RSS

Hukuman Mati: Prioritas terhadap Pembunuh vs. Teroris

19 Jul

Akhirnya Sugeng, Sumiarsih, dan Usep dieksekusi juga. Tiga orang
terpidana pembunuhan yang melibatkan multi-nyawa hilang ini dijatuhi hukuman mati, hukuman maksimal di Indonesia terhadap perbuatan kriminal
yang dinilai melampaui batas-batas perikemanusiaan di mata hukum.
Memang, suatu kasus pembunuhan belum tentu dijatuhi hukuman mati di Indonesia.
Ada poin-poin kekejaman, jumlah nyawa yang hilang, dan kekejian
perencanaan yang menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman mati.

Seorang blogger memberikan komentar dalam posting saya sebelum ini,
memberitakan bahwa santer-santernya pemerintah mengeksekusi
terpidana-terpidana mati ini karena berkaitan dengan menjelang eksekusi Amrozi. Saya pun
mendengar gosip serupa, bahwa ada desakan sosial-politik, bila Amrozi dieksekusi sekarang maka berkesan pemerintah berlaku tidak adil. Mengapa
terpidana yang lawas belum dieksekusi dan yang baru (Amrozi dkk) malah akan
dieksekusi duluan?

Hukum harus dijunjung tinggi dan adil. Hukum juga tidak bisa berlaku ‘iri-irian’. ‘Yang itu aja belum ditembak, kok yang ini duluan?’ Tidak bisa begitu. Tidak bisa juga melihat bahwa eksekusi mati Dukun AS, Sugeng, Sumiarsih, dan Usep adalah PR yang tertunda, dan harus diselesaikan sebelum mengerjakan PR-nya Amrozi dkk.

Pembunuhan dan Terorisme adalah tindakan kriminal. Meskipun demikian, tingkat ancaman bagi masyarakat (potential threat) kedua jenis kejahatan ini sungguh sangat berbeda. Di dalam suatu kasus pembunuhan belum tentu mengandung unsur terorisme, dan dalam suatu kasus terorisme hampir pasti dipastikan mengandung plan tentang pembunuhan yang sangat terencana dengan rapi. Di Amerika, pembunuhan yang menyertai tindakan terorisme hampir dipastikan memenuhi pasal Second Degree Murder, alias pembunuhan terencana tingkat dua.

Dalam peristiwa pembunuhan berencana biasanya pelaku memiliki motif pribadi yang terukur. Motif ini biasanya adalah motif jangka pendek (temporal and seasonal motive), dimana tindakannya didorong oleh rasa benci, marah, takut, atau kombinasi diantaranya, namun biasanya bersifat sementara. Motif ini belum ada sebelum pemicu muncul, dan apabila seandainya rasio si calon pembunuh mampu menguasai perasaannya biasanya motif ini bisa surut dengan sendirinya. Dengan kata lain, motif ini muncul diluar rasionya karena ledakan emosi. Durasi emosi yang menguasai nalar ini beragam, mulai dari hitungan detik, hingga hari. Contohnya pembunuhan yang berlatar hutang, cemburu, atau takut ketahuan pihak lain setelah melakukan tindakan yang buruk.

Sebaliknya pada peristiwa terorisme, motifnya bersifat laten. Terorisme sangat erat dengan ideologi. Teroris memiliki cara pandang sendiri terhadap suatu permasalahan yang bisa dikategorikan radikal terhadap cara pandang normal. Teroris selalu melakukan perubahan yang diusulkannya dengan jalan kekerasan dan revolusi, bukan evolusi. Maunya cepat dan segera, tanpa peduli harga yang harus dibayar. Doktrin ini menanamkan kebencian yang laten, dan makin lama makin besar. Pada level tertentu, kebencian ini harus diwujudkan dalam bentuk aksi, walaupun mengorbankan nyawa sendiri. Karena itu tindakan terorisme sering pula mengacu ke aksi bom bunuh diri. Motif seorang teroris tertanam di otak dengan kuat sebagai doktrin. Layer letak motif ini berbeda dengan pembunuh biasa, dimana motif seorang teroris terletak dalam jati dirinya. Perlu waktu lama dan nyaris mustahil untuk menghilangkan suatu doktrin dan fanatisme dalam diri seseorang. Ibarat komputer, bukan hanya harus menghapus sebuah file, namun seluruh sistem operasinya.

Karena itulah bahaya terorisme harus dianggap sebagai ancaman yang senantiasa mengintai masyarakat. Perlakuan terhadap tindakan terorisme harus dianggap sebagai ancaman terhadap negara dan diberlakukan sebagai prioritas utama. Terorisme mirip dengan perilaku psikopat, dimana korban belum tentu berkorelasi langsung dengan pelaku dan motifnya, tetapi tindakan terorisme jauh lebih terukur dan terprediksi daripada pembunuhan psikopatis yang lebih bersifat erratic.

Bila hukuman mati dihapuskan, pelaku pembunuhan bisa direhabilitasi dan peluang untuk dimasyarakatkan kembali jauh lebih besar daripada pelaku teroris apabila mereka bertobat. Peluang pelaku pembunuhan untuk bertobat jauh lebih besar bila menyadari tindakannya yang sudah kelewat batas. Sebaliknya, paradigma pelaku teroris yang menganggap bahwa korbannya layak mati demi cita-citanya, dan dirinya pun siap mati demi kelompoknya adalah suatu tindakan yang sangat sulit diluruskan. Bila tidak dihukum mati, hukuman yang cocok bagi pelaku terorisme adalah pengucilan total, diasingkan, agar dalam lapas tidak mempengaruhi dan menginspirasi narapidana dan orang lain. Dalam tradisi Eropa lama daerah tujuan pembuangan diantaranya adalah Australia dan Amerika. Di Indonesia, Amrozi dkk harus dibuang di suatu pulau terisolir, dalam kompleks tahanan yang ekstra ketat, tidak boleh bertemu dan berkomunikasi dengan siapapun, dan tidak boleh dikunjungi oleh siapapun termasuk keluarganya agar tidak menginspirasi dan mengkader keluarganya lebih jauh. Mungkin predikat kompleks tahanannya bukanlah “Lembaga Pemasyarakatan” (Penitentiary) karena mereka bukan dimasyarakatkan, tetapi memang adalah Penjara (Jail) dalam pengertian Eropa lama, dimana mereka diputuskan total hubungannya dengan masyarakat agar tidak mencemari dunia dengan tindakan dan pandangannya.

Di Indonesia yang masih menerapkan hukuman mati, Amrozi dan Imam Samudera seharusnya menjadi prioritas utama dieksekusi, segera setelah intelijen mengumpulkan cukup informasi mengenai keberadaan sel-sel mereka. Ini masalah National Security. Bila mereka sampai melarikan diri, ancaman bagi masyarakat dunia secara keseluruhan sangat besar, karena mereka tidak pandang bulu dalam memilih korban. Ini lain dengan bila seandainya Sumiarsih yang melarikan diri, dimana dia sebenarnya bukanlah ancaman bagi orang lain (karena tidak punya dendam lagi dengan siapapun). Targetnya dahulu adalah Letkol Purwanto, dengan motif hutang. Potensi dan ruang lingkup ancamannya sekarang jauh lebih kecil dan hampir nol. Saya yakin Sumiarsih tidak akan membunuhi orang-orang dikampungnya, teman-teman di selnya, atau bahkan keluarga Purwanto yang tersisa, karena tidak ada motif lagi.

Oleh sebab itu, bila pemerintah Indonesia mendahulukan PR-PR yang tertunda dalam rangka akan mengeksekusi Amrozi dkk, ini adalah langkah yang sangat salah. Kasus ini tidak boleh sekali-kali disamakan dengan kasus pembunuhan biasa. Yang telah dilakukan Amrozi dkk adalah suatu gerakan laten, mengancam masyarakat dalam skala dunia, dan pada akhirnya mengancam reputasi dan integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan, seseorang yang telah sah terbukti sebagai seorang teroris sebelum merenggut seorang korban pun, pada hakekatnya layak dijatuhi hukuman mati bila pandangannya telah mencapai level tertentu. Apa bedanya teroris dengan pendukung partai komunis di tahun 1965, yang belum membunuh seorang pun tetapi sudah dibunuh massa? Ditangkap aparat dan dieksekusi? Ini karena negara, pemerintah dan rakyat pada masa itu, menganggap mereka adalah ancaman, dan harus dihilangkan nyawanya sebelum merenggut nyawa masyarakat itu sendiri. Ironis memang, dan kaum pendukung HAM boleh berteriak memprotes keras, tapi itulah sosiologi masyarakat dalam menyikapi sebuah potensi ancaman yang tidak terbantahkan.

Masalah apakah terpidana pembunuhan, narkoba, dll harus dieksekusi adalah masalah yang tidak boleh dikaitkan dengan Amrozi. Dieksekusi atau tidak, sepenuhnya tergantung grasi yang merupakan hak prerogatif Presiden.

Jadi, KAPANKAN AMROZI DKK DIHUKUM MATI?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 19, 2008 in Sosial

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

One response to “Hukuman Mati: Prioritas terhadap Pembunuh vs. Teroris

  1. rio

    April 1, 2011 at 6:00 pm

    benar2 analisa yang mendalam dan sangat masuk akal.saya sependapat dengan anda.target teroris itu adalah kelompok masyarakat yang bertentangan ideologi dengan mereka.namun korban2 mereka kebanyakan adalah masyarakat yang tidak berdosa yang mereka anggap merupakan bagian dari kelompok tersebut.jadi bukan hal yang mustahil jika suatu saat kita menjadi sasaran dari serangan mereka.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: