RSS

UU Pornografi: Buruk Muka Cermin Dibelah

14 Okt

Hari Minggu 12 Oktober 2008, massa Bali yang diwakili beberapa elemen masyarakat dan mahasiswa kembali berdemo di Lapangan Puputan Renon untuk menentang UU Pornografi. Menariknya, aksi kali ini ikut dimotori oleh Permaisuri KBR Hemas, istri dari Sultan Hamengkubuwono X, yang “hijrah” jauh-jauh ke Bali hanya untuk menyuarakan penentangan beliau terhadap UU ini.

Sri Ratu Hemas menentang UU Pornografi dengan empat poin utama, yaitu:

1. Banyak pasal karet dalam UU Pornografi, dan seperti biasa aparat selalu senang menjadikan pasal karet untuk bertindak keparat terhadap rakyat.

2. UU Pornografi dinilai terlalu menuding dan menyalahkan kodrat perempuan sebagai ‘pembangkit nafsu pria’. Tindakan ini dinilai sebagai pelecehan gender.

3. Pengecualian bagi tradisi, suku dan bangsa tertentu dalam UU Pornografi dinilai sebagai pelecehan suku bangsa tersebut, karena artinya tradisi dari suku bangsa tersebut sebenarnya dinilai sebagai porno atau cabul, namun tetap dihormati sebagai tradisi salah satu bangsa Indonesia. Tidak ada satupun suku bangsa di Indonesia yang rela dicap sebagai bangsa yang cabul, terutama dengan tradisinya yang dipandang luhur secara turun-temurun!

4. UU Pornografi dinilai adalah gagasan dalam satu kelompok dalam bernegara. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Plural dalam wacana Bhinneka Tunggal Ika artinya bukan hanya “Dua tetapi satu juga”, atau “Tiga tetapi satu juga”, atau “Beberapa tapi satu juga”. Mungkin bahasa Sansekerta perlu ditekankan lagi bagi pelajar di sekolah saat ini, dimana bahasa lain semisal Inggris, Perancis, Cina, Rusia, dan Arab semakin ditekankan di sekolah-sekolah. Bhinneka Tunggal Ika yang dicengkeram oleh Garuda Pancasila artinya “BERBEDA-BEDA tetapi satu juga“. Artinya, di Indonesia terdapat berbagai macam suku, bangsa, kelompok, dan agama – dan toleransi MUTLAK harus dikedepankan agar tidak saling melanggar hak dan perasaan kelompok, terutama berkaitan dengan isu-isu sensitif. Ide ini dinilai melanggar konsep Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 1945.

Buruk Muka Cermin Dibelah

Menarik mencermati pendapat Sri Ratu Hemas dari sudut pandang kaumnya (wanita). Memang, dalam UU Pornografi wanita seolah-olah ditempatkan sebagai “obyek benda” sebagai “Pembangkit Nafsu Pria”. Disalahkan sebagai faktor “Pembangkit”, tetapi dalam beberapa kasus kriminal juga sekaligus dikenal sebagai “Pemuas Nafsu Pria”. Siapa pula penikmatnya bila bukan pria?

Ini semakin melengkapi ketidaksetaraan gender dimana wanita boleh dipersunting oleh pria beristri (poligami), dimana wanita sendiri tidak boleh menikah dengan lebih dari satu pria dalam waktu yang sama (poliandri). Belum lagi status dalam masyarakat dimana pria lebih diutamakan daripada wanita dalam banyak hal menjadikan wanita sebagai “warga negara kelas dua”. Padahal, bila kita bijaksana, tiada seorang pun di dunia ini yang dilahirkan oleh seorang Ayah! Kelahiran adalah proses utama kehidupan. Nabi Muhammad SAW sendiri ketika ditanya mengenai siapakah yang harus kita hormati, Beliau menyebut tiga kali: “Ibumu, ibumu, dan ibumu.” Jadi atas dasar apa pria boleh memiliki super-ego terutama di bidang nafsu?

Pendapat saya sama dengan Sri Ratu Hemas, bahwa para pria (terutama yang menyusun UU ini) cenderung untuk melakukan pembenaran-pembenaran diri menggunakan berbagai macam dalih (termasuk agama) untuk melegalkan super-ego nafsunya. Masih teringat dulu ketika marak diberitakan tentang legalisasi poligami. Kini giliran berbagai pihak berupaya untuk menertibkan “nafsu liar” maka para pria ini pula lah yang mengkambinghitamkan wanita sebagai obyek penyebab “bangkitnya nafsu”, semata-mata karena kemunafikan diri mereka sendiri yang tidak mau disalahkan karena tidak mampu mengontrol hawa nafsunya! Dan hal ini sebenarnya sudah berlangsung sejak jaman dahulu kala!

Benar-benar buruk muka cermin dibelah. Memecah cermin semata-mata karena super-ego tidak mau mengakui bahwa wajahnya buruk! Andaikata Allah berfirman untuk membelenggu seluruh lidah pria di seluruh dunia untuk tidak mengatakan kebohongan sepatah kata pun, tentu sebagian besar dari mereka mengakui bahwa poligaminya dilakukan demi nafsu, dan menyalahkan diri sendiri yang tidak mampu mengontrol nafsu, dan bukannya menyalahkan wanita berbikini di pantai dan majalah-majalah semacam FHM, Matra, dan sebagainya itu!

Yang lebih ironis adalah ketika dalih yang disusun dari pembenaran-pembenaran agama (-nya) itu dibenturkan terhadap kebudayaan lain. Menuding kebudayaan lain sebagai kebudayaan porno, yang justru memiliki masalah seksual yang jauh lebih kecil. Ibaratnya, orang lain dipaksa memakai belenggu yang sama, hanya karena dirinya sendiri perlu dibelenggu oleh tindakannya sendiri. Padahal orang lain itu tidak bertindak apa-apa. Well, keadilan tidak pernah berkata “sama rata-sama rasa”. Keadilan artinya “memberikan seseorang apa yang menjadi hak dan kewajibannya.” Seorang ibu tidak akan memberikan kaos yang sama persis ukurannya kepada kakak yang XL dan adik yang M. Adik pun tidak bisa protes bahwa sang Ibu tidak adil karena kaos kakak lebih besar dari kaos adik! Ini adalah pemikiran gila!

***

Setia kepada NKRI adalah harga mati, termasuk setia kepada Pancasila dan UUD 1945. Ini adalah satu-satunya cara agar bangsa Indonesia tidak terpecah menjadi Negara Sumatera, Negara Aceh, Negara Jawa, Negara Ambon, dan sebagainya.

Menarik mencermati ucapan seniman sepuh Franky Sahilatua yang turut hadir kemarin di Lapangan Renon, bahwa pemaksaan ini benar-benar mencerminkan ego suatu kelompok tertentu. Bahwa bila dipaksakan, lambang burung garuda bisa berubah menjadi onta, tanpa merinci lebih lanjut apa yang dimaksud dengan onta tadi. Franky juga menambahkan, bahwa bila disahkan UU Pornografi bisa menjadi pintu masuk bagi UU yang lain yang memiliki nada serupa untuk merongrong dan meruntuhkan Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya dan pada gilirannya Republik Indonesia secara keseluruhan.

Menurut saya, bukanlah tidak mungkin bahwa gerakan musuh negara masih hidup hingga saat ini. Sejak merdeka 63 tahun yang lalu, Republik Indonesia sudah menghadapi berbagai macam kaum pemberontak, kudeta (coup d’etat), pengkhianatan, bahkan terorisme. Mulai dari Pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo, Pemberontakan Permesta, G30S/PKI, hingga kasus bom di tanah air yang saking banyaknya mirip petasan Lebaran di kampung saya tempoe doeloe.

Memang, gerakan menggulingkan Pancasila masih ada, dan kini semua berpulang pada kewaspadaan kita menghadapi bahaya laten ini dari masa ke masa, apapun bentuknya, bagaimanapun caranya.

*****

Sesuai anjuran KRB Hemas, saya berkata: “Atas nama Pancasila dan UUD 1945, saya menyatakan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya menolak UU Pornografi sebagai upaya melecehkan kelompok tertentu dan demi kepentingan kelompok tertentu, yang bertentangan dengan asas Bhinneka Tunggal Ika yang telah dirumuskan oleh para Bapak Pendiri Negara kita.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 14, 2008 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: