RSS

UU Pornografi: Ketika Manusia di-Sama-kan Dengan Hewan

06 Nov

Jadi ingat ketika saya pernah punya hamster betina. Setelah lama si hamster hidup sendiri, saya berniat membeli pejantan agar punya bayi hamster yang lucu-lucu. Selang beberapa hari, seekor pejantan saya ‘perkenalkan’ ke hamster betina saya. Welah dalah … baru beberapa menit, pas saya tangkap dan balik, ternyata kelamin si jantan ‘membengkak’ dan merah ….. hehehe ….

—————-

Jadi ingat juga dengan UU Pornografi. Seorang rekan blogger menulis tentang disahkannya UU Pornografi ini dan mengutip artikel saya ( http://zulfikarfahd.wordpress.com/2008/10/30/lets-curse-porn-bill-and-its-drafters/#comment-27 ). (btw, thanks🙂 )

Di artikel itu, zulfikar menulis “UU ini tidak hanya merendahkan PEREMPUAN yang dianggap sebagai ‘pembangkit birahi’, tetapi juga LAKI-LAKI yang dianggap suka terangsang sembarangan, seperti hewan!

Memang sama persis!

———-

Pernah saya menulis tentang hakekat ‘masuk surga’, yang artinya adalah pencapaian kesempurnaan diri secara batiniah. Semua agama saya rasa mengajarkan ini. Buddha mengajarkan Bodhi melalui pertapaan, Hindu pun demikian, Islam juga mengajarkan tentang puasa terutama di bulan Ramadhan, Kristen (termasuk Katolik) juga mengenal puasa.

Dalam hal berpuasa, yang bernilai di mata Tuhan adalah bagaimana perilaku kita terhadap godaan. Kemuliaan seorang manusia terletak pada kebijaksanaannya menilai dan berlaku di dalam segala situasi.

Misalnya dalam hal makan. Hewan akan makan begitu merasa lapar. Manusia, mampu menahan lapar. Bahkan, dalam kondisi tertentu – termasuk saat berpuasa – makanan di depannya pun tidak akan dimakan.

Hewan, serupa hamster saya tadi, ketika melihat betina langsung ‘on’. Langsung ditubruk dan disergap dengan nafsunya. Manusia, tentu yang dikaruniai akal budi, tentu saja tidak diharapkan bersikap seperti itu. Manusia, seharusnya melakukan hubungan seks dengan bijaksana, tidak asal-asalan seperti hamster saya.

Tapi, kenyataannya, banyak pihak yang merasa bahwa dirinya (dan manusia lainnya termasuk yang tidak sepaham dengan mereka) adalah makhluk serupa hewan yang mudah sekali terangsang sembarangan. Mirip hewan. Maka demi agar ‘pejantannya’ tidak terangsang sembarangan, dienyahkannya sang betina atau ditutupinya rapat-rapat. Jadilah UU Pornografi, yang secara implisit, merupakan produk hukum yang menginterpretasikan bahwa manusia adalah hewan dan untuk meninggikan derajatnya maka perlu diterapkan selembar peraturan ini.

————–

Jadi ingat pula ketika sejumlah massa di beberapa daerah menolak UU ini. Jelas, mereka tidak terima dianggap seperti hewan, karena mereka telah memiliki kebijakan tersendiri. Mereka telah mampu bersikap seperti manusia dan menguasai nafsunya. Misalkan, di pantai Bali, banyak turis bule berbikini (bahkan ada yang topless) tetapi bila Anda perhatikan tak ada satu pun penduduk lokal yang peduli. Pemandangan itu sudah terlalu biasa di Bali.

Ada pula kelompok yang setuju diadakannya UU ini. Ada pula kelompok yang begitu reseh, ketika melihat wanita mengenakan busana tank top, celana pendek dan sepatu hak tinggi. Baru segitu aja udah ‘on’.

Lepas dari topik ini, ada pula kelompok masyarakat yang bahkan menghancurkan rombong pedagang kaki lima dengan alasan “tersinggung”, karena “saat itu adalah bulan puasa”.

Menahan hawa nafsu adalah suatu bentuk kemuliaan. Menahan nafsu dengan meniadakan godaan bukanlah hal yang mulia menurut saya. Bagaimana mau menahan nafsu, wong godaannya aja nggak ada? Di dalam Islam sendiri juga jelas disebutkan tentang hakekat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan menghilangkan penyebab nafsu.

Dan yang memperoleh pahala tentunya adalah orang yang berhasil mencapai kemenangan batiniah dengan menahan hawa nafsu. Bukan yang menghilangkan penyebabnya.

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada November 6, 2008 in Politik, Sosial

 

Tag: ,

9 responses to “UU Pornografi: Ketika Manusia di-Sama-kan Dengan Hewan

  1. kata mutiara antonhuang

    November 10, 2008 at 4:07 pm

    Yupp..setuju..artikel menarik, ungkapan suara nurani.

     
  2. Anjrit

    November 22, 2008 at 4:38 pm

    UU ni kan ditujukan tuk mlindungi anak2 dari pornografi & pornoaksi, UU ni dbuat bkan mnyamakan manusia dgn hewan pi skarang manusia tu sndri yg skrang prilakux mirip dgn hewan, skarang dIndonesia dah bnyak yg mlakukan sex bebas, bkankah tu sifat hewan, bnyak pemuda yg t brmoral, dagama islam kan mngjarkan tuk tdk mengumbar aurat dmuka umum khususx perempuan, saat ni hal tu dah umum dIndonesia, pa para pnerus bngsa akan brmoral klo dtujukkan sprti tu ??? bnyak daerah menolak UU ni, pi daerah trsbut tak mmberikan solusi trbaik tuk msalah ni, malah jwban mreka g da intelek, pkke UU hrus tetep dsahkan spaya generasi pnerus bangsa brmoral, mngerti agama, n brjiwa patriotisme, spya para wakil rakyat kelak g korupsi n bikin video porno !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! hidup UU pornografi & pornoaksi !!!!!!!!!!!!!!!!!!hidup!!!!!!!hidup!!!!!!!hidup!!!!!!!Allahu Akbar!!!!!!!!!!!!!allahu Akbar!!!!!!!!Allahu Akbar!!!!!!!!

     
    • suaranurani

      Mei 3, 2009 at 5:48 am

      yang muslim silakan mengikuti ajaran agamanya. Perempuan muslim silakan dilarang pake bikini. Silakan difatwakan oleh MUI. Pria manapun yang memperkosa tanpa pandang bulu adalah melanggar hukum. Yang harus diurusi adalah moral umatnya sendiri (dengan penyuluhan dan bimbingan di tempat-tempat ibadah agama yang bersangkutan). Bukan umat agama lain. Kalau memang tidak setuju dengan perempuan berbikini, toh juga pantai Kuta Bali penuh dengan turis lokal? Lho, ngapain mereka disini kalau tahu memang tempat ini banyak orang berbikini? Kalau memang berhasil melarang bule berbikini di pantai Kuta, saya berani bertaruh, Kuta pasti sepi dari turis domestik!

      Tidak perlu di UUkan. UU bersifat mengikat seluruh warga negara tanpa kecuali. Indonesia bukan negara Islam, sekalipun mayoritas penduduknya adalah muslim. Saat UU ini diterapkan, yang terjadi adalah pemaksaan pandangan Islam dalam kehidupan masyarakat yang non-muslim. Padahal masyarakat non muslim punya kebijakan tersendiri. Bila diperbandingkan, ini akan menimbulkan konflik karena tak satupun dari dogma dan paham yang mau direndahkan dihadapan dogma lain. Jadi, let it be. Biarkan. Jangan diintrusi.

       
  3. suaranurani

    Desember 8, 2008 at 3:48 am

    Kelihatannya masih saja ada orang yang belum menangkap maksud saya. Inti dari tulisan saya adalah KENDALIKAN DIRIMU SENDIRI, BILA MENGAKU BERAGAMA. UU Pornografi ini diterbitkan semata-mata hanyalah:

    1. Di level sosial, ada sekelompok orang yang mengaku beragama tetapi telah GAGAL TOTAL mengendalikan nafsu dirinya sendiri sehingga perlu juga mengatur orang lain supaya dirinya sendiri dan keluarganya tidak terangsang sembarangan. Saya tidak percaya, … misalnya, bila para perumus UU ini dan/atau anak-anaknya tidak pernah blusak-blusuk ke situs-situs internet atau medium-medium lainnya hanya untuk mencari materi porno, bahkan setelah UU ini diberlakukan.

    2. Di level politik, ada sekelompok orang telah mengklaim bahwa pahamnya lebih baik daripada paham orang lain dan berusaha memaksakan pemikirannya kepada kelompok orang lain secara konstitusional. Alasan yang kedua ini bukan lagi tentang pornografi. What the hell gitu loh dengan isi materinya. Yang ada hanyalah kepuasan. Kira-kira beginilah pendapat mereka: “cara pandang saya harus tertera di konstitusi Nasional, dan diterapkan pada orang-orang lain selain saya, bahkan yang tidak sepaham sekalipun. Dengan demikian saya puas karena eksistensi kelompok saya diakui secara valid dan tertera dalam UU.” Alasan kedua ini adalah pelan-pelan memasukkan unsur-unsur yang tidak sejalan dengan asas Pancasila dan UUD 1945, tidak menghargai Bhinneka Tunggal Ika. Ini saya anggap sebagai suatu plot rencana jangka panjang untuk pelan-pelan membongkar Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Pornografi hanyalah salah satu materi yang digunakan sebagai entry-point mereka dalam membelenggu Pancasila, dengan mengatasnamakan kebenaran dan kebaikan.

    Protes saya di level sosial adalah karena sejatinya telah ada instrumen-instrumen (KUHP, dsb) yang mengatur tentang ini. Protes saya di level politis adalah karena saya peduli dengan keutuhan bangsa yang majemuk ini. Bangsa Indonesia besar karena kemajemukannya, dan karena hal itu pula terletak kelemahannya. Sejak merdeka, memang ada beberapa kelompok yang tidak senang dengan falsafah negara dan bentuk negara kita, dan berjuang untuk meruntuhkannya. Hal itu terbukti dengan beberapa kali pernah terjadi pemberontakan.

     
  4. Joe

    Januari 29, 2009 at 5:11 am

    Jika kita baca buku “Kenapa Berbikini Tak LAnggar UU Pornografi,” (ada di gramedia) maka yang menolak UU POrn seharusnya mendukung, sebalilknya yang mendukung seharusnya menolak. Kenapa bisa begitu? Dunia memang sudah terbolak-balik. Biar kita tidak terbolak-balik juga, maka buku di atas sangat penting tuk dibaca.

     
  5. JR

    April 30, 2009 at 6:30 am

    SEUJU DGN UU PORNOGRAPI & PORNOAKSI>>>
    NU NOLAK LIEURRRRRRRRRRRR

     
  6. aisyah

    Juni 25, 2009 at 8:57 am

    aku ndak setuju krn artikel ini meren dah kan martabat perempuan ,karena di artikel ini wanita dianggap penggoda sedang pria dianggap sebagai orang yang suci yang wajib menahan napsu dari kami (wanita)

     
    • suaranurani

      Agustus 15, 2009 at 3:22 am

      saya juga gak setuju, mbak aisyah. Yang menganggap begitu itu kan UU pornografi itu, dan orang-orang yang setuju dengan UU itu. Dengan sendirinya secara implisit mereka menganggap diri suci, padahal justru mereka yang gak mampu menahan nafsu. Makanya agar mereka ‘tetap suci’, mereka menyuruh membatasi perempuan karena dianggap biang nafsu mereka.

      Tulisan saya ini adalah bentuk sarkasme terhadap mereka. Mohon jangan dibaca setengah-setengah mbak, dan kalo baca jangan kecepetan ….🙂

       
  7. John

    Agustus 25, 2015 at 5:10 pm

    info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba🙂 , Aerilyn

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: