RSS

Ide: Hukuman yang Lebih Berat dari Mati bagi Koruptor

23 Jul

Koruptor mungkin memang sudah waktunya diganjar hukuman mati, agar bangsa ini bebas dari kemelaratan. Sistem ini sudah terbukti efektif di Cina. Di tengah pro n kontra hukuman mati karena manusia sebenarnya tidak boleh membunuh dengan alasan apapun juga, pelaku korupsi juga bisa dinilai berhati binatang dan tidak mempedulikan kemanusiaan. Lantas, buat apa memperlakukannya seperti manusia juga? Mungkin itulah yang menggagas format hukuman mati pertama kali.

Sebenarnya ada hukuman yang jauh lebih efektif daripada hukuman mati, dan lebih berguna bagi negara dan masyarakat, juga keluarga si terpidana sendiri (anak-anaknya supaya tidak meniru jejak orang tuanya). Gini nih caranya.

Bila seorang koruptor tertangkap maka negara harus segera mengusut tuntas seluruh aset, badan usaha, rekening, tabungan, dan hartanya baik bergerak maupun tidak bergerak, atas nama sang koruptor sendiri dan seluruh keluarganya – dengan dua tingkat pembekuan.

  • Semua harta atas nama pelaku, istri pelaku (berapapun jumlahnya), anak, cucu (kalau ada), dan orang tua, harus dibekukan untuk diserahkan kepada negara untuk digunakan sebesar-besarnya kepentingan masyarakat.
  • Semua harta atas nama saudara kandung, sepupu, dan kerabat yang lain termasuk kerabat istri harus segera dibekukan selama 30 tahun baik terbukti berkaitan ataupun tidak dengan pelaku. Bila ada bukti yang mengindikasikan aset berasal dari pelaku (baik dari hasil korupsi ataupun tidak), maka harus disita negara.

Mengapa hukuman ini?

Hukuman ini adalah ide konyol-konyolan dari saya yang beranjak menjadi serius, sebagai bahan latihan otak merancang hukuman yang jera bila mengesampingkan hukuman mati.

Pemikiran ini berdasarkan bahwa di Cina sekalipun dengan ancaman hukuman mati, masih ada saja orang yang rela menjadi ‘pahlawan’ bagi keluarganya, bahkan rela mati, asal anak-anaknya bisa mendapat kehidupan yang lebih baik dari hasil korupsinya. (duh cinta yang luar biasa ya?) Ini diakibatkan karena rasa frustrasi yang mendalam dari kemiskinan, sehingga pelaku bertekad mengubah masa depan keluarganya, apapun caranya, bahkan bila dia tidak menikmati hasilnya sekalipun. Nyawanya sendiri menjadi murah, karena dibandingkan dengan cita-citanya itu.

Juga, dalam kasus korupsi yang berujung pelaku ditembak, seringkali uang hasil korupsi tidak kembali utuh ke tangan pemerintah. Uang hasil korupsi sudah diubah menjadi aset-aset dengan nama istri, anak, cucu, ortu, saudara, dst. Dalam kasus seperti ini, pelaku juga tidak bisa diadili untuk kasus-kasus korupsinya yang lain, karena sudah jatuh vonis mati. Ngapain mengaku pernah korupsi untuk hal yang lain, bila toh juga mati? Mending nggak usah ngaku, biar nanti uangnya buat bekal hidup keluarganya kan?

Landasan Teori 1: All that starts well ends well too, all that ends well should be started well too.

Pepatah mengatakan: segala yang berawal dengan baik akan berakhir baik. Seseorang yang pada awal menjabat memiliki prinsip ingin mengabdi untuk masyarakat dan memajukan negara biasanya akan berakhir baik pula dalam arti tidak korupsi. Indonesia sudah pernah punya beberapa tokoh seperti ini, terutama tokoh-tokoh lawas sebelum era Orde Baru.

Secara terbalik juga berarti, seseorang yang ketahuan korupsi sangat besar kemungkinannya dia terlibat kasus korupsi lain di waktu yang lain. Bila seseorang melakukan korupsi 10 kali, dan ketahuan sekali lalu dihukum mati, bukankah yang sembilan tidak terungkap? Garis besarnya, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Sekali melakukan korupsi, maka dianggap semua kekayaannya berasal dari korupsi – baik dari jabatan sekarang maupun pekerjaannya dahulu. Hatinya dicap sudah busuk dari awal.

Landasan Teori 2: Teori Konflik
Pepatah juga mengatakan, uang adalah sumber malapetaka. Orang Jawa bilang, “dulur yo dulur, duit yo duit” (saudara ya saudara, uang ya uang). Kita sering melihat rumah tangga bahkan ikatan famili retak dan berantem karena uang.

Dengan menyita harta semua kerabat yang vertikal (berhubungan darah langsung) hal ini dapat menjadi pelajaran yang efektif. Hubungan darah vertikal (ayah, ibu, kakek, nenek, anak dan cucu) biasanya adalah hubungan utama yang paling dicintai. Hal ini akan berakibat seseorang akan berpikir 1000 kali sebelum melakukan korupsi karena dia tidak akan menolong keluarganya malah menyengsarakannya. Bila dia akan korupsi sebesar 20 Miliar rupiah, dan itu menyebabkan aset keluarga vertikalnya disita sebesar 200 Miliar, tentu dia akan mengurungkan niatnya.

Lantas apa hubungannya dengan semua saudara, kerabat, bahkan famili istri? Kalau Anda di pihak keluarga istri, tentu Anda dongkol bukan main kan? Tentu, saya pun begitu. Tetapi dari konflik yang bakal terjadi kita bisa tahu apa yang sebenarnya mengalir dari pundi-pundi si koruptor. Bila Anda seorang polisi reserse tentu Anda sangat paham apa maksud saya. Kita akan punya banyak argumen, banyak kesaksian, karena semua orang akan berusaha cari selamat harta masing-masing. Kita akan punya banyak saksi, yang bisa digunakan di peradilan.

Dengan sistem ini diharapkan

  • Wanita tidak hanya mencari pendamping seorang pejabat semata-mata karena ingin kaya (dari korupsi). Maaf, tetapi hal ini sungguh banyak terjadi saat ini, demikianlah fakta yang Anda bisa dapatkan di berita sehari-hari.
  • Seluruh keluarga dan famili jauh maupun dekat diharapkan aktif setiap hari mengingatkan anggota keluarganya yang menjabat posisi tertentu agar tidak korupsi. Tentu mereka melakukan ini bukan hanya ingin keluarganya berada di jalan yang benar tetapi juga terutama karena mereka ingin melindungi harta masing-masing. Mereka tidak hanya akan mengingatkan, tetapi bahkan akan ‘menginterogasi’ sang pejabat, karena takut “jangan-jangan dia korupsi nanti saya yang kena getahnya.”
  • Bila memang pejabat nekat korupsi, maka dia as good as dead. Meski tidak dihukum mati, tapi seolah dia mati. Konflik besar di keluarganya terhadapnya akan membuat tekanan yang luar biasa.

Kelemahan hukum ini dan kajian lebih lanjut
Hukuman ini bisa diprotes lembaga HAM. Hukuman mati juga diprotes lembaga HAM. Artinya, kelemahan sistem saya ini, adalah, sistem saya masih melanggar HAM😀

Perlu kajian dan klausul lebih lanjut mengenai harta yang dibekukan selama 30 tahun itu – karena menyangkut keluarga yang tidak langsung. Bila memang telah ditemukan metode pengusutan yang valid, dan memang terbukti tidak ada aliran dana dari koruptor, maka harta bisa dikembalikan ke yang bersangkutan.

Ahli hukum, detektif, pakar penyidikan, mohon pemikirannya. Iseng-iseng saja, kita lanjutkan wacana ini.

Para pejabat yang sedang browsing dan nemu tulisan ini … yeah yeah, I know you hate me guys, you should.😀

Komunitas umum, saya mohon tanggapan dan masukannya. Terima kasih pula atas perhatiannya.😀

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 23, 2008 in Sosial

 

Tag: , , , , , , , , , ,

7 responses to “Ide: Hukuman yang Lebih Berat dari Mati bagi Koruptor

  1. Refano

    Juli 24, 2008 at 9:38 am

    saya setuju di sahkan UU Hukuman mati bagi karuptor klau perlu untuk keluargannya juga sekali lagi setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….

     
  2. As-Salam Seluler

    Juli 24, 2008 at 11:41 am

    wah, kalau giu caranya nanti kalo ada pejabat yang udah bosen hidup dan punya dendam kepada kerabat atau saudara kandung lainnya gimana? bisa aja dia dengan sengaja korupsi untuk menjatuhahkan lawan lawan dalam selimutnya itu???

     
  3. Mr. Fortynine

    Juli 25, 2008 at 5:42 pm

    Saya pernah mengusulkan hukuman ini secara tidak menditail di sini. Terima kasih atas inspirasi tambahan yang diberikan

     
  4. satya sembiring

    Juli 26, 2008 at 3:07 am

    saya setuju dengan ide ini.
    jadi biar keluarnya pun saling mengingatkan
    agar tidak ada keluarga mereka yang main main dengan korupsi.
    karena satu yg salah semua kena dampaknya.
    mati bagi orang sekarang ini bukan hal yg menakutkan. tapi hidup melarat hal yg paling mengerikan
    jadi sekali lagi saya setuju.

     
  5. Ratu Adil Satria Pinandhita

    Juli 26, 2008 at 5:00 am

    wahai para muslim!!! Janganlah kalian terlalu kejam pada koruptor!!!

     
  6. FR12ZA

    Juli 27, 2008 at 5:34 pm

    + begitulah hukum, diperkeras salah – dilunakkan juga salah, (kalo diprotes misalnya) jika hakim bimbang dan kurang tegas, bisa jadi bumerang, apalagi sebaliknya terlalu kejam dan semena-mena, bisa runyam, semoga lain waktu akan tumbuh pribadi-pribadi yang tangguh dan ulet dari yang sekarang (???)

    Btw gw kaum muslimin juga, dan soal hukuman di dalam Islam diajarkan untuk tidak bertindak semena-mena terhadap pesakitan, jadi hukuman dibikin SETIMPAL bukan untuk DENDAM gitu…

     
  7. Izzul

    Agustus 3, 2008 at 1:29 am

    ASs.
    Setuju aja kayanya keren

    Well that’s a good idea

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: