RSS

Artalita Suryani (Ayin), Corporate Psychopath?

31 Jul

Bersamaan dengan kasus Ryan, si Jagal Jombang, terminologi Psikopat menjadi topik paling hot di rubrik rubrik media. Nah apalagi ini Corporate Psychopath?

Apakah bos Anda di kantor ‘kejam’? Suka memanipulasi dan menghalalkan segala cara demi tujuannya tercapai? Melakukan ‘manuver’ di kantor tanpa peduli efeknya terhadap rekan, atasan, bawahan? Suka mendongkel posisi orang lain, cari muka berlebihan? Di atas itu, apakah bos Anda charming alias tebar-tebar pesona? Awas, karena bila bos Anda juga memiliki kekebasan emosi (raja tega), berarti Anda berhadapan dengan bos Psikopat!

Ya, bos Anda tidak harus menjadi pembunuh sadis berdarah dingin. Tetapi dia ‘membunuh’ karakter lain dalam peran sehari-harinya.

Studi Kasus: Artalita Suryani (Ayin) dalam kasus suap Jaksa Urip

Dalam hal ini saya punya studi kasus yang sangat menarik, berkaitan dengan Artalita Suryani (Ayin) yang barusan divonis 5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta rupiah.

Dalam vonisnya, majelis hakim mengatakan, tidak ada hal yang meringankan hukuman Ayin. Keterangan yang berbelit-belit, dan yang paling parah, mencederai tatanan hukum dengan sengaja melakukan manipulasi bukti (proposal utang palsu tentang uang 660 juta dollar), sampai sengaja mengatur kesaksian jaksa Urip dari balik tembok penjara sebelum persidangan.


Bagaimana Corporate Psychopath itu?

Mari kita tinggalkan Ayin sejenak untuk mengetahui apa itu Corporate Psychopath. Dirumuskan pertama kali oleh pakar peneliti psikopath Dr Robert Hare dari Universitas British Columbia dan Dr. Paul Babiak, corporate psychopath adalah fenomena yang sering terjadi dalam dunia kerja dimana seseorang memiliki ambisi berlebihan untuk menguasai, terpicu oleh kondisi psikopatnya, menggunakan kharismanya untuk merayu, membujuk, dan mengidentifikasi empat kelompok orang yang berperan di sekitarnya untuk mencapai tujuannya.

Empat kelompok peran itu adalah mengidentifikasi Patron (adalah orang yang bakal melindunginya, biasanya atasan), Pawn / Pion (orang yang bisa dimanipulasinya untuk mengerjakan tugas untuknya), Police (badan yang memegang kontrol, seperti institusi hukum: polisi, jaksa, hakim, pengacara, auditor finansial, komnas HAM, dan badan-badan organisasi lainnya, departemen terkait dalam perusahaan, HRD, dsb). Terakhir, Patsy, adalah calon korban.

Dalam suatu kasus, seorang CP (Corporate Psychopath) mengidentifikasi orang-orang di sekitarnya siapa yang mendukungnya, bisa disetirnya, atau mengancamnya. Dia memilih Patron, dimana dia menebar pesona dan ‘cari muka’. Dia memilih Pawn, dimana dia bisa menyuruh orang lain melakukan sesuatu untuknya, dan dia bisa mengidentifikasi Police, yang bisa menjegalnya. Dalam perannya, CP akan membentuk Patsy, yaitu orang-orang yang bakal disingkirkannya (difitnah). Patsy bisa saja sebelumnya berperan sebagai teman kerja, Patron, atau Pawn. Ketika CP telah berhasil mendapatkan supporter Patron dan Pawn, dia akan menjegal Patsy dan Police. Setelah itu, dia akan naik posisi, bahkan bisa saja dia mendongkel mantan atasannya dan dia naik menggantikannya.

Dr. Hare dikenal karena merumuskan PCL-R (Psychopathy Checklist Revised) – suatu alat untuk mengukur kecenderungan umum seseorang atas tindakan psychopath yang terdiri dari 20 pertanyaan. Dr. Hare memperkirakan secara statistik kecenderungan psikopat adalah 1% dari total populasi manusia. Tetapi dia juga menambahkan bahwa kecenderungan seorang CP di bidang bisnis, politik, badan hukum, organisasi yang berbasis keagamaan dan bahkan pers lebih besar. Hal ini dikarenakan karena fungsi Pawn dan Patron yang sangat jelas, mulai dari tingkat akses pengetahuan, struktur jabatan, wewenang, bahkan dalam organisasi keagamaan Patron disakralkan dan pendapat seorang Patron dianggap ‘uncontestable’ (tidak terbantahkan). Sehingga dukungan dari seorang Patron adalah jaminan keamanan posisi struktural bagi si CP, dan bila seorang CP mencapai kedudukan tertentu, Pawn akan patuh olehnya.

Untuk mengidentifikasi CP, Dr. Hare bersama dengan rekannya Dr. Babiak merumuskan B-Scan yang akan memetakan intensitas sifat buruk bagi seorang CP menjadi “tidak jujur” (insincere), “Tidak dapat dipercaya” (untrustworthy) dimana menghalalkan segala cara dan alasan untuk melegalkan aksinya, “tidak dapat diandalkan”, “memanipulasi”, “sombong”, “tidak punya simpati dan empati” (Insensitive), “tanpa penyesalan” (remorseless), “menjebak dan menyalahkan orang lain”, “tidak sabaran”, “tidak terduga”, “tidak fokus”, “mengambil keuntungan dari orang lain”, “mempesona” (dramatic), “tidak beretika”, dan “suka menggertak” (Diambil dari bukunya Snakes In Suits: When Psychopaths Go To Work).

Dalam intensitas tertentu dalam tiap kategori, seseorang dinyatakan mengidap CP. Dr. Hare juga menyatakan bahwa seseorang manager dapat saja bersikap ambisius, perfeksionis, bawel, dan narsis (cinta berlebihan terhadap diri sendiri), tetapi dia bukanlah seorang CP, justru dia adalah pemimpin dan pribadi yang sukses.

Kembali ke …. Ayin!

Bagaimana menurut Anda? Dalam kasus BLBI yang melibatkan Sjamsul Nursalim, siapakah Patron, Pawn, dan Police, bagi Ayin, menurut Anda? Jaksa Urip adalah Police pada awal kasus, tetapi pelan-pelan didekati sebagai Patron dan digeser menjadi Pawn (dengan disuap untuk melakukan aksinya). Dalam proses penyuapan Jaksa Urip, Ayin juga merumuskan calon Patron dan Pawn baru, yaitu JAMDATUM Untung Udji, yang kemudian menjadi Patsy.

Bagaimana dengan rekaman telepon yang santer diputar di pengadilan? Ayin bahkan ‘mendikte’ Urip untuk bersaksi ini itu di pengadilan yang akan datang. Dalam rekaman itu Ayin menggunakan bahasa sandi “Pak Guru” (Urip), “Bu Guru” (Ayin), “5 Rektor)” (majelis hakim), dsb. Ayin juga tampak begitu influential dan mendominasi percakapan sehingga Urip yang Jaksa Agung hanya mengatakan “ya, ..ya, .. iya, ya Bu, …”

Tanpa penyesalan, bahkan berusaha memanipulasi bukti dengan menyuruh seseorang bernama Yan membuatkan “proposal” yang seolah-olah Urip meminjam uang untuk usaha bengkel. Lha wong ngajak investor berbisnis 100 juta rupiah saja proposalnya pasti lebih dari satu halaman, kok malah ngajak bisnis bengkel 6.6 M proposalnya cuma 1 lembar? Ayin juga ngotot bahwa uang itu untuk pinjaman, bukan suap.

Hal inilah yang membuat majelis hakim menjatuhkan hukuman maksimal karena dianggap “sengaja mencederai hukum”. Sayangnya KUHAP hanya menjerat maksimal 5 tahun untuk penyuap aparat negara. Seharusnya hukuman ini ditambah, karena Ayin telah berbuat kejahatan lain, yaitu “mencederai dan mempermainkan hukum Indonesia”. Denda Rp 250 juta itu juga tidak berarti bagi Ayin, apalagi dibandingkan dengan nilai suapnya yang Rp 600 Miliar.

Fakta terakhir, lihatlah, bagaimana Ayin selalu tampil trendi dan mempesona di sidang? Seolah bukan duduk di kursi pesakitan, malah gayanya yang atraktif dalam menyajikan presentasi pembelaannya kepada majelis hakim seperti presentasi meeting direksi? Charming (mempesona)… influential (mempengaruhi) … wit (kecerdasan) … dangerous (berbahaya).

Bagaimanapun juga, seorang psikopat akan kalah oleh publik (media), karena publik sulit diposisikan sebagai Patron atau Pawn, bahkan posisi publik sebagai Police akan relatif kekal, karena sulit sekali publik dikorbankan oleh seorang CP. Andai saja kasus ini tidak diliput oleh media, sangat mungkin Ayin dan bahkan Urip akan divonis minimal atau bebas.

Ayin, … apa memang benar dia seorang Corporate Psychopath?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 31, 2008 in Sosial, Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

One response to “Artalita Suryani (Ayin), Corporate Psychopath?

  1. gbaiquni

    Agustus 12, 2008 at 8:05 am

    ulasan yang keren…, inspiring…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: