RSS

Pasca Trio Bali Bomber I Menjadi Jenazah

07 Nov

Menyongsong detik-detik akhir hidup trio Bali Bomber, Pemerintah khususnya pihak-pihak intelijen seharusnya telah mampu mengidentifikasi kelompok-kelompok ekstrimis yang berpotensi menyebabkan tindakan makar dan pemberontakan terhadap NKRI dan mengisolasinya.

Di tengah emosi masyarakat yang terbagi dua antara pro dan kontra, Pemerintah seharusnya tidak menutup sebelah mata bagi dunia terorisme di Indonesia. Terorisme – dalam hal ini yang sehaluan dengan tindakan trio bomber dengan mengatasnamakan Islam – seharusnya sudah harus dipahami bahwa ada dogma khusus yang memotivasi tindakan-tindakan ini. Dogma ini telah tersebar, dan potensi seseorang menjadi teroris menjadi lebih besar dengan menerima dogma ini lewat lembaga-lembaga pengajaran yang telah terkontaminasi oleh oknum-oknum teroris.

Kita dapat melihat bahwa telah ada sejumlah pihak yang simpati terhadap Amrozi cs. dengan mewakafkan tanahnya untuk pemakaman mereka. Wakaf tanah adalah niatan baik yang dapat dikategorikan sebagai amal, tetapi lain halnya bila tujuan dari wakaf ini adalah mendirikan Taman Makam Mujahid Indonesia. Ada kesan bahwa pewakaf setuju dengan tindakan Amrozi cs. dan berniat melestarikan dan mengkultuskannya.

—-
Komparasi dengan G30S/PKI

Ketika berhasil menggagalkan pemberontakan PKI di tahun 1965, Pemerintah langsung menyatakan bahwa PKI dan segala ormasnya adalah organisasi terlarang. Ajaran komunis adalah ajaran yang terlarang di seluruh tanah air. Bahkan, saking kerasnya pemerintah bereaksi terhadap kekejaman peristiwa G30S/PKI, rakyat pun seolah ‘jera’. Nyaris tidak ada lagi kegiatan sekecil apapun yang berkaitan dengan komunisme. Bahkan wacana komunis dalam kurikulum pendidikan di sekolah pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan melalui kontrol pemerintah yang ketat. Ada kesan bahwa Pemerintah melekatkan stigma bahwa komunis identik dengan Tidak Bertuhan (atheis), dan keji. Ini tampak dari pengetahuan dan tanggapan masyarakat awam pada umumnya tentang apa itu komunisme.

Senada dengan itu, kekejaman yang dilakukan oleh Amrozi cs. di abad modern ini benar-benar mencengangkan. Bagaimana mungkin tiga orang mengotaki pembunuhan 202 orang dan melukai ratusan lainnya (sebagian besar cacat permanen). Bagaimana bila ada 1000 Amrozi – Amrozi lain, yang kini masih berstatus ‘pendukungnya’.

Jika Pemerintah bisa bersikap keras dan tegas sebagaimana dilakukan oleh Mayjen Soeharto di tahun 1966 dulu, niscaya gerakan merongrong kewibawaan Pemerintah bisa ditekan kembali. Satu-satunya hal yang saya lihat dari pemerintahan kini adalah suatu ketakutan untuk bertindak, karena organisasi makar ini mengatasnamakan agama tertentu. Pemerintah terlalu hati-hati dalam bertindak, karena takut akan menyinggung keyakinan agama tertentu, dalam hal ini kaum Muslim pada umumnya.

Seharusnya Pemerintah tidak perlu takut, karena organisasi-organisasi legal Islam seperti MUI telah menyatakan sikap bahwa jihad ala Amrozi bukanlah jihad yang sebenarnya dalam pengertian Islam. Demikian pula pendapat tokoh-tokoh Islam Indonesia seperti Gus Dur dan Prof Quraish Shihab.

Yang membuat Pemerintah pantas berhati-hati adalah karena gerakan ini nyata terlihat telah bergerilya jauh sebelum peristiwa Bom Bali I. Apa yang tampak di Legian 12 Oktober 2002 adalah buah dari kelengahan pemerintah pasca pergantian tampuk kepemimpinan Pak Harto lewat reformasi. Pak Harto, dengan pengalaman membasmi PKI tahun 1966, tahu betul siapa teman dan siapa lawan. Kini dengan hilangnya informasi pasca reformasi, Pemerintah bakal mendapat kesulitan karena beberapa dari tokoh-tokoh masyarakat dan negara bahkan sudah teracuni dengan ideologi ini dan mampu berpotensi memobilisasi massa dan memperkeruh suasana.

Yang jelas, Pemerintah tidak boleh gegabah, tapi juga tidak boleh diam saja melihat satu demi satu tokoh radikal yang dikultuskan masyarakat bermunculan dan mendengungkan gerakan radikal. Bila itu dibiarkan terjadi, niscaya suatu waktu akan meletus bom yang lebih dahsyat dari Bom Bali, yaitu bom kudeta, di saat NKRI terancam keselamatannya. Saat dimana rakyat diuji kesetiaannya terhadap Pancasila. Semoga saat itu tidak pernah terjadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 7, 2008 in Politik, Sosial

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: