirrr ahhh…. *kaburrrrr

     
  5. edam

    Juli 21, 2008 at 8:42 am

    Nurani saya ialah: hukum harus ditegakkan tapi pendapat saudara ada benarnya. Keluarga korban saja sudah maafkan Sumiarsih dan Sugeng. Secara pribadi saya ikut menyayangkan mengapa harus nunggu sampe tobat baru eksekusi, tapi saya berdoa karena mereka menghadap Tuhan dengan kondisi sudah tobat, semoga diampuni dan diterima disisiNya, amin.

     
  6. wakakka

    Juli 21, 2008 at 10:06 am

    teroris indo itu yang aneh. bukan orang BARAT, bukan pula keturunan AFGHAN. mereka asli INDONESIA, wong dari JAWA, tapi ikut-ikutan ngebom ngebom n mbenci BARAT, weleh wueleh… Indonesia gak mungkin dibom AS, kecuali kalo pemimpinnya ikut-ikutan neror di AS dianggap negara teroris ama AS. Tapi teroris yang benci AS bisa ngebomin kita-kita di INDO tercinta ini … tuh tempo hari ada yang ketangkep mau ngeledakin bom di padang, duh duh gustiii… gak ikut perang ikut dibenci dan dibom… setuju dah teroris harus dienyahkan.

     
  7. yok_suharso@xxxxx.xx.xx

    Juli 21, 2008 at 10:40 am

    bung pendekar, saya kurang sependapat dengan anda saya lihat artikel di blog ini membela semua hak hidup manusia, yang berlaku manusiawi. menilik dari kalimat di blog, di tiga alinea terakhir penulis:

    “Ini buruk bagi sistem hukum Indonesia bila para pembunuh brutal melakukan aksi dan berharap nantinya bakal diampuni” (artinya bila mereka diampuni = penulis setuju eksekusi)

    Menyatakan bahwa pelaku kejahatan agar segera ditindak sesuai hukum. Saya kira inti artikel ini adalah: bila seseorang yang baik harus dibela, seorang yang tidak manusiawi dan “buas” menurut bahasa penulis harus dienyahkan karena bisa menjadi bencana bagi masyarakat, dan seorang yang bertobat perlu dihargai kerana semua orang pasti pernah khilaf dan salah. yang penting adalah mau menyesal dan bertobat, betul itu hal terpuji. dan dalam hukum telah dihukum pula. sugeng dan sumiarsih memang telah dihukum 2x, dikurung 20 th dan dieksekusi, saya kira saudara penulis berusaha merujuk ke ketidakadilan pada poin itu dan ancamannya terhadap masyarakat. itu saja.

     
  8. yok_suharso@xxxxx.xx.xx

    Juli 21, 2008 at 10:46 am

    maaf saya kurang kata, …penulis setuju eksekusi thd pembunuh yang kejam dan kriminal yang sadis tapi berusaha menunjukkan poin kalo sugeng-sumi sudah tehukum oleh keteledoran pemeriintah kita. sori terpotong bung admin..

     
  9. Samantha

    Juli 24, 2008 at 6:30 am

    Kita bukan pendekar penegak keadilan. Sebuah ketidakadilan bolehlah kita memberi komentar. Bahwa ada ketidakadilan di tempat lain, kita tidak wajib memberi komentar.

    Untuk Bung Pendekar, rantai isu kalau mau ditulis tidak ada habisnya. Yang satu ngomong kriminal, ditanggapi isu barat. Kalau mau dirantai, Afghan dan Irak pun ada salahnya, mereka juga bukan malaikat. Perlukah ikut dihujat? Ada anak presiden melakukan pembunuhan terencana, hukumannya ringan, haruskah dikomentari juga?

    Daripada sibuk mengubah dunia, lebih baik kita mulai dari diri sendiri untuk menjadi manusia yang tidak melakukan kesalahan besar seperti yang diceritakan. Membenahi orang lain bukan tugas kita, tapi membenahi diri sendiri memang tugas kita.

     
  10. Lunar

    November 1, 2008 at 5:05 am

    semakin majunya zaman, semakin pula kehancuran itu datang. oleh karena itu bersatulah untuk menghadapi akhir zaman.
    hakim yang sejati adalah Sang Pencipta. oleh karena itu cintailah sesamamu walaupun dengan kekurangannya atau kelebihannya. jangan menghakimi sesamamu karena kita diciptakan untuk menjadi rekan kerja Sang Pencipta.
    saya, bukanlah seorang yang suci atau orang yang benar,saya tidak luput dari dosa,dan tidak ada manusia di dunia ini yang benar, tetapi kebenaran itu ada pada sang pencipta.oleh karena itu, saya mencoba untuk mengajak kita-kita semua untuk menciptakan sesuatu yang indah. kekerasan, kebrutalan, bukanlah jalan yang terbaik untuk menciptakan keindahan itu, tetapi kasih dan cintalah yang mampu menyeimbangkan ketidak stabilan ini.

     
  11. Eldwin

    November 9, 2008 at 3:00 pm

    saya setuju bung admin!!!
    terjadi ketidak adilan disini,,
    orang sudah tobat, hidup terkatung 20 tahun.. ehh.. akhirnya dihukum mati juga..
    yang satunya ,, dah nggak tobat , tetap pada idealisme bahwa SEMUA orang barat adalah hina,, di penjara bentar, juga di hukum mati..
    padahal nggak semua BARAT membenci kaum tetanggaku..
    waktu Bush menyerukan perang dengan negara afghanistan,, ada juga orang BARAT yang menentang dengan keras,,
    jadi,, jangan lah menilai suatu kaum dari sebagian saja,,dari pihak Islam, jangan menilai BARAT = jelek, hina, kotor, dari pihak barat juga jangan menyamakan Islam = teroris.
    khan enak klo kita nih hidup damai!!
    hidup saling menghargai antar umat beragama,,
    kapan itu akan terjadi????

    Untuk hukuman mati di Indo,,
    ndak SETUJU!!!
    hukuman mati = tidak efektif
    Gbu

     
  12. nailul

    November 14, 2008 at 2:48 am

    memang tindakan amrozi dkk memang baik tapi caranya yang gak baik seharusnya kalau mau berjihat itu di daerah perang seperti irak itukan negara islam yang dijajah orng-orng yang kurang berakhlak. amerika menjajah hanya untuk mengambil kekayaan orag islam aja. semoga presiden amerika yang baru ini bisa memberhentikan peperangan ini. agar negara di dunia ini bisa menjadi dunia yang damai.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: