RSS

Tim Psikolog Polisi Analisa Ryan Bukan Psikopat, Validkah?

01 Agu

Pemeriksaan Tim Psikolog Polisi yang terdiri dari tim Polda Jatim, Mabes Polri, dan Universitas Surabaya selesai memeriksa kondisi kejiwaan Ryan. Hasilnya? Ryan dinyatakan sehat walafiat dan dapat diproses secara hukum.

Pertanyaannya, validkah hasil ini? Tanpa bermaksud mau ‘minter’-in hasil dari tim, saya ingin mempertanyakan lebih lanjut metode pemeriksaan (yang tidak dibuka secara umum), untuk memperoleh validitas kondisi Ryan.

Banyak pihak yang mempertanyakan hasil kerja tim psikolog ini, termasuk saya. Mengapa? Karena Ryan secara jelas menunjukkan perilaku ‘aneh’ yang tidak sama dengan pembunuh-pembunuh biasa. Ryan sangat berbelit-belit, dan tidak menunjukkan gejala penyesalan bahkan saat rekonstruksi sekalipun. Tidak menunjukkan perasaan ngeri. Ini secara umum ditengarai sebagai gejala yang tidak biasa.

Kondisi kejiwaan, dapat dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan tingkatannya.

  • Neurosis, yang paling ringan, adalah kondisi stress, depresi, atau gugup (nervous). Ini sangat sering terjadi, dan prosentasenya sangat tinggi dalam populasi. Anda, bisa saja dalam kondisi tertentu mengalami neurosis, saya juga, ketika kita akan menghadapi interview pekerjaan misalnya, lalu contoh manifestasinya adalah gerakan impulsif, misalnya menggerakkan kaki berulang-ulang tanpa sengaja, atau menggigiti kuku. Neurosis belum tentu berbahaya. Dalam banyak kasus bahkan neurosis yang akut manifestasinya tidak berbahaya. Lady Diana misalnya, didiagnosa neurosis akut, manifestasinya adalah bulimia (sulit makan).
  • Psikosis, secara umum kita kenal sebagai orang gila. Benar-benar gila, dan perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Pelaku psikosis inilah yang dimaksudkan dalam pasal 44 KUHP sebagai tidak dapat didakwa karena kejahatannya karena dalam kondisi tidak sadar ketika kejahatan itu dilakukan.
  • Psikopat, adalah suatu kondisi dimana seseorang dalam kondisi sehat jasmani dan pikiran secara umum, tetapi memiliki suatu anomali dimana seorang psikopat memenuhi unsur unsur yang dinyatakan oleh Dr. Hare – perumus test PCL-R (Psychopath Checklist Revised) yang bisa menentukan apakah seseorang mengidap psikopat atau tidak. Mengutip dari keterangan Prof. Dr. TB Ronny Nitibaskara – kriminolog UI, psikopat kelihatan sebagai ‘sehat tapi sakit’, dan sebaliknya, ‘sakit tapi sehat’.

Pemberitaan di media massa hanya menyebutkan, Ryan diberi test layaknya seorang yang akan masuk kerja, alias psikotest. Psikotest adalah alat mengukur IQ, dan tidak dapat menentukan kondisi psikopat. Beberapa kasus psikopat di dunia adalah kasus orang yang intelegensinya super bahkan jenius. Jadi, psikotest tidak berkaitan dengan IQ.

Ryan perlu ditest menggunakan instrumen PCL-R. Ada 20 pertanyaan yang
perlu dijawab berdasarkan wawancara untuk mencari tahu
latar belakang Ryan untuk menentukan intensitas sifat-sifat “tidak dapat dipercaya”,
“tidak dapat diandalkan”, “tidak menyesal”, “tidak jujur”, “erratic”,
“tidak menyesal” dan banyak lagi klasifikasi golongan tingkah laku lainnya . Tim sudah melakukan
pendalaman latar belakang Ryan, tetapi apakah diimplementasikan dalam
instrumen PCL-R, belum ada pernyataan dari tim. Hal ini menyebabkan,
hasil ini sangat meragukan. Lagipula, dalam menjawab PCL-R diperlukan pula jangka waktu untuk mengamati tindakan pasien. Tes psikologi Ryan hanya berlangsung satu hari, dan itu nyaris tidak membuktikan bahwa instrumen PCL-R digunakan secara benar dan efektif.

Dalam acara berita di Global TV hari Kamis malam 31 Juli 2008, seorang wakil dari tim memberikan jawaban “Ya, kalo sains dapat melihat Ryan dari berbagai sisi, tetapi dalam hal ini hukum hanya melihat dari satu sisi.” Dalam hal ini sistem tidak berlaku secara adil, menutup mata dan telinga, dan bahaya sistem kita yang membutatulikan dirinya sendiri sangat berbahaya bagi masyarakat, dan akan saya bahas nanti.

Prof. Nitibaskara menyebutkan janganlah polisi melihat suatu perkara dari single factor position. Jangan terlalu menggampangkan perkara, ah kasus Ryan hanya perampokan biasa. Ditengarai pula ada tendensi bahwa masyarakat ingin Ryan dihukum mati, dan ini menjadi tekanan bagi pihak polisi untuk ‘mencari-cari’ agar Ryan dapat diajukan ke meja hijau untuk diadili tanpa mempedulikan pasal 44 KUHP secara comprehensive dan substantial.

Criminal Psychopath, dengan pembunuhan berantai hingga belasan orang, belum pernah ada di Indonesia. Bila memang Ryan adalah salah satu contoh yang muncul sekarang, kita perlu waspada karena Dr. Hare menyebutkan kecenderungan psikopat di masyarakat modern adalah 1 dari 100 orang. Angka yang sangat tinggi.

Saya, juga para kriminolog dan psikolog lain, tidak men-drive bahwa hasil Ryan haruslah seorang psikopat. Tetapi harusnya ada penjelasan lebih baik oleh tim daripada sekedar ‘sehat’. Bila Ryan bukan seorang psikopat, lalu apa yang menyebabkan Ryan begitu ‘kejam’, dan bahkan ‘remorseless’ (tanpa penyesalan). Apakah Ryan mengalami delusi, hallusinasi, DID (disosiate Identity Disorder) atau dikenal umum di dunia medis sebagai identitas ganda?

Hasil yang akurat bukan hanya akan menjunjung tinggi keadilan, tetapi juga social science. Masyarakat kita akan ‘diperingatkan’ secara sosial bahwa era criminal psychopath di Indonesia sudah datang. Apa itu? Bagaimana mereka ada? Mengapa terjadi? Kasus Ryan yang diidentifikasi secara tepat bukan demi Ryan agar tidak dapat dimejahijaukan, tetapi lebih penting lagi adalah dapat membuka wacana dan paradigma baru bagi masyarakat Indonesia untuk bersikap lebih berhati-hati terhadap kemungkinan menghadapi kasus ini sehari-hari, dan pada gilirannya menyelamatkan hidup lebih banyak orang. Keluarga pun dapat mencegah dengan mencari pertolongan dini bila sang anak mulai menunjukkan gejala yang sama di masa remajanya. Itu lebih baik daripada sekedar solusi ‘sederhana’: “Ryan sehat. Tesnya tidak diumumkan.” karena memang malas meneliti dan kepingin asal dihukum mati saja.

Kenyataannya, banyak kasus psikopat di dunia dianalisa sehat dari kacamata hukum, dihukum mati, kasus selesai. Tetapi kemunculannya makin sering dan terus menerus, dan masyarakat yang tidak tahu tidak terlindungi secara pengetahuan dan pada gilirannya korban makin banyak berjatuhan.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 1, 2008 in Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , ,

4 responses to “Tim Psikolog Polisi Analisa Ryan Bukan Psikopat, Validkah?

  1. diannovi

    Agustus 15, 2008 at 3:53 am

    keren analisanya. thanks.

    salam kenal, ya.;)

     
  2. anita

    Mei 27, 2010 at 6:24 am

    gw setuju banget kalo Ryan ‘mungkin’ bisa dibilang sebagai psikopat….karena saya sudah membaca buku “Without Conscience”-nya Robert Hare. dan symptomp” yang ditulis beliau sangat match…

    Salam,

     
  3. dpras

    September 23, 2011 at 3:51 am

    Kebetulan saya mengikuti suatu forum kajian bulanan, dimana anggota tim ybs mensharekan proses asesmen atas R. Metode yang dilakukan meliputi wawancara, obervasi, dna psikotes (yang secara sempit anda terjemahkan sebagai cara mengukur IQ. Saya masih ingat bahwa salah satu instrumen psikotes yang digunakan adalah TAT, dan itu bukan cara mengukur IQ. Jadi saya harap anda benar2 melaksanakan niat anda untuk tidak minteri kalau memang belum pinter😉

     
    • suaranurani

      Agustus 15, 2012 at 6:32 am

      Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan, sebenarnya setelah saya baca ulang tulisan saya persepsi ‘psikotes sebagai tolok ukur tes IQ’ ini terjadi karena kesalahan saya meletakkan tanda baca. Sebenarnya di awal paragraf saya sudah menyebutkan ‘pemberitaan di media massa.’ Kesan psikotes ala tes IQ itu juga menyitir dari pemberitaan media massa. Dalam hal ini saya setuju dengan Anda, setelah membaca ulang tulisan saya, saya pun ikut terbias.

      Seharusnya berbunyi: Pemberitaan di media massa hanya menyebutkan, bahwa Ryan diberi test layaknya seorang yang akan masuk kerja alias psikotest seperti alat mengukur IQ, dan tidak dapat menentukan kondisi psikopat. Kalimat sekunder ini keseluruhannya adalah penjelasan dari kalimat pertama. Jadi dengan kata lain kesan menyamakan psikotest semata sebagai alat mengukur IQ (yang tentu saja tidak benar) terdapat dalam pemberitaan di media massa.

      Tulisan ini mencermati tendensi dinamika kasus ini pada titik waktu dimana tulisan ini dibuat. Tendensinya adalah terjadi bias di kalangan awam pembaca berita, terjadi entah karena stereotype dari pihak instrumen yang digunakan aparat hukum (dalam hal ini sistem peradilan termasuk psikotesnya) atau dari faktor medianya sendiri.

      Mengingat bahwa dari beberapa sumber surat kabar cetak dan online hampir merumuskan hal yang sama, sekali lagi pada saat tulisan ini dibuat, saya perlu menyampaikan poin sederhana sembari menyalurkan uneg-uneg, untuk memberitahu masyarakat tentang apa, mengapa, dan bagaimana secara singkat tanpa perlu mengubah mereka semua menjadi Sarjana Psikologi. Tujuan tulisan saya hanyalah membuat masyarakat awam lebih awas dan sadar tentang suatu topik, dan pada gilirannya makin kritis mencermati suatu kasus dan mencerna pemberitaan umum. Juga lebih kebal terhadap pembodohan publik seperti yang sering dilakukan Orde Baru.

      Terima kasih koreksinya.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: