RSS

Anekdot Polisi Indonesia Salah Tangkap

29 Agu

Polisi Indonesia memang punya segudang record buruk. Anekdot dan guyonan di masyarakat cukup memerahkan telinga juga. Salah satunya mungkin Anda sudah tahu, bunyinya begini:


“Tiga polisi dunia berkumpul di tepi hutan. Mereka masing-masing dari Scotland Yard, NYPD New York, dan Mabes Polri. Mereka berlomba menangkap kelinci yang akan dilepaskan ke hutan. Segala metode boleh dicoba, berikut teknologi yang mereka punya.

Polisi Scotland Yard Inggris mendapat giliran pertama. Kelinci dilepas. .. wussss… si polisi dan anakbuahnya menyusul dan menyebar di dalam hutan. Tiga jam kemudian si kelinci tertangkap.

Polisi NYPD mendapat kesempatan kedua. Wuss … lagi-lagi kelinci dilepas. Tiga orang polisi mengikutinya ke hutan sambil menenteng peralatan canggih milik FBI. Katanya, bisa mendeteksi kelinci dengan akurat dalam radius 1 km. Ah masa … eh tetapi 2 jam kemudian si kelinci sudah berhasil dibawanya keluar hutan.

Polisi Indonesia mendapat giliran terakhir. Hanya seorang polisi saja yang bersiap. Wusss … kelinci melesat masuk hutan, polisi mengikuti tanpa peralatan apapun. Hanya lima menit, si polisi menyeret keluar seekor beruang yang menangis berteriak “Ampuun paaak, ampuuun… saya jangan dipukuli… saya ngaku deh… saya kelinciiiiii ….”

***********

Duh negaraku. Salah tangkap yang terjadi dalam kasus pembunuhan Asrori alias Aldo bukan yang pertama kali. Yang baru saja lewat adalah seorang suami istri di Sulawesi Selatan yang dipenjara 2 tahun karena didakwa membunuh anak mereka. Ironisnya, setelah bebas sang anak justru nongol di acara ‘penyambutan’ oleh masyarakat. Ternyata si anak mengaku lari dari rumah setelah cekcok dengan orangtuanya dan menikah dengan seorang pria dari desa lain. Anehnya dia tidak mendengar bahwa orangtuanya ditangkap dan diadili dengan tuduhan telah membunuhnya. Sang ayah disiksa polisi dan jari-jari tangannya kini cacat seumur hidup akibat digencet dengan kursi oleh oknum itu.

Maman, Imam Hambali, dan David ditetapkan sebagai tersangka. Imam dan David malah sudah mendekam di penjara dengan status terpidana. Ternyata, pembunuh Ansori malah si Jagal Jombang Ryan. Lha ini apa-apaan?

Sudah saatnya budaya malas kerja ala orang Indonesia diberantas. Malas, karena pembunuhan ini terkesan ‘nggak ada duitnya’. Nggak seperti pembunuhan bos PT ASABA dimana ‘banyak duitnya’. Malas, karena yang dibunuh dan pembunuhnya ‘toh wong cilik’. Daripada dana operasional habis buat keliling cari bukti dan tersangka, mending yang ada aja di-ublek-ublek biar ngaku. Dari pengakuan bintara polisi yang dulu pernah saya kenal, rata-rata mengeluh harus ‘nomboki’ biaya bensin. Dari mana? Anda tentu tahu.

Polisi adalah Penegak Hukum. Tapi kalau malas menegakkan hukum malah cara-cara yang melenceng diluruskan. Bila individu polisi mencoreng citra, tentu giliran institusi polisi yang bertindak tegas. Pecat, dan penjarakan personel yang menjadi oknum dengan hukuman yang berat. 20 tahun penjara misalnya, atau mungkin hukuman mati?

Pasalnya, bila terpidana salah tangkap ternyata dihukum berat, maka hak hidupnya ini telah dirampas oleh tindakan si oknum. Bayangkan dipenjara 17 tahun untuk kesalahan yang tidak pernah dibuatnya. Mereka sama saja dengan mati. Bagaimana bila malah salah dijatuhi hukuman mati?

Alasan kedua, seseorang yang dilantik menjadi polisi memiliki ‘hak’ dan ‘kuasa’ lebih daripada rakyat sipil. Kekuasaan memang menggiurkan bagi banyak orang, bisa petentang petenteng, tetapi kekuasaan harus dipegang dengan moral dan bertanggung jawab. Bukan seperti anak kecil yang memainkan pistol ayahnya.

Bila saya jadi Sutanto, tentu saya akan malu, dan menginstruksikan agar oknum tersebut dipecat dan diadili. Bila saya jadi majelis hakim, tentu saya akan mencari hukuman terberat dalam KUHP untuk dijatuhkan padanya. Bila saya jadi majelis konstitusi, tentu saya akan merumuskan hukuman yang jauh lebih berat bagi aparat militer dan polisi untuk penganiayaan ketimbang bila dilakukan oleh warga sipil. Mengapa? Tentu, karena setiap aparat dan polisi dilindungi oleh undang-undang, menyerang polisi adalah melanggar hukum. Juga, karena mereka memiliki akses pada senjata. Sehingga polisi Indonesia bertindak dengan benar dan penuh pertimbangan, bukannya dar der dor kayak main Playstation.

Jadi? Kita lihat saja hukumannya.

*** The greater power should come with greater responsibility – from Spiderman, movie. ***

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 29, 2008 in Sosial

 

Tag: , , ,

5 responses to “Anekdot Polisi Indonesia Salah Tangkap

  1. Ariv

    Agustus 31, 2008 at 2:31 pm

    Yah, begitulah “standar” seseorang bisa jadi polisi. Asal mahir petentang petenteng alias sok gagah dan punya duit segudang (buat sogokan sewaktu ngelamar polisi dulu) pasti jadi. Akhirnya profesionalitas dan keberanian bertanggungjawab sama sekali tidak punya. Ironis banget. Sok gagah kalo jalan tapi pengecut dalam tanggungjawab.

     
  2. Yordan

    September 3, 2008 at 10:20 pm

    Lah wong masuk jadi polisi di Indoensia aja puluhan juta, gimana mungkin mau mengabdi di masyarakat?? Polisi kadang cuma ajang sok gagah gagahan aja kog. Bukan untuk pengabdian..

     
  3. judi2010

    September 4, 2008 at 3:58 am

    susah juga sih kalau sebuah pola lama sudah “mengurita”..mulai dari sistem rekruitment yg udah terkontaminasi, idealisme profesi yang sudah tercemar oleh kebutuhan hidup…,serta pola pendidikan serta pembinaa yang “mungkin”kurang memadai sehingga dalam investigasi kadang sering memaksa “beruang” untuk mengakui sebagai kelinci”. kasus salah tangkap juga pernah terjadi dibekasi dimana seorang anak sempat di vonis bersalah dan menjalani hukuman penjara 6 bulan karena dituduh membunuh ayahnya…padahal korban lainnya sudah mengatakn bukan anak tersebut yg melakukan…yah gemana yah mungkin karena ada “ABS” juga kali yah buat atasannya

     
  4. aden

    Agustus 4, 2011 at 8:32 am

    ha..ha..ha..ha biarkan negara baru berkembang..!!!

     
  5. ana

    November 16, 2014 at 1:28 pm

    Polisi itu hebat jika ia bertindak adil……

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: