RSS

Apa benar hanya Sumiarsih cs yang tak bernurani? Purwanto Juga!

23 Jul

Fakta ini dapat Anda baca di harian Jawa Pos edisi 20-23 Juli 2008. Bila Anda tidak sempat membacanya, saya copy ini online dari halaman http://www.jawapos.com (bagian 3 dan 4 aja yah, udah cukup panjang, tapi udah inti cerita)

Bag 3: http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=13488
Bag 4: http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=13652

Saya copy juga ke blog ini just in case JawaPos memindahkan archive file ini.

Kesimpulannya adalah: setan yang paling berbahaya memang adalah yang berwujud manusia. Ibarat ada asap ada api, karakter Purwanto yang munafik dan berkuasa menekan dan memeras Sumiarsih, ‘rekan bisnisnya’ yang ditikamnya sendiri dari belakang. Walhasil, orang yang kepepet pun ‘ketularan’ kesetanan.

Saya kira pada jaman Soeharto dulu wartawan akan berpikir dua ribu kali untuk menelanjangi kebenaran ini dan menghadapkannya kepada publik. Sekarang kita tahu, apa dan siapa itu Purwanto. Saya kira selain kebiadaban Sumiarsih mengeksekusi Purwanto tahun 1988 itu, Purwanto juga punya sisi kebiadaban tersendiri. Menyalahgunakan wewenang, jabatan, dan kekuasaan, suatu hal yang tidak pantas dilakukan seorang perwira, tapi terlalu amat sangat sering disalahgunakan terutama pada waktu itu.

Hukum Tuhan adalah hukum yang paling adil. Dulu semua manusia yang mengetahui cerita ini berpihak kepada kel. Purwanto. Kini Anda tahu, dan kita tentu sadar, Tuhan jauh lebih adil daripada kita semua dan Ia telah bertindak adil sejak awal cerita ini terjadi.

Hikmah dari kejadian ini adalah suatu tragedi sosial, seorang yang tidak punya keahlian kecuali menjual diri, membuka bisnis prostitusi, seorang oknum perwira mafia yang haus seks dan uang, pertemuan keduanya menghasilkan ini. Saking besarnya tragedi ini, yang satu dulu pantas dibunuh menurut yang satunya, dan yang satunya itu sekarang pantas dibunuh berdasarkan hukum, duh … padahal semua bermula dari ‘mencari makan tanpa keahlian.’

Semoga Tuhan mengampuni mereka semua. Semua yang diawali tidak baik sulit berakhir baik.

BAGIAN 3
Berita Utama

[ Selasa, 22 Juli 2008 ]
Kisah Hidup ”Mami Rose” Sumiarsih Menuju Eksekusi Mati (3)

Terjebak Kongsi Wisma Bordil di Gang Dolly

Setelah sukses mengembangkan “karir” dan memupuk modal di
Jakarta, Sumiarsih memutuskan pulang ke kampung halaman. Bersama suami
baru, dia lalu membuka bisnis esek-esek di Surabaya. Berikut penuturan
langsung wanita itu kepada ITA SITI NASYIAH.

Dengan
uang yang rutin aku kirim dari Jakarta, rumah kami di desa yang dulu
dari gedheg (anyaman bambu) dibangun dengan batu bata. Bahkan, rumah
kami sudah jadi rumah gedong menyamai rumah Pak Lurah. Sugeng juga
sudah bisa bersepeda. Empat adikku semuanya sudah mengenakan perhiasan
di leher, jari, maupun tangan.

Pergaulan high class-ku
(sebagai hostes) di Jakarta berimbas pada kehidupan pribadiku. Aku jadi
emoh tinggal di desa terpencil, seperti Ploso. Agar terlihat seperti
orang kota, aku pun membeli rumah di kota Jombang. Tepatnya di Jalan
Gajah Mada. Ini kulakukan agar adik-adikku tidak terlalu jauh jika
pergi sekolah. Maklumlah, saat itu sekolah yang bagus hanya ada di kota
kabupaten. Aku ingin adik-adik dan anakku bisa menikmati fasilitas
terbaik.

Kepindahan kami ke kota seperti kampanye. Yang
mengiring ratusan. Saking banyaknya yang ikut, untuk mengangkut mereka,
orang tuaku menyewa truk.

Manisnya Jakarta terus kureguk.
Ibarat minum air laut, aku selalu kehausan, demikian juga dengan
diriku. Kian hari kian ketagihan. Aku lupa daratan. Norma-norma agama
sudah kulanggar semua. Aku juga sudah terbiasa hidup tanpa ikatan.

Penghasilanku makin besar jika aku di-BL (booking luar).
Saat itu, rasanya, uang itu tidak ada artinya. Sambil menimang uang
gebokan, pikiran jelekku keluar. ”Kenapa tidak dulu-dulu seperti
ini,” ucapku dalam hati. Hotel Indonesia -saat itu paling besar dan
paling terkenal- jadi tempatku mangkal sehari-hari.

Aku pernah
ikut (di-BL) kunjungan kerja seorang menteri ke Batam selama seminggu.
Pulangnya, uang yang diberikan bisa kupakai beli mobil (Suzuki) Carry
baru. Ya, hitung sendiri deh, berapa kira-kira.

Dampak
lain dari profesiku itu, aku juga sudah keliling Indonesia. Apalagi
jika bukan mengikuti ”kunjungan” para pejabat. Ya, itung-itung,
sambil kerja, aku juga bisa piknik gratis, gitulah.

Saat
ke Jakarta dan bekerja sebagai hostes, awalnya aku sudah bertekad tidak
jatuh cinta kepada lelaki mana pun. Namun, Hasan Winarya, seorang pria
beristri dan beranak, berhasil mencuri perhatianku. Ketelatenan dan
kelembutan pria keturunan China Lampung itu menjadikan hatiku terlena.
Aku benar-benar mabuk oleh perhatiannya. Mungkin, perasaan itu tumbuh
lantaran di Jakarta aku hidup sendiri.

(Dari Hasan Winarya,
seorang pengusaha kontraktor ibu kota saat itu, Sumiarsih mendapat
hadiah rumah di kawasan Senayan, Jakarta. Dari hasil hubungan itu,
lahir Rose Mey Wati, perempuan, anak kedua, yang saat berusia empat
bulan dititipkan ke neneknya di Jombang).

***

Karena
tak kunjung dinikahi dan terus didamprat dan iba dengan istri dan
anak-anak Hasan Winarya, Sumiarsih lalu memutus hubungan dengan Hasan.
Dia lalu memutuskan kembali ke Jombang.

Di sisi lain, kembalinya
Rose alias Sumiarsih ke Jombang menjadikan buah bibir tersendiri di
kampung halamannya. Tak sedikit lelaki yang coba-coba mendekatinya.
Maklum, Rose memang cantik. Di antara lelaki yang tertarik kepada Rose
adalah Djais Adi Prayitno. Duda dua anak tersebut terang-terangan
mengatakan ingin mempersunting dia.

Nganpunten (maf) lho,
Mas. Saya tidak ingin pacaran lagi. Malu. Sudah tua. Saya mencari calon
suami,” kata Rose kepada Prayit ketika lelaki itu menyampaikan isi
hatinya.

Sebaliknya, lelaki berkaca mata itu gembira dengan
ketegasan Rose. ”Kalau Jeng Sih mau mencari suami, saya siap menikah.
Kapan pun diminta,” ujarnya menimpali kalimat Rose.

Rose
mengatakan sebetulnya masih mencintai Hasan Winarya, ayah Wati. Namun,
Sumiarsih melihat Prayit sabar dan bertanggung jawab. Sadar bahwa dia
butuh pendamping untuk menata hidupnya ke depan, Rose pun menerima
pinangan Prayit -panggilan akrab Djais Adi Prayitno- untuk menikah.

Sumiarsih
memang tak punya keahlian selain pengalamannya menjadi hostes dan
mengelola salon plus (beberapa kapsternya juga wanita panggilan) di
Kebayoran Baru, Jakarta. Karena itu, setelah menikah dengan Prayit,
keduanya memutuskan membuka binis esek-esek. Pilihannya jatuh ke Dolly,
kawasan pelacuran terkenal di Surabaya.

Launching rumah
bordil dua lantai Happy Home (HH) dilakukan pada awal 1975. Rumah
berukuran 8 x 15 meter itu diharapkan jadi tumpuan hidup keluarga.
Letaknya di gang Dolly bernomor 2B. Pada awal pembukaan HH, Mami Rose
-panggilan akrabnya di Dolly, hanya menampung sepuluh orang pekerja
seks komersial (PSK). Tapi, yang membuat wisma HH jadi harum karena PSK
di sana masih sangat belia dan cantik-cantik. Usianya berkisar 15
tahun.

Para PSK itu direkrut secara terang-terangan. Becermin
dari pengalaman hidup Sumiarsih, para remaja itu berasal dari kalangan
tidak mampu. Mereka ini adalah korban perdagangan wanita. ”Kowe
gelem gak melu ngladeni tamu nang omahku Suroboyo. Tugasnya ngancani
ngombe. Tapi, nek tamu ngajak turu, kowe yo kudu gelem.
(Kamu mau
ikut menemani tamu di rumahku Surabaya? Tugasmu menemani minum. Tapi,
kalau tamu minta dilayani tidur, kamu harus mau),” ujar Mami Rose
Sumiarsih kepada para calon PSK saat wawancara. Karena terdesak faktor
ekonomi, rata-rata gadis yang datang kepada Rose bersedia secara suka
rela.

Para PSK yang dikaryakan kebanyakan janda muda dengan
berbagai problem. Ada yang ditinggal kawin suami, ada yang suami
pengangguran, dan tidak sedikit wanita yang punya anak tanpa bapak.
Tarif short time PSK di HH Rp 25 ribu. Dari jumlah itu, Mami Rose dapat 70 persen.

Berbeda
dengan para mucikari lain, setoran yang 70 persen itu diolah lagi oleh
Mami Rose. Sebesar 50 persen masuk kantong pribadi, 10 persen biaya
makan dan minum PSK, dan 10 persen untuk biaya kursus. Untuk yang
terakhir itu, PSK biasanya sekolah modes di daerah Pasar Kembang yang
tak jauh dari Gang Dolly.

”Kalian-kalian tidak boleh selamanya
jadi balon (PSK). Di sini kamu semua harus mentas setelah tabunganmu
cukup,” kata Rose saat membrifing anak buahnya sebelum diterjunkan ke
lembah hitam.

Selain tamu dari kalangan biasa,Wisma HH kerap
didatangi lelaki dari kalangan tentara. Salah seorang di antara lelaki
itu tidak lain adalah Letkol Marinir Purwanto. Bapak tiga anak itu
punya jabatan prestisius: kepala Primer Koperasi Angkatan Laut
(Primkopal) di Pangkalan Angkatan Laut, Ujung, Surabaya. Seperti
pengunjung yang lain, Purwanto kerap bersenang-senang dengan anak buah
Sumiarsih.

Yang membuat Mami Rose girang, kehadiran Purwanto
dianggap sebagai ”pelindung”. Maklumlah, dunia hitam seperti itu
rentan berbagai kejahatan dan keributan.

Suatu hari, saat
menyambangi Wisma HH, Purwanto mengajak omong-omong serius Mami Rose.
”Mi, kalau aku buka usaha (membuka rumah bordil di Dolly) seperti
punyamu, apa masih laku ya,” kata Purwanto seperti ditirukan Sumiarsih.

Pucuk dicita ulam tiba. Tawaran ini bersambut. Mami Rose mengakui ”penghuni” HH sudah overload.
Sebelumnya, Rose berpikir ingin melebarkan sayap. Namun, untuk
memperluas bangunan, tidak mungkin karena tanahnya terbatas. Mau
membeli rumah baru, uangnya juga belum mencukupi. ”Kebetulan sekali,
kalau Pak Pur mau bikin di sini,” kata Rose terus terang.

Berkat
kongsi usaha dengan Puwanto itu, tepat pada ulang tahun kelima Wisma HH
(1980), Mami Rose membuka “cabang” kedua. Kebetulan, ada wisma yang
dijual pemiliknya karena bangkrut. Rumah itu bernomor 1A atau berjarak
dua rumah dari Wisma HH. Oleh Mami Rose, rumah bordir baru itu
diberi-nama Wisma Sumber Rejeki (SR).

Usai merayakan peresmian
SR, Mami Rose, Prayit, dan Purwato -yang menjadi pengelola dan
“pemegang saham”- terlibat diskusi serius. Yakni, mematangkan sistem
bagi hasil usaha barunya. ”Sebagai pemilik, aku minta kamu setor Rp 25
juta per bulan. Tidak boleh telat. Gimana, Mi,” kenang Rose tentang kalimat Purwanto.

Sejenak
berpikir, Mami Rose, yang kala itu mengenakan rok terusan warna hitam
bunga-bunga merah, mencoba menawar. ”Ya, jangan segitu toh, Pak Pur. Ini kan usaha baru. Anak-anaknya juga belum banyak. Kita juga belum tahu sambutan pasar,” kata Mami Rose coba berdalih.

Setelah melalui perdebatan sengit, mereka bertiga sepakat setor Rp 22
juta per bulan. Setiap tahun, setoran selalu meningkat Rp 1 juta per
bulan. Setiap keterlambatan Purwanto -yang sudah terbiasa mengelola
usaha di koperasi itu- mengenakan denda. ”Nggih, Pak. Menawi ngaten, tiap tanggal 1 kita akan kirimkan uangnya ke Bapak,” kata Rose.

Banyaknya
anak buah (PSK) yang diasuh menjadikan masalah bagi Mami Rose. Terutama
masalah keuangan. Ada yang pinjam uang untuk biaya anak sakit, sekolah,
modal untuk tanam padi desa, dan sebagainya. Jika tidak punya uang,
Sumiarsih pinjam kepada teman kongsinya, Purwanto. Lambat laun, utang
Rose semakin berbukit. Apalagi, semua tidak sekadar pinjam, tapi ada
bunganya. Belum lagi jika terlambat membayar jatah setoran bulanan.
“Ada denda 10-20 persen,” ujar Rose.

Suatu hari, Rose pernah
menyetor uang bagian Purwanto hingga Rp 40 juta. Padahal, sesuai
perjanjian, bagian Purwanto hanya Rp 25 juta. Sisa yang Rp 15 juta itu
merupakan bunga keterlambatan dan cicilan utang. ”Pak Pur, mbok kalau bisa, saya diberi keringanan. Banyak anak-anak yang belum bisa bayar utang ke saya. Jadi, saya yang harus nomboki
dulu,” kata Rose coba menawar. Bukan kata-kata halus yang didapat.
Wanita yang telah ikut membesarkan SR tersebut malah dibentak dengan
gebrakan meja. ”Gak iso. Iku harga mati. Koen lak wis janji. Ojok main-main karo aku lho, yo,” kata Pur.

Bukan
itu saja. Purwanto juga kerap menakut-nakuti dengan pistol jika Rose
dan Prayit sedikit mengulur setoran. Alasan perwira TNI-AL tersebut
bermacam-macam. Satu di antaranya adalah Rose telah mempekerjakan PSK
di bawah umur. Pelanggaran seperti itu, jika diketahui polisi, bisa
membawa Sumiarsih ke penjara. Lelaki yang dulu dianggap backing usahanya kini menjadi musuh dalam selimut. (el)


BAGIAN 4

Berita Utama

[ Rabu, 23 Juli 2008 ]
Kisah Hidup ”Mami Rose” Sumiarsih Menuju Eksekusi Mati (4-Habis)

Bawa Dua Anak untuk Luluhkan Hati Purwanto

Terus terlilit beban setoran yang berat membuat Sumiarsih
merancang pembunuhan terhadap Letkol Purwanto. Berikut penutup tulisan
yang diambil dari buku Mami Rose yang ditulis ITA SITI NASYIAH.

—-

MENGELOLA
dua rumah bordil sekaligus, Happy Home dan Sumber Rejeki, nama Mami
Rose cukup kondang di lokalisasi Gang Dolly. Kalau sedang mujur,
semalam satu wisma bisa memberikan laba bersih Rp 2 juta. Di atas
kertas, kalau bisnis berjalan normal, sebulan Sumiarsih dari dua wisma
bisa mengumpulkan Rp 120 juta. Itu angka yang fantastik untuk ukuran
usaha pada 1980-an.

Di kalangan pria hidung belang, wisma
milik Mami Rose itu cukup atraktif. Wanita itu kerap mendatangkan
penyanyi-penyanyi dangdut dengan pengiring musik live di malam hari. Dia juga mempekerjakan bartender khusus yang harus hafal minuman masing-masing pelanggan.

Namun,
usaha prostitusi seperti itu tetaplah rentan. Gangguan yang sepele saja
bisa mengganggu jalannya usaha. Padahal, khusus untuk Wisma Sumber
Rejeki, hasil kongsi Mami Rose dengan Letkol Purwanto, dia punya
kewajiban setor Rp 22 juta per bulan.

Suatu kali, dua wisma
itu sepi selama seminggu. Itu terjadi karena ada operasi oleh Polres
Surabaya Selatan terhadap laporan penculikan anak di bawah umur. Ada
tengara, gadis berusia 12 tahun itu dijual di Gang Dolly. Setelah
digerebek, anak itu ditemukan di sebuah wisma di sana. Akibatnya,
transaksi seks di Gang Dolly menurun drastis.

Piye yo, Pak, cara ngadepi Pak Pur. Mbok sampean toh sing mrono (Bagaimana
Pak cara menghadapi Pak Purwanto. Bapak saja yang menghadap ke dia),”
kata Mami Rose kepada suaminya, Djais Adi Prayitno (Prayit). Mendengar
keluhan itu, Prayit malah menasihati agar Sumiarsih sendiri yang
menghadap. Siapa tahu, kalau wanita yang menghadap, hati Purwanto luluh.

Dengan
diantar pakai mobil Suzuki Carry oleh anak tirinya (anak Prayit), Nano,
dia berangkat ke rumah Purwanto di Jalan Dukuh Kupang Timur, Surabaya.
Setelah Mami Roses menyampaikan permohonan keringanan akibat wisma yang
sedang sepi itu, Purwanto menanggapi dengan tegas.

Bah sepi. Bah rame. Nek awakmu nyetor telat, yo kudu mbungai. Titik! Wis, kono muliho. Ngganggu ae.
(Biar sepi. Biar ramai. Kalau kamu setor terlambat, ya harus bayar
bunga. Titik. Sudah, pulang sana. Mengganggu saja),” jawab Purwanto.

Sumiarsih
pulang dengan air mata menggenang. Mami Rose bersyukur Nano yang
menunggu di luar tidak tahu bahwa di dalam tadi perwira marinir yang
masih aktif itu memarahinya habis-habisan.

Pada kali lain, saat
liburan Ramadan, Sumiarsih sedang bahagia karena kedua anaknya, Wati
dan Sugeng, yang selama ini sekolah dan tinggal di rumah Jombang
bersama nenek, liburan ke rumah keluarga Sumiarsih di Jalan Kupang
Gunung Timur I/41, Surabaya.

Anak-anak Mami Rose itu pun
diajak keliling kota seperti ke Toko Siola, Toko Nam, Taman Hiburan
Rakyat (THR), dan kebun binatang. Namun, pada saat bersamaan, Mami Rose
bingung karena usaha rumah bordilnya sedang sepi. Saat waktu membayar
setoran tiba, uang yang tersedia hanya Rp 20 juta.

Saat mereka
mau membayar setoran itu, anak-anak itu pun diajak ke rumah Purwanto.
Harapan Sumiarsih, dengan mengajak anak-anak, kemarahan Purwanto bisa
redam. ”Mugo-mugo ae Pak Pur gak ngamuk nek awak e dhewe teko bareng-bareng yo, Pak,” kata Rose kepada Prayit sebelum mereka berangkat.

Kiat
Mami Rose jitu. Melihat rombongan yang dikuti Wati dan Sugeng itu,
Purwanto lebih lunak saat Mami Rose mau menyampaikan setoran yang hanya
Rp 20 juta. ”Yo, wis, kurang piro. Gowoen ae disik nek ngono. Tapi, tolong, tanggal 15 kudu onok sak bungae lho yo (Ya, sudah, uangnya dibawa dulu. Tapi, tolong, tanggal 15 harus dibayar bersama bunganya),” katanya.

Sambil
berkata demikian, Purwanto tak henti-henti memandangi Wati. Entah apa
yang ada di dalam benaknya. Setelah itu, rombongan kecil itu meneruskan
perjalanan menuju THR di Jalan Kusuma Bangsa.

Besok malamnya,
sekitar pukul 20.30, Purwanto mengenakan jaket doreng berkunjung ke
Wisma Sumber Rejeki, bersama tiga anak buahnya. Dia duduk di tengah
para PSK yang sedang mejeng di ruang tamu atau akrab dikenal sebagai
”akuarium”. Dia minum sampai mabuk.

Pukul 23.30, Rose mendapati Purwanto keluar kamar. Dari mulutnya menyembur aroma alkohol. ”Sugeng dalu, Pak (Selamat malam, Pak),” sapa Mami Rose berbasa-basi. ”He’eh,” jawab Pur. Pur lalu bertanya soal setoran yang diantarkan kemarin.

”Seperti
yang saya sampaikan kemarin, masih ada Rp 20 juta. Kurang Rp 5 juta.
Tapi, malam ini tadi ada pemasukan Rp 1 juta,” kata Mami Rose.
Purwanto mendengarkan sambil berbaring di tempat tidur.

Sumiarsih
melirik Purwanto yang berada tidak jauh dari tempat duduknya. Heran,
kali ini bapak tiga anak itu terlihat lebih sabar. Saat Purwanto
mengelurkan sebatang rokok, wanita itu pun membantu menyulut dari korek
api miliknya. ”Ora usah kok pikirke kekuranganne, Rose. Tapi, anakmu Wati kekno aku (Tidak usah kamu pikirakan kekurangannya. Tapi, anakmu Wati kasihkan aku),” katanya enteng.

Mendengar itu, tubuh Rose gemetar. Kakinya mendadak lemes. Seorang bodyguard wisma Sumber Rejeki, Bambang, yang kebetulan melintas heran mengetahui bosnya memegangi kepala. ”Ada apa, Mi, kok
pucat,” tanya Bambang. Tanpa diminta, pria bertubuh kekar itu
membopong Mami Rose ke kamar nomor 6 yang malam itu tidak dipakai
pelanggan.

(Sejak peristiwa itu, Sumiarsih mengaku terus
berusaha menyelamatkan Wati yang berwajah ayu dari Purwanto. Pada 1986,
Wati menikah dengan Serda (Brigadir Polisi Dua) Adi Saputro. Namun,
Purwanto tak berhenti mengejar Wati. Faktor itulah yang menyebabkan Adi
Saputro sangat sakit hati).

Delapan tahun lebih kongsi
Purwanto-Sumiarsih di Wisma Sumber Rejeki itu adalah saat-saat yang
berat bagi Sumiarsih. Wanita itu sering defisit karena Purwanto selalu
meminta setoran tetap dengan nilai yang terus naik tiap tahun. Bahkan,
keterlambatan pembayaran pun dikenai penalti bunga.

Puncak
kesulitan itu terjadi pada Agustus 1988. Saat itu, setoran bulanan
sudah menjadi Rp 30 juta. Angka itu belum memperhitungkan bunga karena
sudah melebih tanggal 1. Purwanto memberikan deadline tanggal 15. Sumiarsih tidak kuat lagi. Suatu hari Sumiarsih mengungkapkan rencana jahat kepada Prayit: membunuh Purwanto.

Semula
Prayit tidak setuju. Tapi, setelah dimintai pendapatnya langkah apa
yang tepat untuk menghindari teror Purwanto, Prayit tak punya pilihan.
Lelaki itu pasrah dan menyetujui ide Sumiarsih. Malam itu pula, pukul
19.30 WIB, Mami Rose lantas memanggil kemenakan Prayit, Daim, di meja bartender. Lelaki muda itu dipekerjakan di wisma sebagai pengawas keuangan.

Setelah berada di dalam kamar, Rose meminta tolong agar Daim ikut membantu membunuh Purwanto. ”Kowe lak ya, lara ati ta, Im (Kamu juga sakit hati kan, Im). Yok apa nek
(Bagaimana kalau) Pak Pur kita bunuh saja bersama-sama,” pinta Rose
kepada Daim di dalam kamar. Daim sepakat dengan usul Sumiarsih. Sebab,
Daim sendiri mengaku beberapa kali dipopor pistol hingga
berdarah-darah.

Namun, sebelum keluar kamar, Prayit kepada
Daim mengatakan agar minta bantuan Nano, anak Prayit dari istri
terdahulu, yang tinggal di Putat Jaya Tembusan, Surabaya. ”Jangan
bertindak sendiri-sendiri, tunggu perintah kita selanjutnya, ya,” kata Prayit lagi. Daim manggut-manggut tanda mengerti.

Pada
12 Agustus 1988, bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur I/2B, Surabaya,
rumah Sumiarsih yang lain, mereka berkumpul menyusun strategi
pembunuhan. Saat rapat itu, Rose juga memanggil menantunya, Adi
Prayitno, yang sedang berada di Surabaya karena urusan dinas. Rapat
kecil itu menyepakati menghabisi Purwanto dengan dipukul alu besi.

”Hati-hati, lho.
Pak Pur itu tentara. Kuat. Jadi, harus membawa senjata sendiri-sendiri.
Kita keroyok ramai-ramai. Kalau tidak, kita yang mati. Dia punya pistol
dan juga bisa karate,” kata Prayit.

Tak seperti yang ditakutkan
Prayit. Saat eksekusi pembunuhan terhadap Purwanto (dan empat anggota
keluarga yang lain) dilaksanakan di rumah Purwanto, siang hingga sore
pada 13 Agustus 1988, hampir tidak ada perlawanan berarti. Para korban,
termasuk yang tak berkaitan dengan kongsi rumah bordil, seperti istri
dan anak-anak Purwanto, mereka bunuh dengan cara yang sadis.

Wati
sendiri tidak menyangka bahwa sang ibu yang dianggap sebagai otak
pembunuhan itu berbuat demikian nekat. Sejak Sumiarsih dan kakaknya,
Sugeng, dieksekusi mati menyusul suaminya (Adi Saputro) yang terlebih
dahulu menghadapi regu tembak, Wati kini hidup sebatang kara. ”Saya
tidak mengira ibu tega berbuat itu. Sebab, yang saya tahu, ibu itu
berhati lembut,” katanya. (el)

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 23, 2008 in Sosial, Uncategorized

 

Tag: , , , , , ,

8 responses to “Apa benar hanya Sumiarsih cs yang tak bernurani? Purwanto Juga!

  1. bara

    Juli 25, 2008 at 1:34 pm

    Ya…tumbu oleh tutup. Sumiarsih, bandar duit setan dipangan demit. Purwanto, aparat bajul buntung…kemlinti donya mentang2 duwe pistol…..tapi yen wis dipateni dadi opo ?.Bangke ….Yo wis podo panganen olehmu nandur le..nduk

     
  2. Hitler

    Juli 27, 2008 at 2:02 pm

    Sabtu 26 Juli 2008 malam saya beli buku ttg Mami Rose terbitan JPbooks ini di TB gramedia..malam itu juga saya baca sampe habis. Disana diceritakan dg detail.

    Mami Rose bahkan sering ditelanjangi oleh purwanto dan kulitnya disudut rokok, Rose Mey Wati bahkan sempat diajak ke kamar hotel dan hampir saja dinikmatioleh purwanto. Orang ini benar benar aparat keparat yang benar benar maniac sex dan haus harta. Dan apa yang dialami oleh purwanto dan keluarganya adalah hasil tuaian dari apa yang dia tanam.

    Selamat Jalan Bu Rose. Pak Prayit..Mas Sugeng. Doa saya menyertai kalian. Semua Tuhan mengampuni kalian semua. Amin Amin Amin.

     
    • thinkstraight

      Februari 17, 2013 at 5:10 am

      jangan cepat menghakimi, buku itu kan ditulis dari 1 sudut pandang

       
  3. windformation

    Agustus 2, 2008 at 3:04 pm

    ternyata ada cerita tragis dan mengharukan di balik hukuman mati terhadap sumiarsih ini,, smo9a tobatnya dan anaknya dapat diterima, AMIn,,
    postingannya bener2 bagus,,

     
  4. poet

    Agustus 18, 2010 at 3:27 am

    penyebab utama tragedi ini, sebetulnya bukan karena itu semua. tapi ini adalah hukum Tuhan, dimana uang haram akan mendatangkan musibah. dan musibah itu sudah menimpa kedua orang ini. yang satu, sudah kebanyakan duit jadi lonte, tapi gak tobat2 dan cenderung keasyikan. mbok ya buka usaha lain… satunya lagi, uda jadi perwira, tapi masih ngalab duit haram.

     
  5. Irvan

    September 2, 2010 at 12:05 am

    peristiwa ini juga dapat dijadikan pelajaran buat kita agar jangan sampai rakus dengan harta dan kekayaan duniawi saja sehingga akibatnya seperti cerita diatas.

     
  6. ritatatikawa@yahoo.com

    Mei 2, 2014 at 5:05 am

    apa yang kita tanam baik manuaikan hasil baik,,apa ynag buruk akan mendpat hasil buruk,smua cerita sperti bu sumiarsih bta peljran kita yang maish hidup,sebaik2 nya harta,adalah yang halal manfaat dan barokah,serta di gunakan untuk kebaikan sperti,amal,dan bkin tempat ibadah

     
  7. wita

    Juli 1, 2014 at 4:23 am

    jadilah cerita tersebut pelajaran di kehidupan kita.yg baik akan mendapat balasan yg baik,yg buruk akan mendapat balasan yg buruk,
    ternyata letkol purwanto aparat yg munafik yg haus seks dan harta
    saya mengetahui cerita tersebut dari majalah femina tahun 1988 yg saya dapatkan dari buklek saya.
    saya penasaran sama anak sulung korban yg bernama haryo abrianto,postingan foto keluarga knapa tidak dimuat di blog ini

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: