RSS

Hipotesa Latar Belakang Psikopat Ryan

24 Jul

Heboh pembunuhan berantai dengan 5 korban yang dilakukan Ryan membuat banyak orang terkejut. Terlebih tetangga pelaku karena meski jarang bergaul dan bersifat tertutup, Ryan dikenal sebagai sosok alim yang juga sekaligus guru ngaji, jauh dari bayangan seorang pembunuh berdarah dingin.

Banyak yang langsung menduga bahwa Ryan adalah seorang psikopat, dari banyaknya korban yang ada. Tidak salah, tetapi belum tentu pula Ryan adalah seorang psikopat.

Bagaimana perilaku psikopat?

Psikopat biasanya membunuh tidak dengan motif langsung terhadap korban. Ryan mengaku kepada polisi bahwa korban terakhir dibunuhnya karena perasaan cemburu. Seorang psikopat tidak membunuh berdasarkan cemburu, karena seorang psikopat hampir memiliki kekebalan emosi (emotional numbness) dimana ekspresi emosinya (marah, benci, cinta, sedih, takut, dsb) sangat berbeda dengan manusia normal. Emosi seorang psikopat terlihat oleh orang normal sebagai ‘lebih stabil’. Hal ini karena seorang psikopat tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosinya sebesar layaknya orang normal. Itulah yang digambarkan oleh tetangga Ryan tentang dirinya, sosok yang tenang, alim, dan kalem.

Seorang psikopat tidak membunuh karena cemburu kepada korban. Hal yang sama, seorang psikopat tidak membunuh karena ingin menguasai harta semata seperti halnya perampokan biasa. Seorang psikopat ‘menikmati’ pembunuhan dengan suatu motif kompleks yang berasal dari pikirannya sendiri. Dia tidak merasa bersalah atau menyesal, yang diakibatkan oleh rusaknya sistem emosi dalam dirinya yang mengalami kekebalan emosi tadi.

Psikopat juga tidak pandang bulu siapa korbannya. Karena tidak harus memiliki hubungan sebab-akibat langsung dengan korban, korban bisa siapa saja. Bisa teman bisa pula orang asing. Hal ini memperkuat hipotesa Ryan sebagai psikopat karena terdapat mayat seorang perempuan Belanda yang diakuinya baru dikenalnya dalam bis kota. Hubungan berlanjut setelah pertemuan di bis, dan wanita dibunuhnya ketika mengunjungi Ryan di Jombang. Status korban saat itu belumlah menjadi teman korban yang cukup dekat, karena masih bisa dikategorikan ‘stranger’ atau orang asing.

Meski demikian, suatu pembunuhan berantai oleh psikopat sekalipun tetaplah memiliki kesamaan. Dalam hal ini polisi menduga Ryan ingin menguasai harta, tetapi tidak sama dengan motif perampokan biasa. Ryan memiliki keruwetan psikologis untuk menggapai keinginannya dalam menguasai harta calon korbannya, sehingga berujung kepada satu kesimpulan: korban harus dibunuh.

Hipotesa pecahnya kepribadian Ryan

Perlu diingat, bahwa menganalisa seorang psikopat tidaklah mudah. Kriminolog dan psikolog harus menanggalkan sejumlah aturan dan norma hukum dan tata masyarakat, karena seorang psikopat mengabaikan hal-hal semacam ini.

Seperti diketahui, seorang psikopat tidak memiliki kemampuan mengekspresikan dan memanajemen emosinya dengan baik. Bila kita menilik kasus Ryan dengan metode reverse (dari alur belakang ke depan), kita mendapati pada semua korban ada satu kesamaan: hartanya dikuasai. Hanya ada satu korban yang tidak dibunuh karena harta, yaitu korban keempat yang dibunuhnya karena menjadi saksi mata ketika dia mengubur korban ketiga.

Dari sini kita dapat melihat bahwa Ryan tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan perampokan biasa. Ini mungkin terjadi karena Ryan juga memiliki rasa ‘takut ketahuan’, tetapi berbeda dengan orang normal, rasa ‘takut ketahuan’ ini tidak mengurungkan niatnya tetapi malah memicunya untuk ‘menghilangkan saksi perampokan’ yang berarti membunuh korbannya.

Kita mungkin merasa hal ini mustahil. Bukankah hukuman perampokan lebih ringan dari pembunuhan? Bukankah nyawa manusia lebih berharga daripada harta? Sekali lagi, seorang psikopat tidak mempedulikan kaidah-kaidah ini, itulah sebabnya kita harus menanggalkan segala macam nilai umum yang berlaku di masyarakat.

Lalu mengapa Ryan ‘takut ketahuan’?

Ryan takut ketahuan, karena dia adalah figur yang telah dikenal orang (meski terbatas) sebagai figur guru ngaji, tenang, pendiam, alim. Ini adalah figur yang tampak di masyarakat. Bagi Ryan, figur ini adalah segalanya baginya, jati dirinya, karena itu dia berjuang mati-matian untuk mempertahankan image ini. Mengapa? Karena figur ini adalah figur yang diterima dan dihargai oleh masyarakat dan keluarganya, yang ironisnya menutupi figur lain yang terpendam yaitu seorang gay.

Berlatar belakang seorang muslim yang tinggal di Indonesia, terutama di wilayah Jombang, tentu tidak mudah bagi remaja yang memiliki kecenderungan gay untuk bertanya kepada orangtuanya “Pak, Bu, saya kok lebih suka pada sesama lelaki, ya?”

Norma masyarakat dan kaidah agama mempengaruhi Ryan untuk memproteksi dirinya dan tidak mengungkapkannya pada siapapun. Pada saat yang sama, mungkin Ryan berusaha mencari tahu sendiri apa dan bagaimana kelainan seksualnya. Ketika Ryan paham bahwa dirinya memiliki kecenderungan gay, disitulah konflik batinnya dimulai. Agama melarang hubungannya, dan Ryan merasa norma agama ‘menyalahkan’ dirinya, padahal dia tidak merasa bersalah karena dia tidak meminta dilahirkan sebagai seorang gay. Norma masyarakat sekitarnya yang memandang gay sebagai orang yang ‘aneh’ turut mendukungnya.

Menghadapi ini kemungkinan besar Ryan mengalami kebencian dalam dirinya sendiri. Benci sebagai seorang gay yang dia tidak mampu mengatasinya, tapi ditolak oleh agama dan komunitasnya. Ryan lalu tekun belajar agama dalam upayanya ‘mempelajari sendiri’ sikap dan norma agamanya terutama berkaitan dengan kondisi dirinya. Memiliki pengetahuan agama yang cukup, Ryan menutupi identitas gaynya dengan menjadi guru ngaji, dengan harapan memperoleh respek dari masyarakat dan jauh dari gosip (karena dia tidak suka perempuan). Untuk alasan itulah dia juga jarang membaurkan diri dengan masyarakat, agar tidak ketahuan siapa jati diri sebenarnya.

Sejak saat itulah, hipotesa saya menduga bahwa Ryan pelan-pelan memiliki kepribadian ganda (schizophrenia). Pribadi pertama sebagai guru ngaji yang alim dipertahankan dalam hubungan bermasyarakat, sementara pribadi seorang gay ditutupinya rapat-rapat. Ryan menjadi sangat sensitif. Saya menduga jarak kedua kepribadian ini makin jauh sejalan dengan semakin bencinya Ryan terhadap dirinya sendiri, tanpa ia sadari.

Mengapa Ryan memburu harta?

Ini hipotesa saya yang lebih lemah daripada hipotesa pertama mengapa Ryan mengidap schizophrenia. Dengan kebencian terhadap dirinya sebagai seorang gay, Ryan mungkin pernah berpikir untuk melakukan trans-gender, atau mengubah dirinya menjadi seorang wanita. Hipotesa ini lemah, karena sampai saat ini belum diberitakan di media bahwa Ryan suka memakai atribut wanita.

Hipotesa yang lebih kuat adalah Ryan berusaha ‘menggalang dana’ untuk menyembuhkan dirinya. Atau, Ryan berusaha untuk punya uang cukup untuk membaur di kalangan gay metropolis. Atau Ryan berusaha menjadi kaya untuk memperoleh status sosial yang lebih baik. Status sosial yang lebih tinggi biasanya berarti lebih modern, lebih terpelajar, dan lebih bisa menerima kondisi ‘gay’ sebagai fenomena kelainan genetik dibandingkan dengan ‘wong ndeso’ yang umumnya hanya memandang gay sebagai ‘aib’.

Keinginan-keinginan ini terus berpacu. Tujuan utama Ryan adalah tidak dilecehkan orang. Dia memburu harta, dan sebelum dia kaya (hingga bisa mengatasi tekanan sosialnya) dia harus bertopeng dibalik pribadi alimnya. Kebencian Ryan berjalan konstan dengan cita-citanya.

Ketika Ryan tidak bisa mewujudkan keinginannya, mulailah dia menemukan beberapa teman yang sama-sama ‘gay’. Teman-teman baru mengubah cakrawala baru, dan mungkin dipicu karena status sosial berbeda dalam hal kekayaan.

Ingat bahwa Ryan memiliki kecenderungan psikopat, yang sampai saat ini merupakan perdebatan sengit apakah hal ini terkandung dalam genetisnya. Menghadapi kekacauan konflik batin seperti ini ditambah dengan tidak mampu mengekspresikan dan memanajemen dengan baik, sifat psikopat ini pelan-pelan mulai muncul menguasainya.

Rebut hartanya. Tapi bagaimana kalo ketahuan? Dari dulu masyarakat udah curiga yang enggak-enggak (tentang gay). Susah payah Ryan menutupinya sebagai guru ngaji, masa sekarang mencuri dan merampok? Gimana kalo ketahuan? Bunuh aja, biar korban nggak lapor, lagian hartanya bisa dikuasai semuanya, kartu kreditnya … Mungkin demikian konflik yang terjadi hingga korban pertama jatuh.

Bila Ryan seorang psikopat yang juga schizophrenia
Ryan tidak menunjukkan penyesalan, yang merupakan ciri seorang psikopat asli. Alasan Ryan membunuh karena cemburu juga ditengarai sejumlah pakar psikologi dan kriminolog sebagai motif subsider, artinya motif lain yang sebetulnya bukan motif utama. Itu hanya alasan saja, tetapi Ryan tidak sengaja beralasan demi berbohong. Dia jujur mengatakan dia cemburu, hanya saja, dia tidak mampu membedakan apa yang sebenarnya mendorongnya untuk membunuh. Keinginan untuk jadi kaya terletak di alam bawah sadarnya, sehingga ketika dia merasa ada ‘dorongan untuk menguasai harta’ dia hanya perlu satu alasan saja di alam sadar – dalam hal ini cemburu – untuk menjadi pemicu pembunuhan yang dilakukannya. Ingat, Ryan tidak bisa membedakan emosinya, dan tidak bisa juga membedakan benar salah.

Bila Ryan seorang psikopat dan hipotesa ini benar bahwa psikopat dipicu oleh kondisi schizophrenia dimana kepribadiannya terpecah, Ryan adalah seorang yang mengidap kelainan jiwa akut. Dalam hukum, seseorang tidak bisa dihukum bila terbukti mengidap gangguan jiwa. Kejadian ini terjadi diluar rasionya. Itu artinya, Ryan juga tidak bisa dihukum mati, seperti yang banyak diduga orang. Ryan seharusnya ‘dihukum’ dengan dimasukkan ke rumah sakit jiwa sepanjang hidupnya. Tetapi banyak kasus hukum di dunia menanggapi psikopat yang ‘masih bisa diajak berdialog secara waras’ sebagai orang waras, dan tetap dijatuhi hukuman mati.

 
22 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 24, 2008 in Sosial

 

Tag: , , , , , ,

22 responses to “Hipotesa Latar Belakang Psikopat Ryan

  1. setia s

    Juli 25, 2008 at 11:10 am

    wah komentator hebat memang huuuebat tenan.
    kalau kesimpulannya sakit jiwa dan harus dirawat seumur hidup di rumah sakit jiwa, nanti rumah sakitnya bisa abis pasiennya kalau perlu perawatnya atau dokternya. hehehehh …
    ulasannya kebanyakan mas, mendingan kita mikir cari energi listrik alternatif buat negeri kita yang lagi krisis.

     
  2. syahrizalpulungan

    Juli 25, 2008 at 2:22 pm

    Kok bisa ya…yah namanya juga godaan syetan..luar biasa mas ulasannya
    salam blogger…

    mau kasih info nih :

    http://asahannews.wordpress.com/2008/07/25/modus-penipuan-baru-melalui-hp/

     
  3. sibermedik

    Juli 25, 2008 at 3:10 pm

    Tidak semudah itu mendiagnosa seseorang mengidap gejala psikopat. Terdapat 20 gejala mayor dalam alat ukur PCL-R (PSYCHOPATHY CHECKLIST REVISED) Prov.Robert Hare, sedangkan Indonesia masih menggunakan Pd-MMPI (PSYCHOPATH DEVIATE-MINNESOTA MULTIPHASIC PERSONALITY INVENTORY) yg masih dimasukkan dalam ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER dalam PPDGJ 3 & DSM 4.

    untuk kasus ryan,saya masih berpendapat akibat dari sikap introvert terhadap masalahnya (suka sejenis) sehingga obsesif kompulsif saat ‘pasangan’ gay nya direbut ato ditinggalkan, kasus seperti ini hanya fenomena gunung es dari penyimpangan seksual pengidap homoseksual.

     
  4. sibermedik

    Juli 25, 2008 at 3:12 pm

    Tidak semudah itu mendiagnosa seseorang mengidap gejala psikopat. Terdapat 20 gejala mayor dalam alat ukur PCL-R (PSYCHOPATHY CHECKLIST REVISED) Prov.Robert Hare, sedangkan Indonesia masih menggunakan Pd-MMPI (PSYCHOPATH DEVIATE-MINNESOTA MULTIPHASIC PERSONALITY INVENTORY) yg masih dimasukkan dalam ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER dalam PPDGJ 3 & DSM 4.

    untuk kasus ryan,saya masih berpendapat akibat dari sikap introvert terhadap masalahnya (suka sejenis) sehingga obsesif kompulsif saat ‘pasangan’ gay nya direbut ato ditinggalkan, kasus seperti ini hanya fenomena gunung es dari penyimpangan seksual pengidap homoseksual.

    salam kenal:
    http://www.sibermedik.wordpress.com

     
  5. wongkeban

    Juli 25, 2008 at 4:19 pm

    Bagaimana Bisa mendiagnosa seseorang hanya dengan melihatnya secara sekilas atau tidak bertemu langsung dengan Klien itu sendiri ????

    http://wongkeban.wordpress.com

     
  6. ubang

    Juli 25, 2008 at 7:57 pm

    Salut ulasannya. Saya setuju dengan ulasan latarbelakang ryan kenapa menjadi pembunuh. Cuma yang saya penasaran, Apakah pengakuan ryan kepada polisi yang katanya membunuh dengan menggunakan benda tumpul lalu memukul korban di bagian kepala bisa dipercaya? Meski memang hasil otopsi diketahui retakan di bagian tengkorak pada salah satu korban. Tetapi bukankah emosi ryan masih labil? Bagaimana bila ternyata korban2nya itu dibunuh dengan cara lain? menggunakan senjata tajam misalnya. Lalu dipukul dengan benda tumpul? bagaimana bila ternyata ryan Juga menguliti korbannya? mungkin juga membedah hidup2 (seperti dilakukan pada Heri Santoso) meski tidak dimutilasi. dan, banyak kemungkinan lain. Apalagi polisi menemukan sepuluh kantong plastik pakaian yang diduga milik korban. Apakah 4 korban sengaja datang ke rmh ryan dengan membawa pakaian ganti, atau bisa jadi seluruh korban (khususnya laki2) dilucuti pakaiannya lalu “dinikmati”… sbagaimana yang dilakukan jefrey dahmer(seorang gay amerika yang menjagal lebih dari sembilan pria gay lain)

     
  7. satya sembiring

    Juli 26, 2008 at 2:49 am

    panjang dan lebar ulasannya.
    jadi masukan bagi saya.
    tapi dalam kasus Ryan ini mungkin kita bisa masukan satu faktor tambahan kenapa sampai dia melakukan hal itu. adalah karena dia merasa tidak dihargai. orang yang kenal dengannya tidak memberikan diaperhatian seperti apa yg dia mau. dia hanya butuh perhatian dan perlindungan. dan teman gay nya mungkin lebih orentasi sexsual sehingga dia menjadi beringas

     
  8. evy02

    Juli 26, 2008 at 6:53 am

    Wah, ulasannya bagus sekali! Tapi walaubagaimanapun dia seorang psikopat, tapi kalau hanya dikirim ke rumah sakit jiwa, tetap saja masih ada kekhawatiran kalau2 dia bisa lepas.. Hiii..

     
  9. kodratsatlatuii

    Juli 26, 2008 at 6:59 am

    ????!!!!
    gak ngerti,… mungkin dah ketagihan tuk bunuh kali ya

     
  10. Arif

    Juli 26, 2008 at 2:24 pm

    memangny kepribadian ganda itu merupakan gejalala scizophrenia??
    mnurut saya bukan. tetapi mrupakan gejala neurosis histeris.

     
  11. mancung64

    Juli 26, 2008 at 9:34 pm

    saya setuju dengan pendapat mas arif, kepribadian ganda bukan gejala schizoprenia.

     
  12. FR12ZA

    Juli 27, 2008 at 5:15 pm

    udah deh tggu kelanjutan ceritanye aje…..
    …(Bersambung)

     
  13. dida

    Juli 28, 2008 at 11:12 am

    Hanya Tuhan yg tahu kenapa Ryan bisa seperti itu..Mari kita doakan sama2..berdoa mulai….(2 menit kemudian)…..berdoa selesai…

     
  14. Danu

    Juli 28, 2008 at 5:25 pm

    Ulasannya hebat…Tapi kenapa hanya fokus pada diri Ryan??? Bukankah kepribadian seseorang tumbuh dan terbentuk (baik besar maupun kecil) dipengaruhi oleh lingkungan, terutama keluarga. Sementara, selama ini media massa tak pernah mengulas sedikit pun tentang latar belakang keluarga Ryan, ayah ibunya, saudara-saudaranya. Bagaimana Ryan semasa kecil didik dan dibesarkan?

    Kalau bisa kasih dong ulasan sedikit tentang pengaruh keluarga terhadap lahirnya seorang pembunuh berantai seperti Ryan….Sebab saya curiga, Ryan tak membunuh sendirian. Ya walaupun ayah, saudara atau ibunya tak ikut membantu membunuh, minimal mereka membiarkan Ryan melakukan itu. Padahal melihat/memergoki Ryan sedang membantai korban-korbannya…Mungkin mereka takut terhadap Ryan, atau justru setuju dan mendukung tindakan Ryan???? Wallahualam…Thank alot

     
    • psyco

      Oktober 14, 2012 at 2:17 am

      saya setuju dengan usul danu sebaiknya dibuat ulasan mengenai keluarga dan lingkungan dari sang pembunuh karena mereka pasti memiliki pengaruh dalam kasus-kasus tersebut atau mungkin mereka juga mempengaruhi dalam munculnya sikap ryan yang seperti itu

       
  15. bude

    Juli 29, 2008 at 3:02 am

    sebaiknya perlu dilakukan penyelidikan latar belakang keluarganya. Apalagi sempat diungakapkan Ryan pernah mengejar ibunya sambil membawa pisau. Yang saya heran, bagaimana Ryan dapat membunuh korban2nya SENDIRIAN ? Mmg gak ada perlawanan dari korban2 itu ? Jangan2 ada orang yang ikut membantu ? Ada gak ya ada orang yang pernah mau dibunuh oleh Ryan, tapi selamat… Seandainya saja… pasti orang ini bisa membantu penyelidikan polisi….

     
  16. kasd

    Juli 30, 2008 at 11:29 am

    Semua orang jenius dalam bidangnya adalah seorang psikopat!

     
  17. thaharuddin

    Juli 31, 2008 at 12:55 pm

    semua psikopat berprilaku demikian karena ketidak normalan jiwanya. namun yang lebih penting disini kami mengharapkan disediakankannya berita terbaru hari ini di sajikan hari ini juga.

     
  18. Very Idham

    Agustus 1, 2008 at 7:16 pm

    Buat semua yg comment di forum ini. Saya Ryan, dan saya MENYESAL telah melakukan PEMBANTAIAN ini. Tapi bila SAYA BEBAS nanti (saya yakin), bolehkah saya meminta saudara atau teman laki2 dari SEMUA BLOGGER disini, tuk saya NIKAHIN? Lebih dari satu jg gak apa2. Saya janji, akan saya Perlakukan mereka BAIK2 dan tidak saya SAYAT-2, asal mereka SETIA pd saya. Bagi Para Komentator yg ingin memberikan saudara atau kawan Laki2 nya buat saya, silahkan hub atau jenguk saya di Polda Metro Jaya. Terima kasih atas perhatiannya. Peace…

     
  19. suaranurani

    Agustus 5, 2008 at 12:27 pm

    @wongkeban: Bagaimana Bisa mendiagnosa seseorang hanya dengan melihatnya secara sekilas ….

    Pertama: Terimakasih kepada pers yang demikian antusias mengulas segala berita sampai gosip (walau kadang-kadang diluar etika juga sih), sehingga sebenarnya masyarakat cukup mendapat informasi umum mengenai kejadian ini.

    Kedua: Hipotesa ini hanya mengandalkan Empati saja. Sejenak berandai-andai, bila saya seperti dia, melupakan ego dan emosi pribadi. Apa yang mungkin saya alami? Apa yang sedang saya alami? Bagaimana itu mempengaruhi jalan pikiran saya sebagai dia? Seorang dosen saya dulu pernah mengajarkan, “mudah bagi seseorang untuk bersimpati, tapi jarang yang berempati. Kalau banyak (yang berempati), profesi psikolog nggak laku …” Inilah yang sering dilakukan detektif dan kriminolog untuk mengusut suatu kasus yang buntu.

    Ketiga: Namanya juga hipotesa …. kadang bener kadang salah. Nah, saya tulis ini sebelum kebenarannya terungkap. Sekarang kan makin jelas penyidikannya. Ada yang bener, ada juga yang enggak, ada pula fakta yang lebih buruk dari saya perkirakan … silakan Anda sendiri yang memutuskan …🙂 Terima kasih banyak juga buat yang sudah komentar.

     
  20. selly

    April 13, 2010 at 4:06 am

    psikopat di kategori skizofrenia…karena mereka mempunyai waham yang salah.
    mereka mnjadi psikopat bnyk bgd penyebab nya..faktor dr ce manusia ny mmpnyai pengalaman pribadi yg tidk mnyenangkan seprti yg di alami oleh ryan.selain itu mash bnyk lg faktor2 yg mmpngaruhi ny…mkany dr itu kt hars hati2 dgn org seprti itu.seseorg yg mmpnyai penyakit psikopat tidak bs di prediksi secara kasat mata.makanya kt hars hati2 dengn org2 terdekat di sekitar kt…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: