RSS

Berita dan Komentarnya: Yang Santun dan Yang SARA

15 Agu

Alhamdulilaaah … akhirnya online juga. Setelah saya lepas dari masa ‘tahanan’ saya. Eittt, jangan keburu lari dari halaman ini dulu. Tahanan bukan berarti saya seorang residivis atau terpidana. Tahanan dalam arti ‘saya menahan diri saya agar tidak tampil lagi di blog ini untuk sementara waktu.’

Mengapa?

Ketika terakhir kali saya log in ke blog ini, internet murah sedang marak. Laptop murah bermunculan. Di saat yang sama sebuah brand laptop menggeber jualan Netbook pertamanya. Era Netbook murah 2 jutaan pun mulai.

Sayangnya, kemudahan teknologi ini – seperti semua hal yang lainnya juga – selalu diikuti oleh perkembangan negatif. Salah satu yang saya cermati adalah mulai santernya komentar-komentar super-negatif atas pemberitaan online dan posting-posting atas beberapa opini.

Di saat saya berhenti log in di blog ini, saya mencermati sejumlah komentar yang berbau SARA atas apapun pemberitaan dan posting, hampir di mana pun. Koran online lokal. Bahkan Yahoo dan Youtube. Apapun bisa dijadikan SARA. Jangankan pemberitaan yang memang ‘berbau’ atau ‘menyerempet’ topik agama, lah bahkan topik kebakaran hutan, penemuan planet baru, hilangnya planet Pluto, dan bahkan upload tentang performa seorang pianis di Youtube pun berubah jadi ajang debat SARA.

Wong edan, mungkin begitulah komentar Anda saat ini. Ya, saat itu pun saya juga berpikir demikian.

Menyadari bahwa saya telah menulis beberapa ‘topik panas’, yang terkadang juga ‘melemparkan’ isu moral ke dalam status quo, saya pun cemas apakah tulisan saya juga dapat memancing keributan online. Saya sengaja membuat beberapa blog, beberapa topik hangat yang berbeda, lalu membelenggu diri saya untuk tidak menulis di blog ini untuk beberapa lama.

Saya meletakkan trace sederhana pada blog wordpress ini untuk melaporkan pada saya secara berkala, berapa jumlah pengunjung harian. Blog ini sama sekali tidak ramai, tetapi juga tidak bisa dibilang sepi.

Hasilnya? Syukurlah, kendati tetap ada komentar positif dan negatif, semuanya sebagian besar berada dalam koridor kesantunan. Pernah saya mendapati satu komentar yang cukup potensial memancing keributan, tapi untunglah tidak dibalas oleh netter yang lain. Hasil yang sama juga didapati di beberapa blog lain yang saya tulis dan di blog beberapa rekan yang juga melakukan uji yang sama.

– – –

Lantas apa sebenarnya yang trigger komentar super negatif? Tentu saja, berbicara mengenai probabilitas, makin banyak pengunjung makin terbuka peluang untuk aksi vandalisme. Tapi beberapa rekan jurnalis sengaja mengubah – ubah gaya tulisannya untuk melakukan tes sederhana terhadap fenomena vandalisme di dunia maya.

Hasil sementara yang kami cermati dari tes alakadarnya ini adalah: berita yang tidak proporsional, tidak netral alias berat sebelah, tidak akurat, tendensius, dan kematangan rencana penyampaian ide sangat menentukan respon dari pembaca. Dalam hal ini, kontrol terhadap konten tulisan lebih baik daripada kontrol terhadap konten media, karena saya masih ingat beberapa posting Youtube (termasuk si musisi pianis tadi) tanpa embel-embel apa pun sudah lebih dari cukup memancing kerusuhan.

Saya teringat pada isi buku The Secret yang bisa saya rumuskan dalam satu kalimat: Anda mendapatkan apa yang Anda pikirkan. ‘Pikirkan’? Bukankah harusnya ‘Percayai’? Ya, maaf, saya modifikasi sedikit, bersebelahan dengan tahapan ‘percaya’ adalah tahapan ‘pikirkan’.🙂 Saya akan berikan sebuah analogi.

Akhir-akhir ini cukup banyak karya novel yang dikemas menjadi komik. Seperti The Mortal Instrument karya Cassandra Clare (yang sebentar lagi akan diangkat ke layar lebar). Atau kisah Edward Cullen dan Bella dari novel Twilight yang sudah difilmkan, tapi tanpa komik.

Walaupun inti ceritanya sama, tetapi sikap audiens ketika membaca novel, komik, dan menonton bioskop sangat berbeda. Cara pembawaan dan kedalaman kemasan bahasa turut menentukan persepsi dan segmen audiens.

Salah satu produk yang sering dinilai ‘salah kaprah’ persepsi oleh para kritikus pendidikan anak adalah komik Sin Chan, yang sering dikambinghitamkan sebagai ‘perusak moral’ anak kecil. Buku komik kok ngajarin yang enggak-enggak, Sin Chan dan gajah ajaibnya itu. Hal yang sama juga dikeluhkan para orangtua di Inggris ketika J.K. Rowling mulai memasukkan adegan-adegan gelap, sadis, dan pembunuhan dalam seri-seri terakhir bukunya. Menjawab kritik itu, Rowling berkilah bahwa Harry Potter memang bukanlah cerita anak-anak, sekalipun karakternya adalah anak-anak dan remaja. Secara sama, franchisor Sin Chan di Indonesia juga menyatakan bahwa Sin Chan bukanlah untuk konsumsi anak-anak sekalipun formatnya komik.

Apa hubungannya cerita komik, novel, film, cara penyampaian, kematangan ide, dan komentar super negatif? Persepsi.

Mungkin Anda sudah paham maksud saya. 240 juta penduduk Indonesia tentu memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Suatu produk akan menempati segmentasi pasar dan audiensnya sendiri. Majas hiperbola memang menarik dari segi bisnis media karena mengundang ketertarikan publik, tapi cara penyampaian konten itu sendiri, superimposisi dan jukstaposisi kata-kata dalam suatu artikel tanpa mengubah majas dan gaya bahasa dapat menggeser margin segmen pembaca.

Hasilnya? Pembaca yang kurang dewasa dengan mudahnya gagal menyikapi ide suatu tulisan yang juga dibuat sekenanya. Bahkan pada tulisan yang disunting profesional pun masih bisa terjadi mispersepsi emosi, apalagi pada tulisan yang asal-asalan.

Dengan kemudahan teknologi online, saya dan rekan-rekan ikut miris bahwa seseorang dengan mudahnya dapat membuat blog, dapat membuat posting yang tidak bertanggungjawab atau bahkan membuat hoax, dan dengan mudahnya mengaku wartawan online dari apanews.com atau ehem-news.com. Sangat disayangkan bahwa sampai hari ini kita masih dengan mudah menemukan artikel-artikel yang tidak ditulis mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik dan tidak mengindahkan muatan keanekaragaman budaya pembaca. Sebuah berita bisa menyulut emosi pembacanya bukan dari isinya saja melainkan juga cara penyampaiannya.

Tentu saja, dengan tidak menafikan bahwa kontrol emosi juga berkaitan dengan edukasi. Tetapi melalui tulisan ini, untuk saat ini, saya lebih memilih berfokus pada unsur dari artikel itu sendiri ketimbang juga ikut menyorot kualitas edukasi kontrol emosi masyarakat.

Tulisan ini sama sekali tidak mengatakan bahwa tulisan yang baik dan mengikuti kaidah umum akan terbebas dari aksi vandalisme. Sama sekali tidak. Seperti ada di dunia nyata sekalipun, begundal ada di mana-mana, bahkan mungkin yang paling dekat tinggal di belakang rumah saya.🙂 Analoginya seperti memakai perhiasan ketika menghadiri kondangan atau acara resmi di Ibukota. Kalau datang dari rumah ke tempat acara naik mobil pribadi, secara umum lebih aman daripada kalau jalan kaki atau naik bis kota.

Dan saya berterima kasih pada semua pembaca blog saya atas semua komentarnya yang santun.🙂

It’s good to be back.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2012 in Sosial

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: