RSS

Amrozi cs, Enaknya Dieksekusi atau di-Cuci Otak?

08 Agu

Program ‘bersih-bersih’ penjara terus berlanjut. Semalam, Rio Martil, terpidana mati kasus pembunuhan, ‘dikembalikan dengan paksa’ ke tangan Tuhan. Masih ‘mengantri’ sekitar 40 napi, termasuk 19 warga Nigeria yang divonis mati karena narkoba.

Di tengah pro-kontra hukuman mati, intensitas penyakit sosial di masyarakat memang semakin parah. Seorang perampok tidak lagi mengancam korban, melainkan langsung membunuhnya terlebih dahulu tanpa mengutarakan maksudnya untuk menguasai harta. Politisi korup yang terekam di kamera TV tengah digelandang ke pengadilan pun sering tampak tengah tersenyum. Terorisme merajalela, bahkan dalam kasus Amrozi cs. mereka begitu yakin bahwa pemboman yang mereka lakukan adalah ‘sudah semestinya‘, dan ‘perjuangannya‘ mendapat imbalan ‘kavling di surga‘.

Ancaman Sosial dan Hukuman Mati

Seiring dengan egonya, manusia selalu berusaha untuk mendesak dan memaksakan kebutuhannya pada orang lain. Seorang kriminal memaksakan kebutuhan materinya kepada orang lain dan menggunakan segala cara untuk mencapai kebutuhannya. Seorang dengan pandangan radikal dapat menyerang kelompok lain dan dikenal dengan teroris. Seorang psikopat (kerusakan jiwa), apalagi.

Disinilah sistem masyarakat kuno pertama kali mengenal hukuman mati. Hukuman mati pada hakekatnya dirumuskan agar:

Bagi terpidana:

  • terpidana tidak bisa berbuat jahat lagi (chance for crime). Sayangnya, terpidana juga tidak mendapat kesempatan untuk bertobat dan hidup lebih baik.
  • tidak bisa lagi menyebarkan ideologi yang berbahaya bagi negara dan masyarakat umum (ideology isolation berlaku untuk tokoh politik yang tertangkap dalam perang, tokoh pemberontakan seperti DN Aidit PKI, Kartosuwiryo DI/TII, dsb).

Bagi masyarakat dan negara:

  • terlindungi dari bahaya mortal dengan mengidentifikasi orang yang terbukti membahayakan jiwa masyarakat umum,
  • terlindungi dari doktrin berbahaya yang mungkin diajarkan terpidana, sehingga mencegah masyarakat itu berubah menjadi ancaman bagi masyarakat lain yang lebih besar. Contohnya, seorang koruptor atau teroris dapat mempengaruhi orang lain untuk berpikir dan bertindak sama, menjadikan mereka ribuan pelaku kriminal baru
  • Negara tidak repot menghidupi mereka seumur hidup. Negara juga terlepas dari resiko lepasnya mereka secara tidak sengaja. Negara juga terjamin karena mereka tidak bisa menjadi ancaman kapanpun.


Penentangan Hukuman Mati

Manusia tidak boleh membunuh sesamanya, tapi sejumlah sistem sosial melegalkan hukuman mati, atas dasar masyarakat maupun agama. Ayat-ayat dalam kitab suci pun kerap ‘dipelintir’ untuk melegalkan hukuman mati, dan menenangkan para algojo dalam menjalankan tugasnya. Kenyataannya, semua agama selalu mengajarkan dengan tegas “Tuhan melarang manusia membunuh sesama manusia” dan melarang segala bentuk kekejaman sebagai manifestasi dari setan (evil).

Hukuman Mati awalnya dirancang untuk membuat jera masyarakat, karena semua orang mestinya takut mati. Tapi kini orang tidak lagi takut mati. Lihatlah Amrozi cs., yang dengan sumringah menyongsong kematian demi paham yang dianutnya. Koruptor di Cina pun tidak takut mati, karena baginya itu adalah tindakan kepahlawanan untuk menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Jadi, hukuman mati secara efektif hanya menyelamatkan masyarakat dan kas negara.

Padahal…?

Ya, menyelamatkan masyarakat dari ancaman pembunuh, teroris, dan kas negara tidak harus dengan membunuhi para terpidananya, … andai saja bisa di- Cuci Otak.


Cuci Otak (Brainwash), Mungkinkah?

Dirumuskan pertama kali oleh Robert Jay Lifton, pada tahun 1960, psikolog ini mempelajari tawanan Perang Korea dan Cina. Lifton melihat ada pola yang digunakan untuk membuat seorang tawanan mengubah jalan pikirannya, dan berakhir dengan berubahnya sesuatu yang diyakininya. Tercatat 21 serdadu Amerika menolak kembali ke negaranya dan tetap tinggal di Korea setelah dibebaskan melalui negosiasi yang panjang.

Di tahun 1973, 4 orang teller bank Swedia yang disekap selama 6 hari di dalam ruang khazana sebuah bank menjadi simpati dengan kisah penculiknya dan menolak dibebaskan. Kejadian ini kemudian dikenal dengan ‘Stockholm Syndrome’, dimana korban justru bergabung / bersimpati dengan penculiknya. Peneliti menyimpulkan, hanya perlu waktu 3 hari untuk membuat ikatan emosional antara penculik dan korban.

Ya, cuci otak memang mungkin dilakukan, dan ini adalah pekerjaan berat untuk para dokter dan psikolog untuk merumuskan cara yang efektif agar diperoleh tingkatan ‘kehilangan memori’ tertentu sebelum diprogramkan memori baru.

Cara Kerja Cuci-Otak

Banyak cara yang bisa ditempuh untuk ‘mencuci otak’ seseorang. Saat ini, cuci otak hanya dapat dilakukan dengan pendekatan sains medis. Obat-obatan bisa dipakai untuk mencapai tahapan-tahapan yang diperlukan sepanjang ‘pemrograman kembali’ otak.

Lifton merumuskan 10 hal dalam pemrograman otak umum yang dilakukan Agen (pencuci otak) dan Korban (yang dicuci otak), yaitu:

  1. Assault on identity: Menjatuhkan jatidiri korban. “Kamu bukan siapa-siapa“, “Kamu adalah sampah“.
  2. Guilt: Membuat korban merasa bersalah, setelah krisis identitas. “Kamu berdosa
  3. Self-betrayal: Korban menyangkal dirinya sendiri, dan setuju bahwa dirinya memang buruk.
  4. Breaking point: Korban mengalami dualisme, siapa saya sebenarnya?.
  5. Leniency: Agen menawarkan “jalan”. Identitas baru.
  6. Compulsion to confess: Penanaman bahwa korban bisa bangkit lewat jalan yang ditawarkan Agen.
  7. Channeling of guilt: Korban paham bahwa hal yang selama ini dilakukan “salah”
  8. Releasing of guilt: Korban beranggapan bahwa falsafahnya yang salah, bukan dirinya.
  9. Progress and harmony: Korban diberi pengharapan dan tawaran program baru.
  10. Final confession and rebirth: Korban terlahir kembali dengan jati diri baru.

Aplikasi Pengganti Hukuman Mati

Kombinasi step ini, ditambah dengan pemberian kombinasi obat-obatan depresan dan anti-depresan dibawah kontrol ketat pihak medis, dan dalam kurun waktu tertentu, diyakini bisa membuat orang mengalami ‘cuci otak’.

Teroris semacam Amrozi cs, mungkin pernah menjalani cuci otak sehingga menjalankan misi organisasinya dengan sukarela. Hukuman mati tidak menjamin masyarakat terlindung dari perbuatannya, karena organisasi teroris bisa merekrut orang lain.

Bila cuci otak bisa diprogramkan kepada mereka agar membenci dan phobia terhadap kekerasan, takut darah (hemophobia), takut kepada orang mati (necrophobia), mungkinkah mereka bisa hidup lebih baik di masyarakat tanpa berpotensi membahayakan orang lain? Jika memang benar, maka hukuman mati bisa diganti lebih baik menjadi hukuman cuci otak, lalu dimasyarakatkan kembali.

Cuci Otak bisa digabungkan dengan program lain untuk melindungi memori yang baru diprogramkan agar tidak hilang. Misalnya Lembaga Pemasyarakatan Khusus untuk orang yang dicuci otak, sehingga mereka tetap terpantau untuk kurun waktu tertentu tanpa merasa dibatasi seperti di penjara pada umumnya, sebelum dinyatakan layak kembali ke masyarakat jika memenuhi penilaian tertentu.

Konsekuensinya, bila terpidana sampai lupa pada memori lama atau mengalami amnesia (seperti terjadi pada kasus penculikan anak), atau wilderness – kebingungan pada veteran Perang Vietnam) itu adalah resiko yang lebih baik ditanggung keluarga daripada mengorbankan masyarakat luas.

Mungkin di masa depan cuci otak bisa dilakukan dengan sains fisika, seperti digambarkan dalam film-film sains-fiksi.

—————–
My Mom said: “Anak bagai buku tebal dengan halaman putih yang terbuka. Jadi buku gambar, resep masakan, buku horor, diari lengkap dengan umpatan sumpah serapah, atau buku yang layak dibuang ke tong sampah, semua tergantung kepada yang penulisnya.”

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 8, 2008 in Sosial

 

Tag: , , , , , , , , ,

4 responses to “Amrozi cs, Enaknya Dieksekusi atau di-Cuci Otak?

  1. BaNi musTajaB

    Agustus 9, 2008 at 1:36 pm

    Usulan yang patut diperhitungkan. Namun, meski cuci otak bagi terpidana tampaknya masuk akal. Tetapi tentu keluarga para korban sebagai akibat ulah terpidana tersebut belum tentu dapat menerima. Seolah, hukum: ‘nyawa diganti nyawa’ mutlak dilakukan.
    Tetapi kalau toh hukuman mati tetap dijalankan,adakah pilihan untuk mati? Mungkinkah terpidana mati diberi kebebasan dengan cara bagaimana dirinya dieksekusi? Silahkan mampir di
    http://gus7.wordpress.com/2008/08/07/eksekusi-amrozi-ali-ghufron-imam-samudera
    -dipancung-atau-ditembak-2/
    http://gus7.wordpress.com/2008/08/07/eksekusi-amrozi-ali-ghufron-imam-samudera
    -dipancung-atau-ditembak-1/

     
  2. all about andrie

    Agustus 9, 2008 at 8:22 pm

    Hukuman Mati bukan pelanggaran HAM.
    Apabila vonis tersebut sudah sesuai dengan fakta, bukan karena ke-cacat-an pelaku hukum (penyidik/polisi, jaksa, hakim) memang layak seseorang diganjar hukuman mati. (coba jika berfikir jiwa terpidana diambil paksa aparat, bagaimana dengan jiwa yang diambil paksa oleh terpidana –apapun itu).
    Kesempatan untuk bertobat, saya rasa cukup ketika masa terpidana menunggu eksekusi (apalagi jika pengacaranya iseng -mencari grasi, pk, dst.. dst…)

    Sistematika cuci otak tidak semudah itu, mengingat otak yang dicuci itu sudah lekat ideologi-ideologi (apapun itu terutama kasus makar terhadap negara). Kartosuwiryo yang dicontohkan –dicuci otak hingga bagaimanapun tetap saja akan terus merongrong negara, dan membuat masyarakat tidak aman, dan dengan ketidakamanan tersebut pasti akan berbunuh-bunuhan (berdasar fakta DI/TII) bagaimana mungkin orang seperti ini dibiarkan menghancurkan masyarakat.

    Thx

     
    • suaranurani

      Mei 3, 2009 at 6:06 am

      jiwa diambil paksa oleh terpidana namanya D O S A.
      jiwa terpidana diambil paksa oleh aparat namanya E K S E K U S I
      jiwa terpidana diambil paksa oleh aparat menurut keluarga korban namanya I M P A S
      jiwa terpidana diambil paksa oleh petugas yang menembak namanya P E R I N T A H K O M A N D A N
      jiwa terpidana diambil paksa oleh aparat menurut TUHAN namanya . . . . ? ? ? ?

      Mengadili kriminal itu adalah hukum Manusia. Mengadili DOSA adalah hak TUHAN. Nyawa itu hak Tuhan. Kalau manusia mengambil nyawa orang lain itu namanya berlaku seperti TUHAN. Kalau dia pelaku kriminal, dia berdosa terhadap TUHAN. Kalau seseorang menjatuhkan hukuman mati pada orang lain, dia juga melanggar hak TUHAN.

      Atas dasar kesucian apakah seorang manusia berhak meninggikan diri dan berhak atas hidup orang lain yang tidak pernah diciptakannya? Bukan kesucian, tetapi kesombongan dan balas dendam. Padahal, balas dendam adalah sifat iblis.

       
  3. De Santos

    April 17, 2009 at 10:32 am

    Saya kaget begitu mengetik keyword “Pengganti Hukuman Mati” di google dan ternyata ada tulisan lain selain tulisan di blog saya. Ternyata ide saya bukanlah hal yang baru. Tapi orisinalitasnya terjamin karena saya sama sekali belum membaca artikel ini pada saat saya membuat posting berjudul Pengganti Hukuman Mati di blog saya.

    Mungkin agak sedikit berbeda konsep cuci otak yang ada di sini dengan konsep “hidup baru” yang saya tawarkan dalam tulisan saya. Silahkan lebih lengkapnya cek ke blog saya ke:
    http://poenjagw.blogspot.com/2009/04/pengganti-hukuman-mati.html

    Saya berterima kasih kembali apabila Anda berkenan untuk memberi komentar pada posting saya tersebut.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: